Tujuh puluhan penumpang kapal batal berangkat ke Kaltim dan terlantar di pelabuhan Babana, Mateng, pada Senin sore, 1 Juli 2019, lantaran petugas kapal menolak penumpang ini naik kapal karena kapal sudah penuh penumpang sejak di pelabuhan Mamuju kota. (Foto: Ruli)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Pada Senin, 1 Juli 2019, sejak pukul 16.30 hingga 17.58 WITA, kru laman ini mendapati 70an penumpang terlantar di pelabuhan Banana, Budong-Budong, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng). Para penumpang ini hendak berlabuh ke Kalimantan Timur (Kaltim), ke Kabupaten Bontang salah satunya.

Penumpang yang memadati pelataran pelabuhan penyeberangan di Babana itu, selain warga Kabupaten Mateng juga tak sedikit yang berasal dari kabupaten lain di Provinsi Sulbar.

Di pelabuhan Babana saat itu sedang sandar kapal KM Entebe Expres. Para penumpang sudah tahu, jika sore mulai gelap—seperti pada Senin kemarin itu—maka sudah waktunya naik ke kapal.

Dalam antrian barisan yang mulai perlahan bergerak untuk melangkah ke jalur masuk pintu kapal, namun sejurus dengan itu pula sejumlah petugas kapal berkesiap bertahan melarang mereka.

Tak ayal, ketegangan terjadi. Semburan ungkapan pedas dari para penumpang dibalas sebanding dengan petugas kapal. Adu mulut berlangsung sengit.

“Pegawai kapal larang kami naik kapal. Dia bilang sudah full (penuh) karena ada penumpang dari Mamuju kota,” kata Abd. Gafur, salah seorang calon penumpang asal Dusun Patulana, Desa Budong-Budong, Mateng menirukan penjelasan salah seorang kru kapal tersebut.

Ketika dikonfirmasi salah seorang masinis kapal KM Entebe Expres, ia mengtakan bahwa kapasitas muatan kapal hanya bisa memuat sekitar 175 orang. “Kapal sudah penuh,” katanya.

Ia jelaskan, pada saat kapal sandar di pelabuhan Mamuju kota, penumpang yang naik sebanyak 190 orang, sehingga penumpang yang ada di pelabuhan Banana ini tidak bisa lagi dimuat karena kapasitas kapal terbatas.

Penumpang kapal batal berangkat ke Kaltim dan terlantar di pelabuhan Babana, Mateng, pada Senin sore, 1 Juli 2019. (Foto: Ruli)

“Sepertinya komunikasi antara pihak kapal dengan penanggungjawab di pelabuhan ini kurang baik. Masak tidak bisa antisipasi ini. Seharusnya ada info ke kami kalo hari ini tidak bisa naik, jadi kita tau, ga’ usah repot-repot kesini, apalagi orang jauh dan bawaannya banyak kan kasian,” ujar Abd. Gafur kesal, mewakili rekan-rekannya.

Melalui sambungan telepon, petugas dan agen di pelabuhan Babana yang bernama Abd. Hamid mengatakan, kami di sini tidak menyangka akan terjadi seperti ini, soalnya pihak pelabuhan sudah jauh hari komunikasikan ke pelabuhan Mamuju kota agar tiap ada kapal yang muat, disisakan jatah atau kuota untuk penumpang yang ada di pelabuhan babana ini.

“Karena memang rutenya kapal ini antara pelabuhan Mamuju kota dan pelabuhan Babana. Kejadian ini membuat kami di sini malu kepada penumpang dan kecewa dengan pihak pelabuhan sana (Mamuju kota, red). Kenapa kita di sini tidak disisakan untuk kouta atau jatah penumpang, padahal kami sama-sama tahu kalau kapasitas kapal tersebut sangat terbatas. Hanya dapat menampung 175 orang,” jelas Hamid lagi.

Karena itu, kata Hamid, penumpang kita tolak karena kapal pada saat sandar di pelabuhan Mamuju, sekitar 190 penumpang yang naik, sehingga kita tidak kebagian jatah penumpang.

“Mereka tidak menyisakan untuk kita di sini. Dua kali sudah kita dikasik begini oleh pihak sana. Kasihan memang teman-teman penumpang yang datang dari jauh, akhirnya mereka batal berangkat padahal ini bukan keinginan kita. Kami sudah maksimal di sini. Atas kejadian ini penumpang menyalahkan kita,” ujar Abd. Hamid.

Padahal, katanya, jauh-jauh hari sudah kita sering komunikasikan ke pelabuhan kota Mamuju agar selalu dibagi jatah penumpang. “Kan, bagus kalo mereka di sana membagi kuota penumpang, kan adil. Seharusnya kan jatah tiap dermaga ada,” ujarnya.

Kata yang paling afdol Abd. Hamid haturkan kepada penumpang di pelabuhan Babana, Mateng, yang sudah terlanjur kesal adalah: “Agar penumpang dapat mengerti atas kejadian ini. Kami juga sudah bekerja maksimal melayani.”

RULI SYAMSIL

TINGGALKAN KOMENTAR