Suasana dalam Warkop xKPK, Topoyo, Mamuju Tengah. (Foto: Ishaka)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Jika Anda mendengar sebuah warung kopi dengan nama Warkop KPK, lantas apa yang terlintas di benak Anda?

Bagi kru laman ini, sejak kali pertama dengar nama warkop itu, dan berkunjung ke sana, mula-mula ada rasa was-was. Duduk di salah sebuah kursi sembari memelototi segenap tetamu yang tengah duduk pula.

Pada ruang dalamnya, mulai dari langit-langitnya, dindingnya, hingga asbak rokok sekalipun diperhatikan secara cermat. Kesimpulannya kemudian, Warkop KPK ini hanyalah sebuah nama. Pilihan nama sebagai pembeda dari nama warkop lainnya.

Tak menyeramkan. Tak terkesan ada yang “berbau KPK”. Bahkan, di beranda depannya tak memiliki pintu. Ia tak lebih dari warkop sederhana yang terbuka untuk umum.

Pada sebuah dinding dalam tertulis xKPK. Warkop ini dibangun di sebuah pojok jalan. Tak terlampau besar. Cukup untuk 10 sampai 15 orang pengunjung saja.

Menu layanannya biasa-biasa saja atau laiknya warkop umum. Ada kopi susu. Minuman dingin olahan berbagai rasa. Mie goreng dan yang dimasak pakai telur juga ada.

Pelayannya hanya dua, yang lelaki bernama Ruli Syamsil, dan seorang perempuan lagi yang tak lain adalah istri Ruli. Jadilah ia berdua secara bergantian melayani tetamu, tapi yang lebih menonjol adalah Ruli.

Kehangatan keluarga muda ini dalam menjemput rezeki di balik ruang berpetak kecil ini—di sisinya sudah terbangun rumah mungilnya—adalah hadirnya dua bocah yang tengah lincah-lincahnya.

Inilah warkop pertama di kota Topoyo, Mamuju Tengah, namanya Warkop xKPK. (Foto: Ishaka)

Sang kakak yang laki-laki itu sudah berumur masuk sekolah. Anak keduanya, perempuan yang belum mampu lampaui pembatas buatan di pintu rumah.

Kopi dan Topoyo

Masyarakat Indonesia khususnya kota Topoyo sebagian besar pasti minum kopi. Seiring dengan dinamika pertumbuhan kota Topoyo, pembukaan usaha warung kopi dapat ditemukan di mana-mana.

Salah satunya adalah warung kopi Komunitas Paenung Kopi (KPK), warkop milik Ruli. “Awalnya usaha ini adalah tempat kursus komputer. Namun, setelah fakum, dimulailah pada tahun 2014 membuka usaha warung kopi ini,” kata Ruli.

Cerita Ruli, sejarah berdirinya Warkop ‘KPK’ ini tidak lepas dari dukungan Asgar Syamsil yang tiada lain adalah kakak kandung Ruli. Atas dukungan sang kakak yang secara sukarela menyerahkan pengelolaan usaha ini, Ruli pun menyampaikan ucapan terima kasih banyak padanya.

“Sejak awal dibuka sampai sekarang, Warkop ‘xKPK’ ini menjadi alternatif pilihan bagi penikmat kopi yang datang di kota Topoyo,” ujar Ruli kepada transtipo.com, Selasa, 8 April 2018. Ia tambahkan, ini merupakan warkop pertama di kota Topoyo.

Untuk membuat rasa nyaman, ujar Ruli, bagi setiap pengunjung, beberapa fasilitas disediakan di tempat ini. Seperti wifi dan karaoke. Selain itu, dekorasi tempat pun cukup membuat penikmat kopi bisa berlama-lama menghabisksn waktu bersantai bersama kolega atau keluarga.

“Pengunjung warkop ini tidak pernah sepi. Bahkan sudah ada pejabat eksekutif dan politisi daerah yang ke warkop ini. Pak Wakil Bupati Mamuju Irwan Pababari pernah ke warkop ini. jika tidak salah sudah dua kali. Dan, hingga sekarang warkop ini adalah tempat nongkrongnya para Wartawan di Mamuju Tengah, bahkan yang yang datang dari daerah tetangga,” cerita Ruli.

Untuk saat ini dia belum berpikir merekrut karyawan. “Ya, masih dikelola keluarga,” katanya singkat.

Ruli seperti paham betul memanjakan pengunjungnya dengan menyediakan meja dan ruang sederhana secara artistik. Dominasi ruang dengan warna hitam dipadu warna putih secukupnya, menjadi ciri khas tempat usaha yang juga menyediakan papan catur bagi pehobi olahraga otak.

Warkop ‘KPK’ berdiri  di sisi jalan sehingga dengan mudah dijangkau para pengunjungnya. Bahkan di sekitarnya terdapat wisma, penginapan dan kantor pemerintahan.

Selain menyediakan kopi, warkop ini juga menyediakan minuman jus, teh susu, indomie rebus, pisang keju, pisang goreng.

ISHAKA MUH TOIB

TINGGALKAN KOMENTAR