Sekkab Mamuju Tengah yang juga Ketua Panitia MTQ ke-7 Sulawesi Barat, Askary (kiri) sedang meninjau lokasi tempat pelaksanaan MTQ di Lapangan Benteng Kayumangiwang, Topoyo, Mamuju Tengah, Rabu, 2 Mei 2018. (Foto: Sarman SHD)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Sebuah mobil perata tanah terus menyetrika separuh area tempat pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-7 Provinsi Sulawesi Barat.

Pelaksanaan MTQ tahun 2018 ini akan dihelat mulai Sabtu, 5 Mei, di kawasan terminal angkutan darat Benteng Kayumangiwang Topoyo, Mamuju Tengah.

Pada Rabu sore, sehabis tunaikan tugas-tugas kantor selaku Sekkab Mamuju Tengah, Askary tampak masih pakai baju kemeja putih tak berlengan.

Ketua Panitia MTQ yang kali pertama diselenggarakan di kabupaten yang berjuluk Lalla’ Tassisara’ ini, ia seolah ingin memastikan bahwa jelang MTQ persiapan lokasi pelaksanaan bersejarah ini, telah rampung.

Dari pengalas kakinya dengan hanya pakai sandal “rumahan”, Askary mengontrol sejumlah hal. Ia cek kesiapan panggung utama. Ia bertanya kepada pihak sejumlah kru panitia acara opening ceremony.

Dan, jelang bedug magrib berbunyi, dari atas mobil dinasnya yang berwarna putih itu, ia pun berlalu dari arena.

Kemudian, dari percakapan melalui layanan WhatsApp, Askary setia menjawab sejumlah pertanyaan singkat transtipo.com.

“Persiapan lapangan sementara berproses, direncanakan rampung semua pada Jumat malam,” jawabnya kepada laman ini.

Perihal anggaran pelaksanaan MTQ ini, Askary bilang, “Alokasi anggaran disiapkan kurang lebih Rp 1 miliar.”

Apa saja peran provinsi? “Provinsi (Pemprov Sulawesi Barat, red) hanya memfasilitasi juri. Honoraium hakim semuanya dibebankan ke Mamuju Tengah,” tulis Askary, singkat.

Tentang pondok untuk sejumlah kafilah atau tamu dari lima kabupaten, ia yakinkan, “Pemondokan kafilah setiap kabupaten sudah siap semua.”

Ketua Panitia MTQ ke-7 Sulawesi Barat, Askary (kiri) sedang memerhatikan sejumlah perempuan remaja yang jadi tim kreatif tengah berlatih untuk semarakkan pembukaan MTQ, Topoyo, Mamuju Tengah, Rabu, 2 Mei 2018. (Foto: Sarman SHD)

Mengapa dipilih tempat “bersejarah” sebagai arena pusat MTQ?

“Ditempatkan di benteng, di samping ada aspek historis oleh perjuangan para pejuang Mamuju Tengah terdahulu, juga posisinya strategis untuk penyelenggaraan acara,” Askary menjelaskan kepada laman ini, Kamis pagi, 3 Mei.

Topoyo akan didatangi tamu dengan jumlah orang yang tak sedikit. Dari kafilah saja yang tercatat, seperti yang disebutkan Askary sebayak 257 orang.

Jumlah “pengantar” dan penggembira—mungkin—bisa lebih banyak dari angka yang disebut di atas.

Selamat berbenah—untuk panitia kabupaten.

Bagi warga Topoyo kota, siapkanlah kelapangan hati menerima tamu bukan sedarah dalam hubungan seIman dan Insan yang sama.

ANAS MAKKARUMPA/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR