Calon transmigran asal Kulon Progo dan kabupaten lain di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan berangkat ke Kabupaten Mamuju Tengah, Provinsi Sulawesi Barat, Minggu, 1 Desember 2019. (Foto: Disnakertrans Kulon Progo)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) kembali kedatangan warga transmigran dari tanah Jawa. Kali ini, sebanyak 70 kepala keluarga (KK) tiba di Mateng, Sulawesi Barat (Sulbar).

“Saat ini saya sedang dalam perjalanan ke Bandar Udara Tampa Padang untuk menjemput 70 KK yang berasal dari Provinsi Jawa Timur, Provinsi Jawa Tengah, dan Provinsi Jawa Barat,” ujar Kepala Dinas Transmigrasi Kabupaten Mateng Muhammadiyah melalui sambungan telepon pada Senin, 2 Desember 2019, sekitar pukul 14.50 WITA.

Muhammadiyah menyebut, Pemerintah Kabupaten Mateng akan menempatkan 115 KK di kawasan transmigrasi yakni di Tobadak 9. “Sebanyak 115 KK. 70 KK dari Pulau Jawa dan 45 KK penduduk sekitar,” ujar kadis.

Di Kota Bagor, Jawa Barat, pada Sabtu, 30 November 2019, Wali Kota Bogor Bima Arya melepas secara resmi sebanyak 5 KK atau sebanyak 23 jiwa. Warga ini diberangkatkan untuk bertransmigrasi ke Kabupaten Mateng.

Dilansir dari laman AYOBANDUNG.COM, Kepala Disnakertrans Kota Bogor Samson Purba mengatakan, warga yang berangkat dalam program transigrasi ini memiliki semangat dan motivasi tinggi. Terbukti mulai dari proses perekrutan sekitar 7 bulan lalu, mereka terus mengikuti tahapan demi tahapan, tidak pernah ingin mundur.

“Malah mereka lebih aktif menanyakan dan akhirnya hari ini mereka diberangkatkan oleh Bapak Wali Kota Bima Arya,” ujar Samson.

Samson menambahkan, tidak sekedar administrasi kependudukannya, peserta transmigrasi ini juga telah dibantu untuk pengurusan pemindahan Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Indonesia Sehat.

“Kami juga ikut memindahkan sekolah anak-anaknya ke Mamuju Tengah. 5 KK ini berbeda-beda profesi sebelumnya. Ada yang sebelumnya driver ojek online, sopir angkot dan pekerja serabutan. Di Mamuju Tengah mereka akan mendapatkan 1 hektar lahan yang bisa dimanfaatkan untuk tahun pertama, tahun ketiga mendapatkan 2 hektar, tahun kelima sertifikat keluar,” jelasnya.

Lahan tersebut, kata Samson, akan dimanfaatkan peserta transmigrasi untuk pertanian. “Di sana mereka akan bertani. Kebetulan iklim daerah yang dituju itu sama seperti daerah Puncak, Bogor. Jadi, mereka akan bertani palawija. Meski latar belakang sebelumnya bukan petani, mereka sudah diberikan pelatihan pertanian selama dua minggu di Cianjur,” katanya.

Di Desa Tobadak, Kecamatan Tobadak pada Senin, 2 Desember, sekitar pukul 08.20 WITA, Bupati Mateng H. Aras Tammauni memastikan kedatangan warga transmigran dari pula Jawa tersebut.

“Besok kita akan adakan penyambutan secara resmi di lokasi transmigrasi yakni di Tobadak 9,” kata H. Aras Tammauni kepada laman ini.

Menurut Aras, warga transmigran sangat penting bagi kabupaten ini. “Mungkin saya bisa katakan, kabupaten ini tidak bakal jadi DOB manakala bukan ditopang keluarga besar transmigrasi,” sebutnya.

HARY/RULI SYAMSIL/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR