Ki-Ka: salah seorang pemuda Desa Pasapa’, Sekretaris Desa Pasapa’ Aras, dan Kepala Desa Pasapa’ Paulus, Topoyo, Jumat siang, 4 Mei 2018. (Foto: Sarman SHD)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Dari pemuda Hairullah H. Judani, seorang ASN berkarir baik di salah sebuah OPD di Pemkab Mamuju Tengah, wawancara dengan Paulus dan salah seorang pemuda Desa Pasapa’ itu terwujud.

Maiki’ (mariki’, red)) kanda. Ada seorang kades layak ditulis,” begitu Haerullah di ujung telepon seolah beri sugesti kepada kru laman ini, Jumat siang, 4 Mei 2018.

Dan, diskusi pun berlangsung santai—jurus wawancara pun digeber pula. Begitulah riwayat tulisan ini hadir di hadapan Anda, Pembaca yang Budiman.

Ia masih muda. Baru 31 tahun. Sudah berkeluarga, dan setelah menikah dengan Sripina (25 tahun), keduanya telah dikarunia seorang anak.

Pada saat kru laman ini sedang berbincang—atau lebih tepatnya memberondong sejumlah pertanyaan—dengan Kades Paulus, pada duduknya di sisi kiri Paulas, tak jarang ia menyunggingkan senyum, dan sesekali pula menganggukkan kepala—sebuah pertanda penjelasan Paulus tak salah.

Pemuda berpostur kecil dalam balutan kulit memutih ini, tahu benar apa yang diutarakan Paulus. Ia bukan hanya seorang pemuda desa di kampung baru itu, tapi jabatannya selaku Sekretaris Desa Pasapa’ adalah faktor penjelas mengapa ia bukan sekadar pendengar setia dalam wawancara interaktif di Jumat siang itu.

“Saya dulu bertani di kampung. Lantaran sedikit ada pendidikan formal, maka beberapa tahun lalu saja coba peruntungan untuk masuk jadi perangkat desa,” cerita pemuda Aras kepada transtipo.com di Topoyo, Jumat siang, 4 Mei 2018, pukul 14.00 WITA.

Akhir tahun 2016 adalah waktu baik bagi Aras. Kala itu, ia ditunjuk jadi sekretaris desa. Mendengar penjelasan Aras, sang kades menyalip, “Dia yang ganti saya nanti.” Aras tampak tersipu, bangga malu.

Keserasian si tua Paulus dengan kalemnya Aras muda, terbersit kepasrahan pada ketulusan keduanya dalam mengayomi desa—paling tidak ini bisa dilihat kekompakan keduanya di bawah teriknya Jumat siang.

“Saya punya ilmu yang tidak bisa diambil di bangku sekolah. Ilmu itu diambil dari orang lain. Adinda ini punya pendidikan di sekolah. Kalau mantap ilmu dengan pendidikan sejalan, maka itulah sempurna. Ilmu itu tempat dipakai melobi. Kalau kuat melobi, ya, bagus.” Begitu percaya diri Paulus berbicara panjang lebar. Selingan tawa memecah perih gerahnya sinar mentari yang seolah menembus penutup atas warung itu.

Anak muda Aras mengaminkan cerita panjang lebar Paulus perihal kondisi terkini Desa Pasapa’, Kecamatan Budong-Budong, Mamuju Tengah.

Setelah tiba masa jabatan di periodenya sebagai kades, cerita Paulus, dan saya sudah selesaikan semuanya, seperti peningkatan jalan dan agenda-agenda pembangunan lain yang telah tertuang dalam rencana pembangunan jangka menengah tingkat dusun.

Menurut Sekdes Aras, ada pula 6 buah jembatan yang telah dibangun, di bawah kepemimpian Paulus. Jalan setapak meningkat jadi jalan desa. Antara dusun telah bisa dilalui. Dan, banyak lagi. Ini artinya, sebutnya, “Pak desa memang mementingkan pembangunan untuk masyarakat.”

Paulus menambahkan, tahun ini saya mau belikan armada transportasi, sebuah mobil hilux dobel cabin untuk dipakai antar-jemput warga desa ke rumah sakit.

“Itu bagi ibu yang mau melahirkan, iya. Bahkan, jika seorang ibu melahirkan di rumah sakit atau puskesmas, kita beri insentif sebanyak Rp 700 ribu. Kita sudah anggarkan. Tidak bisa dirubah-rumah lagi. Tidak boleh dibolak-balik lagi. Sudah tertulis,” begitu berapi-apinya Paulus menjelaskan kepada laman ini.

Bahkan, ujarnya, Pamsimas juga sudah masuk di desa kami. “Saat itu, perlu ada syaratnya jika program Pamsimas masuk desa. Belasan juta digotong royong. Karena warga kami tak mampu, saya upayakan tutupi,” aku Paulus.

Aliran listrik juga sudah masuk di desa. Tapi Pulus juga akui bahwa itu belum semua terlayani. “Pernah saya dijempol pak Bupati Mamuju Tengah. Saya dapat piagam karena dianggap tidak membeda-bedakan warga di sana,” kata Paulus.

Lalu, apa impian Paulus?

“Saya akan pensiun kalau saya sudah bangun desaku.” Karena di balik kesungguhannya itu, Paulus tutup perbincangan ini: “Cita-cita saya mau Desa Pasapa’ jadi desa pencontohan di Kabupaten Mamuju Tengah.”

Di ujung cerita pendek ini, Aras hendak menutupnya. “Dulu, biasa dipikul motor sampai tiga orang. Dan, tak jarang warga bermalam di jalan. Tapi, beberapa tahun terakhir ini sudah berubah drastis.”

Seuntai kilasan sejarah Aras kisahkan kepada laman ini. Warga Desa Pasapa’ umumnya dari gunung juga. Ada Mambi, Aralle, dan daerah lainnya. “Tapi kami dari Desa Salukepopo’, Bambang, yang pindah kesini. Bisa saya bilang keluarga gunung yang isi desa kami.”

Tempo dulu, cetusan nama Pasapa’ datang dari Mantak, salah seorang tetua kampung yang di kemudian hari dipercaya sebagai ketua salah satu dusun, dari tiga dusun yang ada. Saat itu Kepala Desa Lumu’ adalah Haji Asmar.

Beliau (Mantak, red) dari Sondonglayuk, Mambi, campuran dari Toraja juga,” kata Sekdes Aras.

Dalam memori pak Mantak, cerita Aras, nama Pasapa’ terinspirasi dari nama sebuah gunung: Buntu Pasapa’. “Ini bukti kearifan lokal yang menunjukkan kita dari atas.”

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR