Foto: Istimewa

TRANSTIPO.com, Topoyo – Proyek pembangunan destinasi wisata Batu Rede di tepi pantai Budong-budong, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) kini dalam sorotan.

Proyek pembangunan ini melekat di Dinas Pemuda dan Olahraga Mateng pada tahun 2019.

Kelompok masyarakat yang menyoroti proyek wisata itu yakni kalangan warga dan pemuda di Desa Budong-budong.

Menurut pengakuan mereka, proyek pembangunan destinasi wisata tersebut hanya terdapat tujuh item bangunan di sekitar pantai, atau dalam hitungan mereka hanya kisaran 60 persen dari yang seharusnya ada sebanyak sebelas item bangunan.

“Angka 11 itulah yanh sesuai dalam sesuai draf pembangunan proyek, tapi yang ada hanya 7 item bangunan,” ujar Adnan Nawawi yang mengaku dari kelompok pemuda Budong-Budong, Kamis, 9 Juli 2020.

Dalam draf proyek, sebut Adnan Nawawi, yang kami lihat ada 11 item dengan total anggaran Rp2 miliar.

Di antara item bangunan dimaksud, Adnan rincikan, gedung Touris Informasi Center (TIC) 1 unit, gedung untuk jajanan kuliner 1 unit, ruang ganti dan toilet 2 unit, Mushollah 1 unit, gazebo 10 unit, area parkir, gapura/pintu gerbang, devi center 1 unit, gudang/workshop devi center 1 unit, kios jajanan oleh-oleh khas Patulana 2 unit untuk 10 petak, dan kolam pemancingan ikan.

“Tapi bangunan yang berdiri di pantai Baturede hanya gedung TIC 1 unit, pusatri jajanan kuliner 1 unit, toilet 2 unit, Mushollah, area parkir, gedung dive center 1 unit, gazebo 5 unit. Hanya ini, 7 item saja,” terang Adnan.

Ia tambahkan, empat item bangunan lainnya seperti kolam pemancingan ikan, kios jajanan oleh-oleh 2 unit 10 petak, dan workshop dive center tidak ada.

Selain itu, tambahnya, adapun gazebo yang terbangun hanya lima, seharusnya 10 gazebo.

Adnan dan kawan-kawannya dari pemuda Budong-budong sudah melakukan audiensi dengan pihak Dinas Pemuda dan Olahraga Mateng untuk mempertanyakan dan mengonfirmasi hal tersebut.

Mereka kemudian mendapatkan penjelasan dari pihak berwenang di kantor dinas itu berupa penjelasan sumir.

“Anggaran untuk sisa bangunan dimaksud masih tertahan di bank BPD Sulselbar,” sebut Adnan menirukan penjelasan yang ia dapatkan.

Pihak terkait di Dinas Pora Mateng menjelaskan kepada laman ini di kantornya pada Senin, 6 Juli 2020, bahwa memang master plan saat kita ajuan ke pusat memang 11 item pekerjaan.

“Tidak berarti 11 item itu dikerja,” ungkap Murodi, staf Perencanaan Anggaran Dispora Mateng di ruang kerja Kantor Kepala Dinas Dispora Mateng.

Murodi juga sampaikan, anggaran yang diberikan hanya Rp 2,78 miliar, sehingga anggaran itu hanya cukup untuk 7 item.

“Jika anggaran hanya segitu ingin dikerjakan sebanyak 11 item akan tidak maksimal,” jelas Murodi.

“Mungkin yang dilihat oleh teman-teman adalah konsep desain perencanaan pariwisata berkelanjutan, karena memang 11 item itu berkelanjutan, tapi akan bertahap,” ujar dia menambahkan.

Menurutnya, ketika berbicara terkait perencanaan itu, kita sudah berbasis pada anggaran.

Sementara, tambah dia, berbicara terkait basis anggaran kita sudah harus berpedoman pada juknis dan Perpres. Juknis ini dikeluarkan oleh Kementerian Pariwisata, sementara Perpres itu langsung diuraikan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK).

“Jadi ketentuannya di 2019 itu kita mendapatkn anggaran sebesar Rp2,78 miliar untuk 7 paket pekerjaan. Memang ini akan berkelanjutan,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pora Mateng Bambang, mengaku jika dirinya mengetahui pekerjaan itu hanya 7 item saja dari pusat.

“Yang saya tahu memang hanya 7 item pekerjaan itu, selebihnya saya tidak tahu,” kata Bambang Suparni.

RULI SYAMSIL

TINGGALKAN KOMENTAR