Gustiyah (54) dan suaminya Idris (68) adalah warga Desa Topoyo, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat. (Foto: Ruli)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Rintihan Gustiyah. Iya, memang pada Jum’at, 12 Juli 2019 lalu, kru laman ini di Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) sengaja mendatangi salah seorang warga yang terbelit sulitnya kehidupan yang keluarganya alami.

Gustiyah (54) namanya. Ibu ini tercatat sebagai salah satu warga di Dusun Lomba Bou, Desa Topoyo, Kecamatan Topoyo, Mateng. Rupanya ia tahun bahwa ada program pemerintah pusat namanya Program Keluarga Harapan (PKH) yang sasarannya untuk keluarga miskin yang bermukim di seluruh pelosok desa.

Rupanya ia juga tahu jika ada juga program bantuan beras miskin (Raskin). Kedua program itu Gustiyah tahu tapi hingga kini ia belum dapat sepeser pun—surga di telinga tapi tidak nyata baginya. Dalam hatinya merintih.

“Umba itte tente carana ampelek mala tauk marrumpak PKH. Punnak nadua tauk bedek nakua nasang lauk di Patulana, sematak mandapak tauk bedek doik tiap bulan dari pemerintah. Nigaji tauk bedek, iyakah! Apa ittekah?” celoteh Gustiyah dalam bahasa Mamuju.

Kru laman ini menerjemahkannya, kira-kira begini: “Bagaimana itu caranya supaya kita juga bisa dapat bantuan PKH. Dibilang keluarga yang ada di Patulana, kalau dikena katanya bantuan PKH, kita selalu dapat katanya uang tiap bulan dari pemerintah. Digaji katanya bagi yang tidak mampu. Iyakah! Apa itukah.”

Kondisi rumah tempat tinggal keluarga Gustiyah. (Foto: Ruli)

Sang suami, Idris (68) sedang berbaring tanpa tenaga di sisi istinya itu, tak bisa menjelaskan apa yang Gustiyah utarakan itu. Sesekali ia menarik nafas panjang lalu dihembuskannya kemudian.

Sepasang suami istri ini hidup di bawah garis kemiskinan. Untuk menyambungkan apa yang sedikit diketahui oleh Gustiyah terkait program bantuan pemerintah pusat itu, penjelasan datang dari anak kemenakannya.

Famili Gustiyah yang tinggal di Dusun Patulana, Desa Budong-Budong itu mengaku kepada kru transtipo bahwa pernah jelaskan terkait apa yang ia ketahui seputar program PKH itu kepada tante dan pamannya itu.

Sembari terbaring di atas pangkuan sang kekasih, Idris sesekali berbicara. “Mengenai bantuan PKH itu sama sekali tidak tahu menahu. Tapi tiga hari lalu keluarga yang ada di Patulana cerita soal bantuan PKH,” ujar Idris.

Dulu memang, cerita Gustiyah, saat kami masih tinggal di Desa Budong-Budong pernah dapat bantuan Raskin tapi hanya dua kali. Setelah kami pindah menetap di Desa Topoyo tidak pernah sama sekali terima bantuan apa pun.

Kakek nenek ini mengaku sudah dua tahun tinggal di Desa Topoyo. Punya anak lima orang, semuanya perempuan. “Sudah empat anak saya yang berkeluarga, tinggal yang paling bungsu belum bersuami,” kata nenek Gustiyah.

Suami-suami mereka, cerita si nenek ini juga hidupnya biasa-biasa saja. “Menantu saya ada yang kerja pelaut, ada juga makan gaji ikut-ikut jadi tukang. Yang bungsu masih tinggal sama saya di rumah kecil ini,” ujar si nenek Gustiyah.

Meski tak terlihat ada air yang menetes dari atas atap rumah kakek nenek ini, karena memang sedang kemarau. “Tapi kalau hujan basah ini lantai rumah kami. Air hujan masuk karena atapnya sudah bolong-bolong,” katanya lagi.

Kondisi rumah tempat tinggal keluarga Gustiyah. (Foto: Ruli)

Semabari ia setengah menunduk, lalu ia bilang, “Bapaknya juga sering sakit-sakit, bisa kita lihat sendiri kondisi bapak fisiknya, sudah lemah.”

Idris kini sedang dalam kondisi kritis. “Kemarin habis operasi, ia kena usus buntu akut. Baru tiga hari di rumah kembali lagi dibawa ke rumah sakit daerah di Topoyo karena berdarah bekas operasinya di saluran kencingnya. Untung agak membantu karena ada BPJS, tapi itu pun terbatas penggunaannya karena perobatannya yang kedua ini butuh biaya besar, jadi kami kembalikan bapak lagi ke rumah karena kami tidak mampu biayanya,” cerita Gustiyah.

Meski dalam kondisi begitu, keluarga ini tetap bergatung kepada Idris, kepala keluarga rumah tangga ini. “Jika lagi sehat-sehat, sehari-hari bapak jual ikan keliling pakai sepeda,” keluh Rustiyah.

Alhamdulillah, sambung Gustiyah, sebelum bapak masuk rumah sakit, kami dapat pinjaman uang untuk modal jual-jual makanan dan minuman anak-anak. “Hasilnya untuk kami hidup,” kata neneknya Nurul ini.

Obrolan pada Jumat sore itu, Rustiyah tutup dengan satu harapan: “Mudah-mudahan kasihan tahun depan kami dapat juga (bantuan PKH, red). Tidak apa-apa tahun depan yang penting dapat, tapi mangapa kitte ukde angkai terdata padahal jaling tauk di kota.”

Terus ia bertanya-tanya, mengapa keluarganya tak dapat bantuan program keluarga harapan. Tapi, Guskiyah—tentu juga Idris dan si bungsu—tetap punya harapan untuk dapat bantuan.

RULI SYAMSIL

TINGGALKAN KOMENTAR