Pembukaan Pelatihan Wartawan Sulawesi Barat 2018 dilaksanakan oleh BI Sulawesi Barat kerja sama PWI dan AJI, dilaksanakan di d’Maleo Hotel & Convention Mamuju, Kamis 26 April 2018. (Foto: Sarman SHD)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Pelatihan Wartawan Sulawesi Barat 2018, dilaksanakan di Ruang Camar, d’Maleo Hotel & Convention Mamuju, Kamis, 26 April 2018. Dimulai tepat pukul 09.45 Wita.

Pelatihan ini dilaksanakan oleh Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Barat, dan didukung oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawewi Barat dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Mandar.

Peserta pelatihan adalah wartawan atau jurnalis utusan dari sejumlah perusahaan media massa—cetak, elektronik, da portal online—yang ada di Provinsi Sulawesi Barat, berjumlah 35 orang.

Gelaran pembukaan diawali baca Doa dari pihak BI Perwakilan Sulawesi Barat. Lalu dilanjutkan sambutan: wakil dari PWI Sulawesi Barat dan AJI Kota Mandar.

Sambutan pertama oleh Anhar Toribaras, persiapan koordinator AJI region Manakarra. Kemudian oleh Sulaeman Rahman, Ketua Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) PWI Sulawesi Barat.

Berikutnya, sambutan Kepala BI Perwakilan Sulawesi Barat Dadal Angkoro, sekaligus membuka pelatihan ini.

Dalam sambutan singkatnya, Anhar sampaikan wartawan atau jurnalis mesti bekerja dengan memedomani tiga hal penting: Kode Etik Jurnalistik (KEJ), UU Pers, dan Kode Perilaku.

Sulaeman Rahman, mengulas secara mendalam tentang mengapa wartawan dituntut profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai pekerja pers.

Seorang wartawan, sebut Sulaeman Rahman, mesti bisa membedakan mana karya media pers dan mana informatif yang bersumber dari media sosial (medsos).

Karya pers, sambung Sulaeman, itu diproduksi dari ketentuan-ketentuan yang jelas: ada proses perencanaan, pemilihan topik, penugasan wartawan, peliputan, hingga proses editing dan kemudian menjadi bahan bacaan.

“Sedangkan informasi di media sosial itu tidak bisa disebut karya pers. Nilai kebenarannya pun sulit dipertanggungjawabkan. Jika ada wartawan yang menjadikan isi di media sosial sebagai sumber berita, itu keliru. Kecuali, jika yang bersangkutan coba mengkonfirmasi pembuat informasi atau pemilik berita di medsos itu,” jelas Sulaeman Rahman.

Perihal pemilihan topik layak muat di media itu juga ada proses pemilihan atau penentuannya, ya, itu ada dalam forum yang namanya rapat redaksi. “Berita rilis itu buka wajib dimuat di media kita bekerja,” katanya.

Sementara, Dadal Angkoro menyampaikan bahwa tujuan pelatihan ini agar wartawan atau jurnalis di Sulawesi Barat bisa memahami betul ruang lingkup ekonomi sebelum menjadi bahan tulisan.

Dampak positifnya apa? Katanya, ketika cakupan pemahaman atau penulisan tentang dunia ekonomi makin bertambah mantap, maka masyarakat Sulawesi Barat juga ikut terbantu mengetehui lebih jauh kondisi ekonomi yang sesungguhnya.

Sebelum menutup sambutannya, Dadal Angkoro tak lupa berterima kasih kepada AJI dan PWI di Provinsi Sulawesi Barat ini.

“Saya berterima kasih atas sambutan dua lembaga besar di bidang pers ini bersedia kerja sama laksanakan pelatihan wartawan atau penulisan ekonomi ini,” kata Dadal.

Pemateri pelatihan ini datang dari Jakarta. Dia adalah Ahmad Buchori, salah satu redaktur senior LKBN Antara.

ARISMAN SAPUTRA/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR