TRANSTIPO.COM, Topoyo – Tama (53) atau panggilan akrabnya Mama Acok bagi warga Topoyo, khususnya dusun Ngapaboa RT 03, desa Topoyo, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng).

Usianya sudah lanjut, dan ia hidup menjanda pula. Mata Tama sudah tidak normal, penglihatannya sudah mulai rabu. Di gubuk Tama, ia hidup bersama ketiga anaknya yang masih berumur remaja: Jumadi, Acok, dan Rosma.

Rosma (22) anak sulung. Walau ia perempuan, tapi sebagai anak tertua, dialah yang sering membantu ibunya dan kedua adik laki-lainya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Rumah panggung kecil dari kayu dan papan seadanya ini selaksa sebuah gubuk “derita” yang hanya berukuran 2×3 meter.

Tampak dari gambar, gubuk ini tak layak huni. Lantainya dari papan rapuh, dinding kayu lapuk dan tempelan bekas toples, atapnya dari seng bekas.

Secara kasat, kondisi keluarga Tama memprihatinkan.

Asap dapur Tama masih terus mengepul dengan tetap tekun kerja memungut sampah berupa botol plastik dan kardus. Pekerjaan ini tekah ia lakoni beberapa tahun.

“Suda hampir enam tahun saya kerja sebagai pengumpul botol plastik dan kardus. Dikumpul kemudian saya jual ke pengepul. Biasa juga bantu anak saya yang sulung,” cerita Mama Acok.

Tama bercerita, pernah sekali waktu Bupati Mateng Aras Tammauni mendatanginya. Kata Tama (53), pak bupati menawarkan rumah baru layak huni. “Saya tolak dengan alasan tak berani tinggal jauh dengan keluarga serta kerabat lain yang sering membantu kehidupan.

“Saat itu saya minta agar di tempat ini saja dibangunkan rumah karena saya suka di sini dekat keluarga,” kata Tama.

Respon Bupati Mateng itu juga tak setuju sebab ia anggap tanah yang Tama tempati bukan milik pribadi bersangkutan.

“Tanaha ini saya hanya pinjam memang,” aku Tama.

RULI SYAMSIL

TINGGALKAN KOMENTAR