TRANSTIPO.com, Topoyo – Pengeras suara toa dibanting hingga hancur. Hal itu terjadi saat Aliansi Pemuda dan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) bersama mahasiswa di Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) melakukan aksi di depan Kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Mateng, Senin, 11 Januari 2021.

Para pemuda dari aliansi tersebut meminta Dinas DP3A Mateng betul-betul melakukan fungsi dan tugasnnya. Pasalnya, menurut mereka, kejadian tindak kekerasan terhadap perempuan dan pencabulan anak di bawah umur di Mateng kerap terjadi, belakangan ini.

Sembari berorasi, salah satu di antara pendemo ini yang juga bertindak selaku koordinator lapangan (korlap) membanting pengeras suara toa hingga hancur. Korlap aksi ini diketahui bernama Masbur Endeng.

 

Dalam orasinya, Ia menilai bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan dan pencabulan anak di bawah umur sudah kerapterjadi, bahkan semakin meningkat setahun ini.

“Ini membuktikan bahwa dinas ini tidak bekerja dan tidak turun ke lapangan untuk melihat kondisi dan spikologi korban hingga saat ini,” teriak Masbur Endeng.

Bahkan, sebutnya lagi, dalam satu tahun saja kasus yang serupa kurang lebih sudah sembilan kali terjadi di Mateng, dan kondisi psikologi anak-anak ini dan korban lain hingga saat ini seperti apa.

“Saya yakin kalian tidak tahu, itu karena kalian tidak pernah turun ke mereka,” tuduh Masbur dalam orasinya di depan dinas DP3A Mateng.

Lanjut Masnur, bagaimana tidak, dinas ini hanya diam, duduk manis di kursinya, hanya bermain tik tok dan selfi-selfian saja, jika tidak sanggup untuk menjalankan kewajibannya silahkan mundur saja dari dinas ini.

Selain itu, tambah korlap aksi, mereka menilai bahwa hampir semua kasus-kasus terkait kekerasan perempuan dan pencabulan anak di bawah umur yang terjadi, dinas terkait hanya sebatas melakukan pengawalan hukum saja.

“Mereka selama ini tidak melakukan pencegahan ataupun sosialisasi langsung ke masyarakat untuk memberikan bimbingan serta perhatian kepada korban,” ujarnya.

Bayangkan, katanya, jika pencabulan ini terjadi kepada anak kita yang masih di bawah umur, bagaimana perasaan kalian, perasaan anak kalian, keluarga kalian jika dinas ini tidak melakukan pengawalan, maupun perhatian khusus kepada korban, sebab ini adalah tugas kalian.

“Kasus ini sangat serius, jangan hanya oknum saja yang dikawal, tetapi psikologis korban diabaikan begitu saja,” teriak Masbur bernada emosi sembari melemparkan pengeras suara toa itu.

Pihak DP3A Mateng berjanji akan meningkatkan sosialisasi terhadap perlindungan kaum perempuan serta akan memantau dan memberi bimbingan dan perhatian penuh kepada korban.

Selain itu, pihak dinas terkait juga berjanji untuk menekan terjadinya kasus-kasus yang serupa.

RULI SYAMSIL

TINGGALKAN KOMENTAR