Buhari Kahar Mudzakkar. (Foto: TribunLuwu.com/Net.)

Khaeruddin Anas namanya. Pada semalam itu, ia salah seorang yang sibuk di ruang berpendingin nan besar itu.

Sesekali ia menyondongkan badannya keluar di pintu ballroom. Kepalanya sedikit memutar ke kanan. Pandangan matanya tertuju ke tempat parkir. Kalau-kalau tamu ‘khusus’ yang ditunggunya telah tiba.

Rupanya Ali Baal Masdar, Gubernur Sulbar. Tepat jam 8.10 wita, semalam, ketika ‘sang tuan’ tiba dan memasuki ruangan tempat acara, tampak benar Khaeruddin Anas sedikit membukkukkan badan sembari menyorongkan lengan kanannya, lalu terjadilah jabat tangan itu.

Pamong senior di Pemprov Sulbar ini berjalan sedikit di belakang Ali Baal dengan mengiringnya menuju tempat duduknya. Di Sana, Buhari Kahar Mudzakkar berdiri dan cipika cipiki dengan Ali Baal.

Acara dimulai.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Dalam Wikipedia, episentrum adalah suatu titik di permukaan bumi, tepat di atas pusat gempa yang terjadi di dalam perut bumi. Daerah ini mendapat goncangan paling hebat saat terjadinya gempa dan biasanya menimbulkan kerusakan paling parah.

Di sini, dari sejak kemarin hingga hari ini, tak ada gempa. Pula, di Ballroom d’Maleo Hotel & Convention Mamuju, semalam, atau Kamis, 23 November 2017, Buhari Kahar Mudzakkar tak sekali pun bicara tentang gempa.

Hanya memang, ia sempat menyebut kata episentrum—tepatnya, seperti judul di atas. Karena ia bicara seputar paguyuban atau komunitas warga Luwu Raya di tanah Mandar (baca: Sulbar), maka makna episentrum itu tentu sosial, pula politik.

Jadi, episentrum komunal di tanah Kedatu’an Luwu bisa dimaknai Palopo sebagai barometer atau pemegang peran penting kondisi sosial politik di tanah Luwu, Sulsel.

Jika ini kurang tepat, tentu Buhari Kahar Mudzakkir sudah punya ‘segudang’ penjelasan—jika ia ditanya seputar ini.

Dalam mesin penelusuran—google—ditemukan arti kata Luwu. Dalam sejarah disebutkan, kata Luwu berasal dari kata Ulo, artinya diulurkan. Maknanya, payung atau Raja dan perangkatnya yang pertama diulurkan atau diturunkan dari kayangan (Botting Langi). Bagi orang Wotu, kata Luwu berasal dari kata Luo, artinya sangat luas.

Dan, luasnya tanah Luwu telah “menjangkau” hingga ke tanah Manakarra—Mamuju—khususnya, dan Sulbar umumnya. Ini analogi transtipo.com.

Khaeruddin Anas tampil tak seperti umumnya panitia yang lain. Di dalamnya memang ia pakai kemeja batik tak berlengan—orang awam sebut baju lengan pendek.

Karena itulah—mungkin—Khaeruddin Anas lalu menutupi kemeja batik bercorak garis-garis berkelok itu dengan sebuah jaket hitam halus, antara jas wol Itali atau bukan.

Yang menyolok pula, sebuah songkok Adat Bugis menindih kepalanya, mungkin agak longgar sehingga nyaris separuh batok kepala atasnya tertutupi.

Lelaki Khaeruddin Anas adalah Ketua Umum Kerukunan Luwu Raya (KKLR) Wilayah Provinsi Sulawesi Barat Periode 2017-2022. Persis di bawah Khaeruddin Anas ada Naskah M. Nabhan, wakil ketua. Ilham sebagai sekretaris Umum, dan H. Arif Dang Mattemmu sebagai bendahara umum.

Puluhan orang—lelaki dan perempuan dewasa—telah dilantik secara resmi di Mamuju pada Kamis malam, 23 November 2017, oleh Ketua Umum PB KKLR Pusat Buhari Kahar Mudzakkar, disaksikan sekretaris umum kerukunan pusat ini, Dr. Abdul Thalib Mustafa.

Dimulai dengan Doa lalu acara pelantikan pengurus kerukunan, selanjutnya sambutan-sambutan dan hiburan-hiburan, salah satunya pagelaran tari Adat Luwu.

“Terima kasih atas kehadiran Kerajaan Kedatu’an Luwu, dari Palopo ke Mamuju,” kata Khaeruddin Anas, ketua baru—dan yang pertama—KKLR wilayah Sulbar, dalam sambutannya.

Ia juga ucapkan terima kasih atas kehadiran Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar. Begitu pun kepada Ketua Umum PB KKLR Pusat Buhari Kahar Mudzakkar. “Ini sudah kewajiban saya selaku ketua umum hadir dalam acara kerukunan,” jawab Buhari tatkala tiba gilirannya beri sambutan.

Dari suaranya yang terdengar serak, Khaeruddin Anas bilang, “Mohon dukungan manakala kami kurang berfungsi, kelak. Dengan kerukunan ini kita bisa bergandeng tangan.”

Falsafah Khaeruddin Anas juga adalah pesan bijak bestari: “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung,” katanya. Ia tambahkan, “Kerajaa Luwu tak bisa dipisahkan dengan tanah Mandar.”

Menurut tokoh Kedatu’an Luwu yang mewakili Datu Luwu, tahun 2019 akan diadakan Festifal Keraton Nusantara, dan, “Luwu sebagai tuan rumah.” Ia juga sampaikan, Datu Luwu sedang berada di Bali, dan akan terus ke Medan, Sumatera Utara, bicarakan persiapan perhelatan Festival Keraton Nusantara itu.

Menurutnya, warga Luwu yang ada di Mamuju sebenarnya adalah warga Mamuju. Dipersepsikan, orang Mamuju yang lahir di Luwu. Buhari Kahar juga bangun persepsi yang lebih luas ketika mengartikulasikan apa itu Wija to Luwu.

“Semua warga Indonesia yang pernah tinggal, minum airnya, atau makan di tanah Luwu, itulah orang Luwu,” kata Buhari Kahar Mudzakkar.

Lebih jauh, Kahar bilang, orang yang menikah—dari salah satu sebelahnya, pihak lelaki atau perempuan—maka itu pula to Luwu. Jadi, katanya, esensi yang dibawa orang Luwu adalah esensi Indonesia.

Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar menyambut dengan baik dan hangat kehadiran KKLR wilayah Sulbar ini. Begitu pun Irwan SP Pababari, Wakil Bupati Mamuju, ketika beri sambutan.

Irwan Pababari bilang, warga Luwu Raya ini punya peran besar di Kabupaten Mamuju.

Kini tanah Kedatu’an Luwu telah terbagi dalam lima wilayah politik-administratif-pemerintahan. Terbentang dari Kabupaten Luwu, Kota Palopo, Kabupaten Luwu Utara, dan Kabupaten Luwu Timur.

Sekilas. Beberapa tahun lalu, sebelum dan saat Sulawesi Barat diperjuangkan jadi provinsi—berpisah dari provinsi induk, Sulawesi Selatan—daratan tanah Luwu juga kerap mengambil inisiatif yang sama: hendak memekarkan diri atau berjuang membentuk Provinsi Luwu Raya atau Provinsi Sulawesi Timur.

Kini, entah sampai di mana agenda perjuangan itu.

ARISMAN SAPUTRA/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR