Kantor Bulog Suv Divre Mamuju adalah salah satu titik yang terdampak parah saat banjir melanda Mamuju, Kamis, 22 Maret 2018. (Foto: Sarman SHD)

TRANSTIPO.com, MamujuMengapa ada sejumlah orang terlelap tidur di depan gudang pak? Tanya saya kepada Jumrah, petugas jaga di Bulog Sub Divre Mamuju.

“Oo.. itu sopir. Sudah tiga malam di sini untuk antar beras. Kalau ada keluar bantuan Raskin (Rastra, red) dia yang muat,” Jumrah menjelaskan.

Ia bilang, dia pilih tidur di situ karena tempatnya masih basah. “Sebetulnya saya sarankan untuk tidur di Mushola tapi mereka tak mau,” kata Jumrah.

Berakhirlah perbincangan saya dengan lelaki peramah yang pada dini hari Jumat itu, ia masih pakai seragam security. Ia kemudian berlalu dan sejurus dengan itu tampaklah ia telah berada bersama sejumlah rekannya di samping kantor Bulog.

Muhammad Arsalan juga akui kalau sejumlah sopir itu sengaja memilih tidur di pelataran kantor Bulog yang hanya beralaskan karpet tipis.

Enam orang sopir mobil truk itu tampak hanya pakai sarung. Cara berbaring dalam tidurnya nyaris sama: separuh kepala ditutupi kain melingkar itu dan kedua lutut dilipat hingga merapat ke perut.

Saya lalu tebak, mungkin sang sopir ini tak mau jauh dari truk sebab di atas mobil itu sudah berisi beras yang akan mereka angkut ke Kalukku’, Mamuju, di pagi hari Jumat ini.

Atau entahlah. Hanya berenam yang tahu alasan mereka tidur seadanya begitu.

Sebelum Arsalan mengantar saya melihat-lihat dari dekat seisi dua gudang milik Dolog Mamuju itu, ia terlebih dulu menjelaskan perihal cara pengamanan beras yang terdampak banjir yang melanda Mamuju, Kamis pagi, 22 Maret 2018.

Berapa jumlah beras yang ada di dua gudang Dolog Mamuju? “Saat ini ada sekitar 1.200 ton lebih,” jawab Arsalan.

Dari jumlah itu, sesuai penjelasan Arsalan, sekitar 800 ton yang masih bagus akan dipindahkan dulu ke Gudang UPGB di Kalukku’, Mamuju.

“Mau disimpan sementara dulu di Kalukku’ karena melihat keadaan begini (maksudnya banjir, red). Ini 800 ton yang mau diselamatkan, yang masih bagus,” kata Arsalan.

Tadi siang, katannya, sudah ada yang sempat diangkut. “Di atas tiga mobil truk itu sudah terisi sekitar 3 to beras. Pagi mereka aka angkut ke bawah.”

Pantaslah para sopir itu menunggui mobil truknya. Siapa saja mereka? Arsalan bilang mereka adalah sopir truk dari mitra kami juga.

“Mobil itu yang biasa angkut beras ke gudang. Karena terjadi banjir dan sejumlah beras basah, ya, kami panggil mereka untuk bantu selamatkan yang masih baik,” jelasnya.

Kini, aku Arsalan, lagi sat-saatnya Bulog Mamuju menerima pasokan beras dari mitra kerjanya di Mamuju, yang sudah dibeli oleh kantornya tentunya.

Ketika ditanyakan berapa jumlah beras yang rusak, Arsalan hanya bilang, “Saya ndak bisa kasi angkanya. Besok (hari ini, red) baru mau dilihat. Bapak bisa lihat sendiri. Ndak bisa ditaksir nanti saya salah. Sudah ada tim dari Makassar mau cek yang rusak.”

Siapa Muhammad Arsalan ini?

Kepala Gudang Dolog Muhammad Arsalan tampak sejak berjalan di samping 6 orang sopir yang tengah terlelap tidur di pelataran gudang dua atau GBB 02 dalam lingkungan Bulog Sub Divre Mamuju, Jumat, 23 Maret 2018, pukul 01.20 Wita. (Foto: Sarman SHD)

Hujan mengguyur Mamuju sejak pukul 23.30 Wita, Rabu, 21 Maret 2018. Esoknya, di subuh hari pada Kamis, air sudah mulai menggenangi jalan-jalan kota Mamuju.

Muhammad Arsalan berkisah, puncak banjir kira-kira jam 9 sampai 10 pagi. Airnya deras. “Saking paniknya, handphone saya terjatuh da basah,” katanya.

Soal hanphone ini, Arsalan bilang sementara titip di rumah teman. “Besok saya perbaiki. Jika tidak bisa, ya, saya kirim ke Makassar.”

Ketika hendak tukaran nomor, ia masih punya sebuah ponsel komek-komek. “Ini cadangan. Besok saya beli yang baru,” aku Arsalan.

Lelaki kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 45 tahun silam ini tampak kaget melihat ketinggian air hingga dua meteran. Pataslah nyaris semua fasilitas Kantor Bulog Sub Divre Mamuju rusah alias basah.

“Lihat pak, semua sudah dikasi keluar. Basah. Meja, kursi, lemari, komputer, dan barang-barang penting lainnya,” ia sembari menunjuk ke arah tumpukan barang-barang milik kantornya itu.

Namun yang paling dikuatirkan Arsalan adalah rusaknya fasilitas SIL—alat ini vital sebab ia dipakai online untuk urusa ke bank, mengecek pasokan beras yang masuk da keluar, dan sekaligus perihal transaksi di kantor.

Bahkan, katanya, tiga buah mobil terendam air, sejumlah motor juga. “Kendaraan ini saya kuatirkan rusak.”

Baru sejak 1 Februari 2018 SK penugasan Muhammad Arsalan, padahal sejak 1 November 2017 sudah bertugas di Mamuju.

“Saya pindahan dari Bulog Parepare. Pak Farid Nur, Kepala Sub Divre Mamuju, juga sejak November di sini pak.”

Katanya, pak Farid Nur itu yang menggantikan ibu Edel Toris. “Kini bu Edel sebagai Kabid Minku Divre Sulawesi Selatan.”

Lelaki yang akrab disapa Lallang ini bola matanya masih tampak berkaca-kaca di balik kaca matanya, padahal menjelang berakhir perbincangan kami, waktu sudah menunjuk pukul 01.25 dinihari, Jumat, 23 Maret.

Arsalan tak kuasa berajak dari sekitaran gudang meski ia juga tinggal di rumah dinas kantor yang beralamat di Jalan Gatot Subroto, Mamuju, Sulawesi Barat itu.

Lelaki ini sudah punya seorang istri dan telah dikarunia seorang anak. Rumah mereka ada di Parepare, Sulawesi Selatan.

“Anak saya sementara kuliah di Fakultas Hukum Unhas. Dia baru mau genap 18 tahun,” kisah singkat Muhammad Arsalan.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR