AJI Kota Mandar sedang rapat di Kantor Harian Radar Sulbar, Mamuju, akhir pekan lalu. (Foto: Net.)

Goenawan Mohamad, Aristides Katoppo, Mochtar Pabottinggi, dan sejumlah jurnalis senior lainnya dirikan lembaga baru tempat berhimpun jurnalis Indonesia.

Pada 7 Agustus 1994, mereka berkumpul di puncak Sirnagalih, Megamendung, Bogor, Jawa Barat, untuk melahirkan satu lembaga berhimpun pers yang reformatif, bebas, profesional, dan independen.

Deklarasi Sirnagalih itulah lahir Aliansi Jurnalis Independen (AJI)—wadah berhimpun jurnalis Indonesia yang tak takut dan takluk pada Orde Baru.

Perlahan tapi pasti, seiring umur reformasi, AJI kian menggurita hingga ke pelosok negeri.

Di Sulbar, PWI dan AJI bukan semata bertambahnya ‘kop surat’. Tapi lebih dari itu, tempat berhimpunnya Pers daerah—ujung sekian penggerak satu pilar dalam demokrasi modern.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Pada 1997 misalnya, wartawan AJI di Jakarta tak dibolehkan menumpang mobil milik perusahaan media yang perusahaan media itu melarang mempekerjakan wartawan yang bergabung di AJI.

Hal ini sejalan dengan ‘instruksi’ PWI DKI Jaya—kala itu—yang melarang perusahaan media menerima wartawan dari AJI. Tapi, ketika itu, sejumlah media alternatif tumbuh secara perlahan. Di situlah wartawan AJI menyalurkan profesinya sebagai wartawan.

Di masa AJI tertekan, banyak lembaga penerbitan buku di Jakarta—pula di luar negeri—menjadikan AJI sebagai sumber tenaga yang utama lahirnya buku-buku baru, yang justru kian menggerus pondasi dan benteng Orde Baru.

2017 ini, AJI Kota Mandar menggeliat di tangan Muh. Ridwan Alimuddin—lelaki Mandar yang paling berenergi dalam menulis buku dan aktifitas literasi di Sulbar belakangan.

Akhir pekan lalu, Minggu dan Sabtu, AJI Kota Mandar rapat kerja (Raker) di Mamuju. Postingan foto-foto personil AJI menghiasi layar medsos. Di seberang sana, di Rangas baru, Pemprov Sulbar menyusun langkah.

Selasa ini, laman ini bercakap-cakap melalui whatsapp dengan Maenunis Amin, Tenaga Ahli Gubernur Sulbar. “Diharap AJI Kota Mandar lebih partisipatif terhadap Pemprov Sulbar,” Maenunis membukanya.

Maenunis Amin (MA), apresiasi langkah AJI Kota Mandar yang telah gelar Raker. Tentu atas nama institusi tempatnya berkantor berharap, AJI Kota Mandar bisa berperan aktif dalam meningkatkan kinerja Pemprov Sulbar.

“Kami ucapkan selamat kepada AJI Kota Mandar yang usai menggelar Raker. Kami juga berharap, aliansi teman-teman media yang tergabung dalam AJI berkenan memberikan kontribusi terbaiknya terhadap perbaikan dan peningkatan kinerja Pemprov Sulbar,” tulis Maenunis, menyambut.

Maenunis juga Penulis. Katanya, hasil konsultasinya dengan pimpinannya di  gubernuran, akan mendesain program komunikasi (kerjasama, red) antara media dan Pemprov Sulbar.

Maenunis paham betul substansi dan koridor independensi lembaga: AJI dan PWI, misalnya. Karena itulah ia jelaskan secara jujur:

Pertama, Kami ingin tekankan bahwa AJI tentu memiliki aturan internal yang ketat untuk menjaga independensi dan profesionalitas lembaga. Sementara Pemprov Sulbar memiliki formalitas administratif.

Kedua, Kemitraan yang dibangun adalah semangat partisipatif. Pak Gubernur ingin teman-teman AJI kawal aktif peningkatan kinerja Pemprov. Dua sisi inilah yang masih perlu dicarikan solusi komunikasinya—katakanlah titik temunya.

Analisis MA benar saja. Dalam hematnya itu bisa disimplikasi bahwa AJI—juga PWI tentunya—adalah lembaga ‘bukan penghancur’. Selalu ada jalan mencari kemajuan semua lini di daerah ini.

MA berharap, kedua lembaga bisa saling berdiskusi untuk sejumlah item yang dianggap krusial. Katanya, kepada sejumlah personil AJI sudah pernah bertemu dan diskusi tanpa terencana.

“Kami dapat beberapa gambaran dan masukan terkait langkah apa yang bisa dilakukan. Kita tinggal tunggu waktu diskusi formalnya, entah kami yang undang atau kami yang diundang,” kata MA lagi.

Selanjutnya, pertanyaan dilayangkan via whatsapp kepada Muh. Ridwan Alimuddin, Ketua AJI Kota Mandar periode 2017–2019. Tentang kontribusi AJI kepada pemerintah, tentang pengembangan kapasitas AJI, dan tentang upaya bangunan SDM wartawan AJI ke depan.

“AJI lebih ke peningkatan kapasitas anggota, khususnya dalam penegakan Kode Etik Jurnalistik. Itu langsung atau tidak langsung berkontribusi ke pembangunan,” tulis Ridwan Alimuddin kepada laman ini.

Sebagai petutup, Penulis dan pejuang literasi di Mandar ini tak lupa beri petunjuk: “Bisa dibuka-buka juga www.ajikotamandar.or.id.” Dari portal halaman inilah, laman ini ‘copy paste’ sejumlah foto.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR