Bayi kembar siam meninggal di Desa Pasapa, Mamuju Tengah, Senin, 30 Juli 2018. (Foto: Ist.)

Yang dimaksud dengan bayi kembar siam adalah keadaan anak kembar yang tubuh keduanya bersatu.

Dua bayi berjenis kelamin perempuan ini—MAAF—lahir dengan “kelainan” pada tubuhnya: bibir sumbing, di tubuhnya terdapat bintik hitam bergaris, dan “ususnya” menyembul keluar.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Pemuda Aras adalah Sekretaris Desa Pasapa, Kecamatan, Budong-Budong, Kabupaten Mamuju Tengah.

Pada 30 Juli 2018, sekitar pukul 21.24 WITA, Aras mengirim sebuah gambar melalui layanan aplikasi WhatsApp. Gambar dimaksud adalah dua sosok bayi yang baru lahir dalam kondisi kembar siam.

Berkali-kali konfirmasi dilakukan kepada pemuda Aras, namun nomor telepon seluler beliau tak aktif.

Pasapa jauh. Pasapa di gunung. Sarana komunikasi jaringan seluler belum tersedia di desa itu.

Uniknya, MAAF, kedua bayi yang baru lahir ini menyatu dalam “satu badan”. Di sekujur badan kedua bayi itu tampak bercak-bercak hitam bergaris. Entah itu berupa tonjolan urat yang berwarna atau hal lain yang belum terkonfirmasi secara medis apa gerangan yang terjadi pada tubuh kedua bayi itu.

Sayang beribu sayang, nyawa kedua bayi ini tak tertolong.

“Lahir pada 30 Juli 2018, sekitar jam 5 pagi, di Desa Pasapa, Mamuju Tengah. Ibunya selamat namun kedua bayi itu meninggal setelah lahir,” tulis Aras dalam layanan WhatsAppa kepada transtipo.com.

Pada Jumat pagi ini, 3 Agustus, sekitar pukul 07.45 WITA, kru laman ini mengonfirmasi Ahmad Syarif, Kepala Puskesmas Salugatta, Kecamatan Budong-Budong, Mamuju Tengah.

Lelaki 35 tahun yang akrab disapa Itto ini mengatakan, bayi kembar siam itu lahir pada jam 5 subuh, Senin, 30 Juli 2018.

“Ia dilahirkan belum cukup bulan, baru sekitar 6 bulan, persisnya baru 29 minggu dalam kandungan,” ujar Ahmad Syarif kepada kru laman ini.

Wawancara melalui sambungan telepon tanpa kabel barusan, Ahmad bilang , “Lebih tepat disebut ibu itu keguguran, begitu.”

Nama ibu yang melahirkan bayi kembar siam di Desa Pasapa itu adalah Maryana Kinan (31 tahun).

Ketika Maryana melahirkan, sebut Ahmad, ia dibantu oleh seorang Dukun di kampung Pasapa. “Tapi ada juga tenaga Bidan kita di sana yang membantu,” ujarnya.

Itto mengaku bahwa memang tak sempat melihat proses kelahiran bayi itu, dan dirinya baru mengetahui informasi itu pada siang harinya, Senin itu juga.

“Saat bayi itu lahir, meninggal. Memang, ibu Maryana sempat dibawa ke Puskesmas Salugatta, tapi setibanya di Puskesmas kami langsung rujuk sekalian antar ke Rumah Sakit Topoyo,” cerita Ahmad.

Ia bilang, secara kasat kondisi fisik ibu Maryana baik-baik saja, sehat. “Tapi perlu dibersihkan kotorannya, jadi baiknya dirujuk ke rumah sakit,” sebutnya.

Hingga Jumat ini, Ahmad Syarif jujur dengan mengatakan belum tahu kondisi terkini. “Tapi yang saya tahu sehat-sehat.”

“Isolasi” Desa Pasapa

Desa Pasapa merupaka salah satu desa di Mamuju Tengah yang bisa dibilang masih terisolir. Dan, itu oleh Ahmad pun mengakui itu. “Desa itu masih terpencil,” katanya.

Berkendara sepeda motor misalnya, butuh waktu tempuh sekitar 2 jam. Kondisi jalan ke desa itu masih memprihatinkan.

Jarak antara Desa Salugatta ke Desa Pasapa sekitar 20 kilometer. “Kan lewat Pontanakayyang ke Desa Pasapa, pak,” sebut Ahmad.

Selama wawancara dengan Kepala Puskesmas Salugatta ini, sesekali ada suara perempuan dewasa yang menyela di belakang, lebih tepatnya menguatkan keterangan narasumber ini—mungkin istri Ahmad Syarif.

Pengenalan dan pengetahuan detail Ahmad Syarif pada kisaran Kecamatan Budong-Budong itu, terbilang wajar sebab ia sudah dua tahun lebih menjadi punggawa puskesmas di sana.

“Saya di sini sejak 2016,” ujarnya, menjadi penutup obrolan pagi ini.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR