Kepala Desa Pasapa’ Paulus (kiri) ikut bergotong royong bikin dekker. (Foto: Ist.)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Kampung baru Pasapa’ masih menjadi bagian dari Desa Lumu’, Kecamatan Budong-Budong, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

Tapi itu, dulu.

Pada 2008 silam, tiga dusun di kampung Pasapa’ berhasil memekarkan diri dari induknya, Desa Lumu’. Pada sembilan tahun silam itulah Pasapa’ resmi menjadi sebuah desa.

Seiring hadirnya Daerah Otonomi Baru (DOM) Mamuju Tengah, kampung-kampung di pelosok nun jauh di sana—di hamparan muara sungai dan di belantara gunung-gunung hijau—ikut menyambut kabupaten penantian ini.

Para pemangku di desa-desa dalam kabupaten yang secara sah lahir pada 2013, secara bersama-sama ikut mengerek agenda: membuktikan sebagai desa hasil pemekaran bisa mewujudkan pembangunan di desa.

Sejak tiga tahun lalu, Desa Pasapa dipimpin oleh seorang lelaki enerjik. Meski ia telah berumur 51 tahun, tapi dari postur dan segala tampangnya menyembul kehendak serius ingin membangun desanya.

Nama lelaki tua dengan gairah dan semangat muda ini adalah Paulus. Pada Jumat siang tadi, sekitar pukul 14.00 WITA, di sebuah warung kopi dalam kota Topoyo, Paulus seolah senang diberondong sejumlah pertanyaan kru transtipo.com.

Paulus menyebut memimpin 400-an kepala keluarga (KK) di Desa Pasapa’. “Saya sudah 4 tahun jadi Kepala Desa Pasapa’,” ujar Paulus. Dan, jika Tuhan berkenan, ia tambahkan, “Sisa 2 tahun lagi saya menjabat.”

Jarak dari Topoyo, Ibu Kota Kabupaten Mamuju Tengah, ke Desa Pasapa’ sekitar 10 km. Suami Marlina (40 tahun) dengan buah hati 4 orang anak ini bilang, “Saya sudah tidak ingat tanggal dan bulan apa saya dilantik jadi kepala desa.”

Sebab yang hadir di benaknya ketika amanah jadi pemimpin desa telah di pundaknya, yang ada katanya, “Saya mau bangun desaku.”

Bangun kantor desa secara permanen pun Paulus belum anggap penting. “Kantor desa kami yang ukurannya hanya 9 x 7 meter, masih pakai atap seng. Berdiri sederhana dengan dinding papan, lantainya sekadar disemen tidak pakai tehel,” kata Paulus, jujur.

Sebagai seorang penganut Protestan yang taat, Paulus sadar betul tentang pentingnya memperlihatkan toleransi di tengah-tengah kehidupan warga di desanya.

“Agenda pertama dan utama saya adalah bangun Masjid desa. Saya sadar, karena saya ini Kristen, maka saya lebih memilih mendahulukan bangunan Masjid. Saya pahamkan warga bahwa untuk Gereja nanti menyusul,” cerita Paulus.

Dari Pemkab Mamuju Tengah, dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum, bantu anggaran untuk sebuah Masjid dengan hanya berukuran 4 x 5 meter.

“Tapi kami malah bangun 9 x 12 meter. Kami bermusyawarah di desa dan keluarkan dana gotong rotong, ya, swadayalah,” ujar Paulus.

Menurut cerita Paulus, tahun 2018 ini Desa Pasapa’ beroleh alokasi anggaran dana desa (ADD) sebanyak Rp 500-an juta. Sedangkan Dana Desa sebanyak Rp 1,3 miliar.

Dengan dana pembagunan desa sebanyak itu, Paulus geleng-geleng kepala ketika ditanya pemanfaatan anggaran yang masuk ke desanya itu. Gelengan kepalanya itu, ia maknai sebagai bentuk berlaku jujur pada pemakaian keseluruhan anggaran.

“Rambut saja putus diketahui orang, jadi jangan kita bohong,” sebutnya sedikit berfilosofi. Soal anggaran, ia tambahkan, “Mauki’ macam-macam, melokkok disakek (apa mau diikat, penjara).

Ia tak hanya bicara sok transparan dan jujur. Di Desa Pasapa’ kini, kisahnya, sudah terbuka jalan antar dusun. Sudah bisa dilalui kendaraan roda dua dan roda empat.

“Memang, belum diaspal butas, tapi sudah lebar dan bagus kalau lagi tidak turun hujan,” katanya. Dulu, ia tambahkan, dari desa ke Topoyo, biasa ditempuh satu malam lamanya. “Sekarang, satu jam sudah bisa jika musim kemarau.”

Paulus mengaku telah bangun dekker 20 buah lebih. Gorong-gorong sudah lebih 40 buah. Seorang pemuda desa yang saat wawancara sedang duduk di sisi kiri Paulus, ikut mengiyakan apa yang diceritakan Kades Pasapa’ ini.

Baca juga: Aras Muda Jadi Pendamping Paulus

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR