Kepala BNN Sulawesi Barat (kedua kiri) beri paparan saat jumpa pers di Kantor BNN Sulawesi Barat, Mamuju, Senin, 18 September 2017. (Foto: Risman Saputra)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Salah satu penghancur masa depan generasi muda di Indonesia, pula di Provinsi Sulawesi Barat, yaitu obat-obat terlarang.

Badan Narkotika Nasional (BNN) Sulawesi Barat kerjasama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Mamuju, Sulawesi Barat, menggelar jumpa pers (press release) dalam hal peredaran gelap operasi obat dafrat G di Sulawesi Barat.

Jumpa pers ini dilaksanakan di Kantor BNN Sulawesi Barat, Jalan Yos Sudarso Nomor 95, Mamuju.

Dipaparkan, telah ditemukan obat-obatan terlarang daftar G, seperti Tramadol sebanyak 14 ribu butir, Trihexyphenidyl sebanyak 165 ribu butir. Total obat terlarang daftar G itu sebanyak 179 ribu butir.

“Obat terlarang untuk dafrat G sebanyak 179 Butir, ditambah uang Rp. 61.355.000. Ada juga ditemukan kartu anjungan tunai mandiri (ATM), buku tabungan bank yang isinya belum diketahui jumlah isinya,” jelas Kepala BNN Sulawesi Barat Brigjen Pol Dedi Sutarya.

Brigjen Pol. Dedi Sutarya mengatakan, informasi ini sudah lama diketahui, sudah sekitar satu bulan yang lalu.

“Kami dapat keluhan langsung dari ibu Wakil Gubernur Sulawesi Barat, yang menyebutkan bahwa anak-anak sekolah dan generasi muda kita menggunakan obat-obatan daftar G,” urai lelaki dari kepolisian berbintang satu itu.

Dengan aduan itu, kata Dedi Sutarya lagi, kami kemudian mengadakan penyelidikan bersama dengan BPOM Mamuju, dan “Alhamdulillah membuahkan hasil dengan berhasil mengamankan sebanyak 179 ribu butir obat-obat terlarang daftar G. Obat itu siap diedarkan di Sulawesi Barat dan uang sejumlah Rp 61 juta lebih.”

“Pengamatan saya, mungkin ini yang terbesar secara nasional karena jumlahnya ribuan butir. Ini kami dapatkan di Polewali Mandar, tepatnya di Kelurahan Pappang, Kecamatan Campalagian,” jelas Dedi Sutarya.

Dedi Sutarya ceritakan, barang haram itu berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Dari ‘seseorang’ kirim ke kurir di Polewali Mandar. Barang itu diedarkan di Sulawesi Barat, hingga puncaknya pada tahun baru nanti.

Pada 15 September lalu, pihak BNN—bersama BPOM Mamuju tentunya—berhasil gerebek pengedar sekalian barang bukti itu berkat informasi dari masyarakat.

Pelakunya, masih cerita Dedi, berjumlah empat orang: FD (26) yang berperan sebagai bandar dan pemasok barang, CC (27) berperan sebagai penyimpan barang atau kurir, Al (17), dan AN (22).

Tapi berdasarkan penyelidikan dari BNN dan BPOM, oknum berinisial AL dan AN itu tidak terbukti.

“Setelah penyedidikan, dari empat orang ini, kami tetapkan dua orang sebagai tersangka dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda uang sebesar Rp 1,5 miliar,” kata Brigjen Pol. Dedy Sutarya.

Di ujung paparannya, Dedy Sutarya berpesan agar orang tua, guru, dan seluruh masyarakat Sulawesai Barat lebih intens menjaga anak-anaknya agar terhindar dari obat-obatan terlarang.

RISMAN SAPUTRA

TINGGALKAN KOMENTAR