Anhar Toribaras, Ketua IPMA Matra, beri sambutan dalam HAUL Ipma ke-10 di Wisma Tamborang, Mamuju, Kamis malam, 3 Agustus 2017. (Foto: Zulkifli)

Organisasi daerah (Organda) IPMA Matra nilai Pemkab Matra tak perhatikan organisasi mahasiswa yang berkedudukan di Mamuju—ibukota Provinsi Sulbar.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Ikatan Pelajar Mahasiswa Mamuju Utara (Ipma Matra) memeringati hari jadinya yang ke-10 di Wisma Tamborang, Mamuju, Kamis malam, 3 Agustus 2017, di Mamuju.

Haul Ipma Matra dirangkaikan dengan temu wicara, tema, “Peran dan Upaya Pemerintah dalam Membangun Generasi Muda Mamuju Utara”. Pematerinya datang dari DISPOP Pemprov Sulbar dan Ketua KNPI Mamuju, Selvi Febrianti.

Anhar Toribaras, salah satu Dewan Pendiri Ipma Matra di Mamuju, membuka acara ini. Dalam sambutannya, ia mengisahkan suka dukanya tatkala mendirikan organisasi daerah dari utara ini.

“10 tahun lalu dimulai musyawarah pertama. Tahun 2005 adalah awal berdirinya organisasi ini, yang hari ini disebut Ipma Matra. Sejak 2005 sampai 2007, di situlah proses yang sangat berat bagaimana Ipma Matra mencari identitas, diakui Pemkab Matra lalu dapat fasilitas Asrama. Kita sadari dalam prosesnya tidak muda. Bahwa kemudian ada dinamika sehingga pecah dua kongsi. Alhamdulillah, kita bertemu, bicara soal semangat membangun Mamuju Utara,” kisah singkat Anhar di awal sambutannya.

Menurut lelaki Bambaloka ini, berdirinya Ipma Matra memiliki angka yang luar biasa. Angka dimaksud adalah, tepat tanggal 7 Juli 2007 dan tepat jam 7 pagi sebagai awal terbentuknya Ipma Matra.

“Sebuah angka yang luar biasa menurut saya sehingga Ipma Matra ini bisa sampai 10 tahun. Tepat tanggal 7 – 7 – 2007 dan jam 7 pagi kita merangkak jadi sebuah organisasi,” kata Alumnus Untad, Palu, Sulteng, ini yang kini tengah menggeluti bisnis media di Mamuju.

Kekecewaan Ahar juga teruntai, ketika ia bilang di hadapan pengurus dan tamu undangan dari OKP lainnya yang hadir di tempat acara.

“Malam ini sesungguhnya kurang lengkap karena tidak ada wakil pemda, tidak ada DPR kita. Dalam hati saya sangat kecewa. Malam ini menegaskan bahwa, kawan-kawan mau marah silahkan, pemerintah daerah kita di Matra itu tidak ada perhatian pada Ipma Matra,” ketus Anhar.

Dirinya berharap di acara hari jadi Ipma Matra yang ke-10 ini, eksekutif dan legislatif Matra seharusnya hadir untuk memberi motivasi kepada Pengurus Ipma Matra di Mamuju.

“Mohon maaf saja kalau saya sebut namanya. Bupati kita, Agus Ambo Djiwa, itu hidup, besar, dan selesai di asrama. Orang yang membesarkan sebuah kelompok pelajar dan mahasiswa sehingga beliau bisa duduk menjadi bupati. Tapi sampai hari ini nonsense mendukung Ipma Matra di Mamuju ini,” tegas wartawan Sulbar ini yang kini Tenaga Ahli DPRD Sulbar.

Selama ini Anhar begitu kukuh membangun lembaga mahasiswa ini. Entah apa pun caranya. Tapi seolah ia jalan sendiri, tanpa ‘bapak angkat’ alias Pemkab Matra.

“Yang namanya anggota DPR kita yang di Matra itu, itu semua pernah hidup dan besar di organisasi daerah seperti ini. Tapi omong kosong, semua hanya bicara soal keberpihakan generasi muda seperti kawan-kawan ini. Sungguh hari ini, saya berani bicara di hadapan mereka. Biar mereka tahu saya tidak bicara di belakang,” tegas direktur salah satu portal berita online di Mamuju ini.

Anhar berharap, dengan kehadiran pihak eksekutif dan legislatif Matra dapat mengingat kembali betapa susahnya mendirikan sebuah organisasi.

“Biar mereka juga bernostalgia, bahwa dulu begitu susahnya membangun sebuah organisasi daerah menjadi sebuah tempat belajar buat teman-teman. Menjadi tempat silaturahmi semua kawan. Bagaimana kemudian membangun solidaritas, membangun kekeluargaan. Tapi ini tidak terjadi,” kata Anhar, kecewa.

Ia juga berpesan di hari jadi Ipma Matra ini, Pengurus Ipma Matra di Mamuju meski berani mengambil sikap.

“Malam ini, Ipma Matra sudah 10 tahun. Sudah saatnya berani mengambil sikap. Saya kira, ketidak berpihakan Pemkab Matra terhadap Ipma Matra bukan tanpa alasan. Sejak berdirinya sampai hari ini, kita tidak pernah memihak siapa pun. Tidak pernah mendukung siapa pun. Secara kelembagaan, kita tetap netral. Terhadap persoalan-persoalan daerah tetap dikritisi. Sehingga itulah kemudian pemerintah kita kurang senang dengan kita. Itu bisa dilacak sejarahnya,” urai Anhar.

Anhar lalu berharap, kepada pengurus Ipma Matra di Mamuju, dengan banyaknya persoalan serius di Matra, dirinya minta tetap kritis. Tidak memihak kepada Parpol serta tidak memihak terhadap hal yang tidak benar.

“Banyak persoalan yang menunggu kawan-kawan: limbah, konflik agraria, dan—yang mencengangkan—ketika Opa tidak bisa makan, bayi busung lapar, dan rumah reok. Tapi pemerintah kita beli mobil Alphard—mobil mewah. Padahal mobil dinasnya masih bagus,” kata mantan LSM ini.

Ia minta, “Ini harus jadi perhatian kita. Bahwa Ipma Matra di Mamuju ini tidak terlepas dari pemerintah, ya, tapi bukan berarti bisa diatur. Kita tetap kritis terhadap berbagai persoalan. Kita akan tetap memberikan masukan buat mereka,” tutup Anhar siap beri solusi.

ZULKIFLI

TINGGALKAN KOMENTAR