Pemateri Pelatihan Midwifery Update oleh Pengurus Cabang (PC) IBI Mamuju Tengah, Wisma Buah, Topoyo, Senin, 16 Juli 2018. (Foto: Ruli)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Saat ini, seorang bidan mesti memiliki sertifikat kompetensi kebidanan dan telah mempunyai kualifikasi tertentu lainnya, serta diakui secara hukum untuk menjalankan praktik kebidanan.

Ikatan Bidan Indonesia (IBI) sebagai organisasi profesi satu-satunya, mewadahi para bidan di Indonesia dan berupaya untuk menjaga mutu serta meningkatkan keterampilan dan kompetensi para anggota.

Bidan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), serta menyiapkan generasi penerus masa depan yang berkualitas dengan memberikan pelayanan yang berkesinambungan dan paripurna.

Pelayanan kebidanan yang bermutu adalah pelayanan kebidanan yang dilaksanakan oleh tenaga bidan yang kompeten, memegang teguh falsafah kebidanan, dilandasi oleh etika dan kode etik bidan, standar profesi, standar pelayanan, standar prosedur operasional yang didukung dengan sarana dan pra-sarana berstandar.

Baru-baru ini, Pengurus Cabang (PC) IBI Mamuju Tengah mengadakan Pelatihan Midwifery Update, hal ini dimaksudkan untuk memenuhi upaya IBI dalam menjaga dan meningkatkan kemampuan serta keterampilan bidan-bidan di daerah.

Kegiatan ini berlangsung aula Wisma Buah, Topoyo, Senin, 16 Juli 2018. Pematerinya adalah Ketua PC IBI Mamuju Tengah Hj. Nilma, Ketua IBI Sulawesi Barat Hj. Hasriati Arief Saleh, dan Maya selaku moderator.

Apa yang dimaksud Midwifery Update? Pelatihan standar Midwifery Update adalah suatu upaya penyegaran, meningkatkan dan mempertahankan kompetensi bidan sesuai dengan perkembangan pelayanan kebidanan.

Dalam paparannya, Nilma mengatakan, kegiatan pelatihan bagi peserta IBI di antaranya, tentang kebijakan dan perkembangan organisasi profesi, mengenai antenatal care, penanganan kehamilan, pendidikan berkelanjutan, kode etik bidan dan pemasangan ayudi.

Yang dimaksud antenatal care adalah pelayanan pengawasan sebelum lahir oleh tenaga profesional (dokter spesialis, dokter umum, bidan dan perawat).

Ia tambahkan, untuk menambah ilmu pengetahuan yang tidak didapatkan atau dipelajari di sekolah, pelatihan yang semacam ini merupakan kewajiban dari peserta IBI yang benar benar mau dan ingin serius dalam meningkatkan kualitas profesinya.

Ini dijadikan referensi bagi peserta agar masyarakat tidak ada lagi yang berpikir dua kali untuk mempercayakan membawa diri mereka untuk melahirkan di bidan.

“Semoga kegiatan semacam ini menjadi spirit bagi peserta dan diri saya pribadi, agar dalam bekerja lebih semangat dan melayani lebih profesional lagi,” ujar Nilma.

Sementara, Hj. Hasriati Arief Saleh menyebutkan, kegiatan seperti ini merupakan ketentuan, bahkan kewajiban seorang bidan untuk mendapatkan sertifikat atau STR dan memperpanjang Surat Tanda Registrasi (STR).

“Ini adalah kebijakan dari Pengurus Pusat IBI yang bekerja sama dengan pemerintah dan kementrian kesehatan,” ujarnya.

Kegiatan pelatihan IBI Mamuju Tengah ini dihadiri oleh 20-an peserta. IBI Sulawesi Barat terus komitmen untuk terus melaksanakan kegiatan seperti ini di semua kabupaten di Sulawesi Barat.

Ia harapkan, sekiranya pemerintah bisa membantu. “Terus terang dana kegiatan ini bukan dana program tapi dana dari kebijakan masing-masing peserta. Jadi para peserta pelatihan ini semuanya membayar untuk bisa mengadakan kegiatan ini,” katanya.

Di ujung paparannya, Hasriati Arief Saleh mengatakan, peran pemerintah daerah dibutuhkan agar kegiatan pelatihan semacam ini bisa maksimal.

“IBI ini merupakan ujung tombak yang bersentuhan langsung dengan masyarakat di lapangan. Khusus ibu hamil, dari hasil ilmu pengetahuan yang didapat peserta, akan bermanfaat untuk mengurangi angka kematian ibu dan anak,” sebut Hasriati.

RULI SYAMSIL

TINGGALKAN KOMENTAR