Atal S. Depari (kedua kiri, sedang bicara) bersama 15 wartawan senior Sulawesi Barat di Warkop 89 Mamuju, Rabu malam, 13 September 2017. (Foto: Sarman SHD)

Kehadiran Atal S. Depari seolah penghibur di tengah gerimis membasahi kota Mamuju.

Terasa dingin memang, tapi semalam itu geliat kota tampak seperti biasanya: banyak orang berseliweran—salah satunya menuju warung-warung kopi pilihan tempat meneduhkan pikiran, menyambungkan sisa urusan siang, pula mempertegas diri sebagai ‘kaum sosialita’.

Ini sekadar bacaan ringan dari refleksi hasil obrolan seperempat malam yang ‘berkah’. Disebut begitu sebab beroleh ‘kursus kilat’ menulis dari Bang Atal.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Sumber tawa yang riang itu dari meja kecil yang dideret memanjang. Ada tiga buah meja yang tersambung jadi satu. Cukuplah ia dijejer 16 kursi mengitari meja yang tampak melingkar lonjong itu.

Dari lebih selusin kursi itu, duduklah para ‘punggawa’. Persis di bagian tengah—sebelah menyebelah—duduk dua sosok yang paling senior. Menyebut dituakan boleh juga.

Jika dipilah—sebutlah begitu—di sisi kiri tengah ada Atal S. Depari, dan di sisi kanan tengah duduk Haji Andi Sanif Atjo. Dua figur ini terbilang penting dalam jajaran Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Atal S. Depari, selain ‘tamu istimewa’ pada semalam yang dingin itu, ia pula ‘utusan khusus’ dari Jakarta, ibukota republik kita. Disebut begitu sebab Bang Atal—kami menyapanya semalam—adalah Ketua Bidang Daerah PWI Pusat.

Jadi kehadirannya di Mamuju, Sulawesi Barat, ini tentu berkaitan dengan jabatannya sebagai ‘pembina’ wartawan atau pengurus PWI di seluruh provinsi.

Andi Sanif Atjo, 69 tahun, adalah salah seorang wartawan senior di Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Lelaki Mandar ini, selain Ketua PWI Sulawesi Barat—hingga kini, secara de facto—juga telah dianggap sebagai mentor bagi wartawan-wartawan lainnya, terutama bagi kalangan muda.

Beliau pula telah dianggap orang tua dalam profesi kita sebagai wartawan,” kata Anas Makkarumpa pada sebuah waktu beberapa tahun lalu.

Di Warkop 89 Mamuju itu, tempat 16 wartawan dari PWI diskusi ringan, Bang Atal sebetulnya datang membawa misi penting. Jika ditarik kesimpulan, ada tiga hal yang penting itu.

Pertama, tentu silaturahmi dengan wartawan yang ada di Sulawesi Barat. Kedua, melihat dan mendengar langsung kondisi kekinian kepengurusan PWI Sulawesi Barat.

Ketiga, ini yang super penting, yakni menegaskan kepada pengurus terakhir PWI Sulawesi Barat bahwa paling lambat 30 hari ke depan harus dilaksanakan Konferensi Cabang (Konfercab) PWI Sulawesi Barat.

Dan, soal Konfercab ini, tentulah akan melahirkan konsekuensi baru dalam kapasitas yang baru pula. Dan, Alhamdulillah, buah kehadiran Bang Atal adalah ketua panitia Konfercab PWI Sulawesi Barat 2017 telah ditunjuk, Mursalim Madjid namanya. Dia wartawan senior di daerah ini.

Kehadiran dua sosok: Haji Mustafa Kufung, salah seorang wartawan senior di bawah Media Fajar Group, Makassar, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, serta Adi Arwan Alimin yang tentunya tetap melekat secara pribadi sebagai anggota PWI, walau kini dia sebagai salah satu komisioner KPU Sulawesi Barat.

16 personil dalam kapasitas PWI yang berkumpul dan berbincang di semalam itu, adalah refleksi yang kian meyakinkan kita bahwa PWI Sulawesi Barat kini di ambang ‘gurita baru’ di daerah ini.

Dengan angan-angan yang besar itu tentunya, segala pesona dan, “militansinya, juga kecerdasannya,”—mengutip kata Bang Atal—akan digenggam.

Saya baru tiba di tengah-tengah posisi duduk yang melingkar lonjong ini sudah lewat jam 9 malam tadi. Itu artinya, sedari awal saya tak mengikuti ‘pembukaan’ obrolan.

Tapi seru-serunya ada di waktu dua jam sebelum bubaran, tiga jam sebelum tulisan ini dibuat. Dua jam lebih itu, Bang Atal menguliahi kami cara menulis yang baik, teknik menentukan angle berita, cara praktis bisa bertemu narasumber utama, dan sedikit menguji tata Bahasa Indonesia kami yang baik dan benar.

Dari banyak konteks ‘perkuliahan’ di atas, ada yang sudah lumrah bagi kami, ada pula yang benar-benar hal baru. Tapi, yang paling menyejukkan telinga kami adalah, ketika Bang Atal mengisahkan perjalanannya selama jelajahi puluhan kota-kota maju di belahan Eropa, Asia, dan Amerika.

Duhai enaknya, bukan dalam rasa di kerongkongan tentunya. Dan, asyik sekali. Canda dan tawa kami menjadikannya melebur jadi kian dekat saja.

Bang Atal, dari posturnya yang tampak kurus-kecil-kekar tapi lincah, asli sekali ‘bahasa ibunya’ sebagai anak Medan, Sumatra Utara.

Berkat bantuan mesin pencarian, google, ia diketahui kalau Bang Atal terlahir pada Senin, 4 Januari 1954. Ia pernah memimpin koran Sinar Indonesia, Jakarta. Dari kartu namanya tertulis Wakil Pemimpin Redaksi Harian Umum SUARA KARYA.

Ketua Bidang Daerah PWI Pusat Atal S. Depari (kiri) hadir di Mamuju, Sulawesi Barat, Rabu malam, 13 September 2017. (Foto: Sarman SHD)

Dari Database PWI Pusat, ia terdaftar sebagai Anggota PWI dengan nomor 09.00.0638.83. Ia sudah memegang kartu Uji Kompetensi Wartawan (UKW) sebagai lulusan wartawan utama dari Dewan Pers.

Ia sudah menikah. Di akun facebooknya, di sisinya tampak istrinya pakai jilbab. Perempuan pendampingnya ini ia persunting beberapa tahun lalu. Lelaki Atal suka tantangan. Ia tak sudi berlama-lama di zona nyaman.

Kini ia ikut kelola salah satu portal berita olahraga di Jakarta: Pemimpin Umum/Penanggungjawab www.sportanews.com. Makanya, dalam kepengurusan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), Atal S. Depari dipercaya sebagai Dewan Penasehat.

Lembaga berhimpun media Siber ini didirikan oleh sejumlah pemilik dan pengelola media Siber di Jakarta—dan dari beberapa provinsi di Indonesia—pada April 2017. Kini, atau sejak 8 September 2017, SMSI telah resmi terdaftar di Dewan Pers.

Sebagai penutup sajian pendek yang sederhana ini, Bang Atal ingatkan kami: “Dalam berita selalu ada cerita.” Bikinlah tulisan feature—berita kisah. Hal-hal kecil, yang tak penting mungkin, jika diolah secara asyik, pasti menarik dibaca.

Jika tak ada aral, tinggal hitungan jam Bang Atal akan terbang ke Jakarta. Penerbangan pertama, Kamis pagi dari Bandara Tampak Padang, Mamuju, dan akan transit di Makassar.

Siangnya, kendaraannya sudak meliuk di Simpang Susun Semanggi, kota dunia Jakarta. Hari Baru telah tiba.

Di Sulawesi Barat, kita punya pekerjaan rumah bersama.

Tabe’

SARMAN SAHUDING

TINGGALKAN KOMENTAR