Anggota DPRD Matra Ikram Ibrahim saat mengikuti pertemuan di Kantor Desa Motu terkait pembanguan pasar, beberapa waktu lalu. (Foto: Arham Bustaman)

TRANSTIPO.com, Pasangkayu – Wacana pemerintah daerah membangunan pasar Motu, Kecamatan Baras, Kabupaten Mamuju Utara (Matra) menuai polemik di tengah masyarakat.

Pasalnya, rencana biaya yang disiapkan pemerintah daerah bersumber dari APBN 2018 sekira Rp 6 miliar masih simpang siur karena belum ada kepastian dari pemda.

Bahkan sebelum adanya kepastian, warga Desa Motu khususnya yang sementara menempati pasar sudah mengusulkan agar model bangunan pasar multiguna yang dapat berintegrasi dengan hunian selain berfungsi utama tempat menjual.

Anggota DPRD Matra Ikram Ibrahim, yang hadir di tengah warga berharap agar pemerintah desa dan warga Motu memahami rencana pemda.

Meski demikian, ia meminta agar pemerintah desa dapat menggunakan anggaran desa untuk merenovasi bangunan yang ada sambil menunggu kepastian.

“Melihat kondisi fisik bangunan pasar yang sudah termakan usia, menurut saya memang sudah pantas untuk dibangun. Namun, bila belum pasti maka anggaran desa bisa digunakan untuk renovasi,” kata Ikram.

Plt. Ketua PPP Matra itu menambahkan, pembangunan pasar sangat penting, namun perlu analisa mendalam bila berencana membangun pasar yang lebih representatif berdasarkan faktor geografis dan membutuhkan biaya cukup besar.

ARHAM BUSTAMAN

TINGGALKAN KOMENTAR