Perahu Lakmi bersiap menyeberangkan sejumlah warga, termasuk anak-anak, ke desa seberang, Sungai Lumu, Desa Lamba-Lamba, Mamuju Tengah, Minggu, 11 Februari 2018. (Foto: Arisman Saputra)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Tuhan begitu adil kepada semua ummatNya, rezeki pun juga demikian. Tuhan akan selalu memberikan jalan kepada mereka yang selalu berusaha.

Kisah seorang kakek Lakmi (50). Ia tak pernah mengenal lelah untuk mengail rezeki di Sungai Lumu, Mamuju Tengah. Hari-harinya ia sebagai pengemudi perahu tradisional.

Perahu yang dikemudikan kakek Lakmi ini merupakan alat transportasi laut di Sungai Lumu. Awalnya ia punya dua perahu, kemudian ia gabung jadi satu.

Pembuatan kapal penyeberangan ini berkat bantuan dana desa. Ia beruntung sebab Kepala Desa Lamba-lamba memercayakannya sebagai pengemudi perahu kapal penyeberangan ini.

“Sudah sekitar satu tahun saya mengemudikan kapal ini nak,” aku Lakmi kepada kru laman ini.

Memang, kru transtipo.com menemui Lakmi yang tinggal di sebuah gubuk yang hanya berukuran 2 x 2 meter. Gubuk ini terbuat dari kayu berlantai papan dan beratap daun rumbia.

“Saya sudah hampir satu tahun mengemudikan kapal penyeberangan yang menghubungkan Desa Lamba-lamba, Lumu, Kire, dan Babana,” kata Lakmi, Minggu, 11 Februari 2018.

Kakek Lakmi sebetulnya punya nama formil, Hapil. Tapi, katanya warga kampung sering memanggilnya pak Lakmi.

Hapil ini terlahir di Desa Lamba-Lamba, Kecamatan Pangale, Mamuju Tengah. Desa Lamba-lamba berada di pesisr pantai kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Mamuju ini.

Di usianya yang sudah tak muda ini, ia bertahan menyusuri sungai setiap hari demi mengail rezeki sedikit demi sedikit untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Hapil alias Lakmi mengenakan sewa Rp 5 ribu untuk sepeda motor. “Kalau setiap penumpang, ya, tergantung keikhlasan mereka. Kan, perahu ini juga dibuat dari anggaran dana desa,” kata Lakmi, jujur.

Berapa penghasilan Hapil setiap hari?

“Tidak menentu nak, kadang-kadang Rp 30 ribu, kadang pula Rp 100 ribu sehari. Ya, tergantung penumpang,” katanya sembari menyunggingkan senyum.

Lakmi (kiri) sedang memutar perahunya untuk menyeberangkan seorang warga di Sungai Lumu, Mamuju Tengah, Minggu, 11 Februari 2018. (Foto: Arsman Saputra)

Pada Ramadhan lalu, Lakmi beroleh rezeki lumayan banyak. “Kalau sudah mau masuk Ramadhan hingga dekat lebaran, saya biasa dapat sampai Rp 1 juta,” aku Lakmi, bangga.

Hasil keringat Lakmi ini mengalir pula ke ‘kotak amal’ Masjid. Jadi, dari penghasilannya Rp 500 ribu setiap bulan misalnya, jumlah itu masih harus dikurangi Rp 150 ribu sebagai setoran wajib ke desa.

“Tapi setoran itu dibawa ke Masjid sebagai sumbangan pembangunan Masjid di Desa Lamba-lamba nak. Itu desa kami,” katanya.

Desa Lamba-lamba terdiri dari 6 dusun. Warga dari enam dusun inilah yang menjadi langganan ‘wajib’ bagi Lakmi.

“Di waktu malam pun jika ada warga mau menyeberang, ya saya akan seberangkan nak. Ini sudah pekerjaan saya,” kata Lakmi, menutup obrolan di hari Minggu itu.

ARISMAN SAPUTRA

TINGGALKAN KOMENTAR