Pembanguan Jembatan Paniki Bonda di Kecamatan Papalang, Kabupaten Mamuju. (Foto: Istimewa)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Kini masyarakat sudah pintar mengadu langsung, salah satunya ke media daring. Paradigma lama perlahan mulai bergeser: dari komat-kamit di tempat saja bersama warga sekampung hingga sekadar mencari pembenar sepihak—sejurus dengan itu mencari yang salah di pihak lain pula.

Pekan ini deringan telepon datang secara beruntun dengan mengabarkan segala rupa kejadian dan yang tampak di kampung-kampung mereka, salah satunya bangunan pemerintah berupa Jembatan Paniki. Jembatan ini terdapat di Desa Bonda, Kecamatan Papalang, Kabupaten Mamuju.

Yang melapor ke laman ini tak percaya diri memasang tampangnya di jalur panggilan aplikasi WhatsApp. Tapi meski begitu, informasinya valid ditambah dengan kiriman gambar yang terang benderang: iya, jembatan itu, yang masih menganga ke angkasa.

Hanya satu identitas yang ia kesankan ke laman ini, yakni dirinya mengaku pegiat sosial masyarakat di segala kampung, di Mamuju dan provinsi ini. Inisialnya, tertutup.

Saya tak pendek akal. Untuk memecah prasangka dan praduga seadanya bahwa apakah ini pura-pura pemborong yang dikalahkan saat tender lalu, atau bukan.

Pembanguan Jembatan Paniki Bonda di Kecamatan Papalang, Kabupaten Mamuju. (Foto: Istimewa)

Singkat kata, pada Minggu, 20 Juli lalu, saya konfirmasi langsung ke Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mamuju Salihi Saleh (50an tahun).

Meski sudah saling mengatur waktu untuk bertemu, acapkali berbenturan dengan agenda yang membuat tak bisa bertemu—terutama, tentunya beliau yang sibuk di kantor dan di luar kantor. Tapi untungnya, Salihi Saleh disiplin menyahuti panggilan setiap kali saya kontak, menjawab pertanyaan di WhatsApp juga tak dilewatkan secara detail.

Pada Selasa pagi, 23 Juli 2019, di ujung telepon Salihi Saleh menjawab segala pertanyaan yang saya ajukan.

“Itu tidak mangkrak pak,” kata Salihi Saleh sembari tertawa pendek.

Salihi bilang bahwa jembatan di Bonda itu memang dikerjakan untuk dua tahun, 2018 dan 2019. “Pekerjaan bagian bawah itu baru tahap pertama dan tahap kedua bangunan atas,” ujarnya.

Pembanguan Jembatan Paniki Bonda di Kecamatan Papalang, Kabupaten Mamuju. (Foto: Istimewa)

Pada papan proyek terang tercantum nama paket pekerjaan: Pembangunan Jembatan Paniki Bonda. Sumber dana dari Dana Alokasi Umum (DAU) tahun 2018 dengan jumlah anggaran Rp686.900.000. Waktu pekerjaan selama 80 hari kalender yang dikerjakan oleh CV Gayatri.

Menurut Salihi, jembatan itu dikerjakan sesuai desainnya. “Jadi pekerjaan yang dikerjakan itu berdasarkan hasil desain konsultan,” katanya.

Mengenai secara kasat mata hasilnya masih begitu, tampak seolah proyek gagal, Salihi punya penjelasan.

“Tahun 2018 atau tahun pertama, ya, itulah hasilnya sekarang. Sementara ini dalam proses lelang untuk tahap kedua,” terang Salihi. Dan, ia lupa berapa total anggaran untuk pembangunan tahap kedua pada jembatan itu.

Meski Salihi Saleh janji saya untuk beri data terkait anggaran pada nilai lelang di tahap kedua ini, tapi saya sudah tak mengonfirmasinya.

Beberapa menit yang lalu, Salihi Saleh tambahkan melalui WhatsApp, “Tabe’ dana lanjutan pembangunan jembatan Paniki Bonda Rp800 juta.”

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR