Kasat Reskrim Polres Mamuju Ade Candra (kanan) sedang sampaikan buah-buah pikiran dan pengalaman saat rapat warga kerukunan Graha Nusa 2 Tahap II Simboro, Mamuju, Rabu malam, 19 April 2017. (Foto: sarman SHD)

Ade Candra: berbicara soal keamanan, sebetulnya setiap orang bisa jadi polisi. Ya, paling tidak polisi untuk diri sendiri atau untuk keluarga. Aplikasinya apa? Ya, kontrol rumah baik-baik, terutama jika di malam hari, atau pasang pengaman yang dianggap perlu.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Dulu, atau katakanlah sebelum tahun 2008, dalam kawasan Graha Nusa saat ini, sejatinya laiknya sebuah kawasan yang tak bertuan. Yang tampak secara kasat hanya semak belukar. Di sepanjang lahan rawa-rawa ini ditumbuhi pohon nipa.

Konon, makhluk pemangsa pun kerap menyelinap di akar-akar pohon yang telah merayap ke tanah. Dus, lokasi Graha Nusa ini—tempo dulu tentunya—tak sudihlah orang ke sini. Daerah angker, boleh juga disebut begitu. Tapi lain dulu lain sekarang.

Kini—berkat sentuhan tangan cekatan sosok Marten Sempo, yang tentu pula lantaran topangan pundi-pundinya—lahan yang beberapa hektar ini berubah bak laron-laron. Ia diminati, diburu, bahkan rela antri untuk sekadar beroleh daftar tunggu untuk bisa memiliki sepetak pekarangan yang di atasnya berdiri rumah full design yang artistik.

Sebulan lebih lalu, kilauan lampu mercuri kian semarak saja di Graha Nusa itu, terlebih karena Graha Nusa 2 Tahap II telah resmi dihuni oleh warga pemiliknya. Nah, dengan waktu yang sudah cukup untuk sekadar pandang-pandang, maka datanglah inisiatif Budianto—jadi Ketua RT kemudian—dan Doktor Junda Maulana—digadang-gadang jadi penasehat warga perumahan baru.

Inisiatif dimaksud adalah rapat bersama seisi warga perumahan. Maka, pada semalam, tepat pukul 20.00 wita, rapat berlangsung—hingga dua jam lebih kemudian.

‘Tudang sipulung’ warga di Perumahan Graha Nusa 2 Tahap II, Simboro, Mamuju, semalam itu dipandu oleh Andi Hidayah Arif—biasa disapa Yaya. Perempuan berjilbab tinggi semampai ini adalah ASN di Pemprov Sulbar. Kini telah pula jadi warga asli di perumahan ini.

Berbekal sebagai pejabat kehumasan dan protokoler kala masih di Pemkab Polman dulu, tak salah ketika Ketua RT dan Junda Maulana daulat dia jadi MC (master ceremony). Tak hanya suaranya terdengar di sela jalannya acara, beberapa lagu pun ia sumbangkan di tengah sekalian warga pada semalam itu.

Rapat semalam itu, ada empat tokoh yang beri sambutan. Dimulai dari Ketua RT Budianto tentunya, lalu ‘penasehat’ Junda Maulana, ibu Lurah Simboro, dan Bhabinkamtibmas Simboro Brigpol Hasanuddin. Termasuk pula Kasat Reskrim Polres Mamuju Ade Chandra—salah seorang penghuni tetap perumahan baru ini.

Budianto, yang sejak awal hingga akhir kerap selingi lelucon, kaca matanya tak pernah berubah: terus melorot, nyaris jatuh tapi tertahan di batang hidungnya yang mancung. Budi banyak beri masukan untuk warganya ini. Termasuk kesiapannya melayani warga sepanjang waktu.

“Jika ada apa-apa telpon atau sms saja, pasti saya datang. Tapi kalo saya miskolki bapak-bapak dan ibu, itu pertanda saya tak punya pulsa,” katanya jujur disambut tawa lepas.

Junda Maulana seolah menjadi ‘tumpuan’ warga. Ia layak dituakan. Dari reputasinya di birokrasi telah menjaminkan untuk ‘tumpuan’ itu. Alumni STPDN. Mantan Kepala Bappeda Mamuju, dan kini naik kelas: Kepala Bappeda Sulbar. Tapi sebelum ke ‘Rangas baru’, Junda terlebih dulu ke Topoyo—selama setahun di sana sebab Mendagri mengangkatnya sebagai Penjabat Bupati Mamuju Tengah (Mateng).

“Kita telah sepakat semua bahwa iuran sebanyak Rp 90 ribu setiap kk dari 127 rumah di perumahan ini. Rp 90 ribu itu terinci: Rp 70 ribu untuk honor keamanan/security, Rp 15 ribu untuk ‘dana segar’ RT, dan Rp 5 ribu untuk jasa angkutan sampah. Kita juga perlu bikin pintu gerbang di depan perumahan kita, tapi yang mendesak perlu dipasang portal,” urai Junda Maulana.

Masih Junda—sebagai tuan rumah di rapat pertama ini—di bagian belakang perumahan kita perlu dipasang kawat duri. “Ini aman, tak bisa dipanjati apalagi mau dilompati pencuri, jika memang ada. Mengenai pembentukan kelompok dasa wisma dan panitia pembangunan Masjid akan kita tuntaskan di rapat berikut,” urai Junda lagi.

Ibu Lurah Simboro sampaikan mengenai program andalan Pemkab Mamuju di bawah Habsi – Irwan. Mamuju Mapaccing. “Ini perlu kita dukung bersama, agara target Mamuju dapat Piala Adipura,” kata ibu lurah itu.

Apalagi, katanya, beberapa waktu lalu telah dibuat strategi baru dengan membentuk kelompok swadaya masyarakat (KSM) sebagai Pilot Project (proyek percobaan) yang dimulai di enam titik, salah satunya Graha Nusa di Kelurahan Simboro, Mamuju. “Jadi saya berharap warga Graha Nusa bisa pertahankan dan terus ditingkatkan kebersihan lingkungan,” kata perempuan berjilbab ini.

Bhabinkamtibmas Simboro Brigpol Hasanuddin bero garansi untuk diri dan pengabdiannya di Simboro. “Saya pak, ibu, 24 jam siap sedia melayani warga di sini. Saya sudah pasang stiker di Pos Satpam, ada nomor telepon saya di situ. Silahkan telpon atau sms jika adalah masalah pasti saya datang. Saya tak sendiri sebab dari TNI atau Babinsa juga bertugas di sini,” kata Hasanuddin.

Ade Candra, jabatannya saat ini Kasat Reskrim Polres Mamuju, tapi ia adalah warga Graha Nusa 2 Tahap II. “Saya baru pulang ibadah Umroh. Sebetulnya saya ada tugas malam ini tapi rapat ini saya pandang teramat penting, makanya saya hadir. Saya usul agar pagar di belakang betul-betul jadi perhatian kita, termasuk pintu masuk harus dipasang portal,” urai Ade.

Kasat Ade barulah setahun bertugas di Mamuju, sebelumnya di Medan dan Jakarta. “Saya bersyukur bisa tinggal di Graha Nusa ini. Makanya, saya sangat concern pada keamanan perumahan. Rasa aman itu mahal pak, jaminannya ya lingkungan harus aman. Sebetulnya setiap orang bisa jadi polisi, paling tidak untuk dirinya sendiri dan keluarganya,” urai Ade Candra. Masih banyak yang diusulkan, dan ke ke depan akan dibicarakan secara tuntas.

Satu keistimewaan rapat perdana di perumahan ini sebab dua ketua RT tetanggga, yakni Ketua RT Graha Nusa I dan Ketua RT Graha Nusa 2 hadir dalam rapat. Termasuk—khususnya Ketua RT Graha Nusa I—banyak beri masukan dalam rapat itu.

Iringan orkestra untuk dua lagu jadi penutup: dari ibu Lurah Simboro dan Andi Hidayah Arif. Rapat berakhir setelah Doktor Junda Maulana menutupnya secara resmi.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR