Villa D'Breeze di Desa Tondok Bakaru, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa . Villa ini berada di kawasan wisata alam, dari persawahan hingga bukit-bukit yang tampak tertata. Berjarak sekitar 3 kilometer dari kota Mamasa. (Foto: Sarman Sahuding)

TRANSTIPO.com, Mambi – Mas ojek yang berwajah tirus, meski jaket jins biru tua menutupi badan hingga lengan, jelas lelaki berambut gondrong ini memiliki badan tak ‘berisi’.

Belum lama saya berdiri di ujung ‘jembatan kuning’ ketika tali rem motornya ditarik seketika, dan mendadak berhenti.

Bocah lelakinya yang berdiri di tumpangan depan motor, ia titipkan di sebuah warung makan, tak jauh dari tempat saya berdiri.

“Tunggu Bapak di sini yaa.” Sang anak yang masih berseragam sekolah itu geleng-geleng kepala. Jadilah kami bertiga di atas motor Supra setengah tua menelusur jalan berkelok sebelum sampai di rumah pengojek ini.

Villa D’Breeze, Tondok Bakaru Mamasa. (Foto: Sarman Sahuding)

“Dia hanya ke sekolah absen, mas. Saya antar ke rumah dulu,” kata mas Ojek itu sebelum berjalan ke rumahnya.

Sekitar satu kiloan meter setelah melalui tanjakan yang berkelok, kami tiba di Kantor Camat Mamasa. Kantor ini tutup, tapi lampu di teras kantor menyala. Masih pagi memang, belum jam delapan. Kamis, 11 Maret 2021, memang hari libur, dalam kalender Masehi dan Hijriah disebutkan Hari Kebesaran Islam: Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Bukan ini tujuan, tapi warga sekitar Kantor Camat Mamasa bisa menjadi petunjuk kepada seseorang yang hendak saya temui. Dan, benar, saya dan mas Ojek menerima penjelasan yang sama di mana rumah tinggal seseorang yang saya maksudkan itu.

Andi Firdaus (50-an tahun) pemilik Villa D’Breeze, Tondok Bakaru, Mamasa. (Foto: Sarman Sahuding)

Kami tengah berada di Desa Tondok Bakaru. Kampung Wisata yang sungguh-sungguh pesohor. Kebun Pinusnya yang viral di media sosial, Wisata Sawahnya yang sungguh menarik, bahkan alam Tondok Bakaru ini seolah Tuhan “bentuk” dengan panorama yang cukup indah untuk Pariwisata.

Beberapa menit kemudian kami tiba di persimpangan, persis di ujung jalan betonisasi tua. Ke arah kanan, agak menurun sedikit sudah tampak persawahan penduduk yang cukup indah, juga ragam obyek-obyek wisata.

Hanya beberapa ratus meter melintasi jalan berlumpur, yang di kiri-kanan terhampar persawahan, kami tiba di sebuah rumah milik sahabat diskusi saya sejak beberapa tahun lalu.

Nama akrabnya Rahman (50-an tahun). Lekaki ini “belum jadi apa-apa” di Pemkab Mamasa sejak saya kenal belasan tahun lalu. Di teras rumahnya yang lapang tumbuh dedaunan semerbak yang membuatnya asri nan sejuk, saya mengontaknya.

Salah satu asesoris berupa sandal untuk pengunjung di Villa D’Breeze, Tondok Bakaru, Mamasa. (Foto: Sarman Sahuding)

Di ujung telepon suara akrab menyambut. “Saya di kota dinda. Semalam saya ke kota karena hari ini Hari Jadi Kabupaten Mamasa, to. Sore kami balik ke Tondok Bakaru.”

Singkat cerita, 6 examplar buku yang saya antarkan pak Rahman, ia arahkan dititip di rumah pak Andi Firdaus. “Titip saja. Beliau itu keluarga Mamanya juga (Ipar).”

Mas Ojek berbalik ke arah jalan yang sama yang kami lalui datang, saya memilih jalan kaki. Jaraknya hanya puluhan meter saja.

Di bukit yang dekat, bahkan sejauh-sejauh mata memandang, bukit-bukit itu dengan pohon pinus yang indah, sejumlah gazebo tertata rapi memantik minat saya….. lalu tiba di pintu pagar sebuah rumah “istimewa”.

Persawahan di kawasan wisata Tondok Bakaru, Mamasa. (Foto: Sarman Sahuding)

Andi Firdaus yang dimaksud pak Rahman ada di lokasi. Ia sedang mengawasi — tepatnya menemani — hampir selusin tukangnya. Ada yang mengerjakan bangunan yang sudah berdiri dua lantai, yang lainnya menata taman.

Sebuah papan reklame kecil di dekat pintu masuk tertulis: D’Breeze Villa Tondok Bakaru, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa. Lengkap alamat email dan dua deretan nomor kontak person.

Andi Firdaus perlu menggerakkan kaca matanya lalu menariknya tapi tak sampai ia lepas saat menatap saya, dan sejurus itu ia sebut nama saya. Ia tertawa sambil jalan “menuntun” saya ke rumahnya.

Hamparan bukit dengan sejumlah gazebo sengaja dibuat di kawasan wisata Tondok Bakaru, Mamasa. (Foto: Sarman Sahuding)

Perkenalan tak lama. Perkenalan dengan Andi Firdaus satu bilangan waktu dengan pak Rahman. Sudah lama, tapi lama tidak bertemu. Bertahun-tahun lamanya.

Dulu, beliau Polisi. Ia bilang sudah pensiun sejak 5 tahunan lalu. Saat aktif sewaktu saya kenal dulu, ia tercatat sebagai personil Polsek Mamasa tapi lebih banyak “melekat” di Punggawa satu Kabupaten Mamasa: Ajudan lebih tepatnya.

Beliau mangajak saya duduk di lantai dasar rumah panggung miliknya, sebuah rumah kayu penuh ukiran, tangga depannya berkelok dua, lantai lotengnya tinggi — mungkin 3 meter.

“Sejak saya pensiun, saya bangun ini dinda, yaa tempat santai,” Andi Firdaus mulai cerita.

Sebuah gazebo yang mewah dibangun di tengah kolam ikan di Villa D’Breeze, Tondok Bakaru, Mamasa. (Foto: Sarman Sahuding)

Berdiri di jembatan buatan antara kolam ikan dan kolam renang, sesekali ia menjawab telepon. Saya tak perlu uraikan keindahan “Taman Firdaus” milik Andi Firdaus.

Meski tak begitu luas, sekitar setengah hektar saja, tapi semua ada di dalam: Cafe dua lantai, tempat mancing, 3 kamar inap dengan bangunan terpisah yang atapnya bentuknya lancip.

Saya tak perlu jelaskan, sejumlah foto di bawah ini terang benar sebuah tempat inap plus bersantai yang komplit. Sungguh memuaskan.

“Kolam itu sebenarnya untuk anak-anak, tapi orang dewasa juga turun mandi,” kata Andi Firdaus sambil tertawa.

Ia punya anak tiga, tapi satu anaknya telah lebih dulu “pergi”. “Yang perempuan kerja di bank, di Mamasa. Yang laki Polisi di Sulsel.”

Villa D’Breeze milik keluarga Andi Firdaus berada di Desa Tondok Bakaru, Kabupaten Mamasa. (Foto: Sarman Sahuding)

Andi Firdaus hanya pulang ke kota pada malam Jumat saja. Enam hari sisanya ia habiskan di villanya itu — sekalian untuk pembenahan. “Itu bangunan dua lantai yang belum diatapi akan jadi tempat inap juga.” Saya hitung sekenanya pada petak atas dan bawahnya akan bertambah sekitar 6 kamar.

Di atas loteng, kata Firdaus, “Sebenarnya ada dua kamar VIP, tapi orang lebih suka di bawah.”

Villa di Tondok Bakaru ini didatangi banyak orang. “Baru-baru ini rombongan BPJS Sulbar datang kesini. Tanggal 18 Maret nanti, 40 orang datang kesini. Sudah booking. Makanya air kolam kosong karena saya bersihkan, nanti tanggal 16 Maret baru diisi air.”

Sumber air kolam diambil dari gunung, jemari telunjuk Andi Firdaus mengarahkan pandangan saya ke sebuah puncak gunung yang amat jauh.

Andi Firdaus (kanan).

Sawah di sebelah bangunan dalam Villa sedang dikerja dengan mesin penggaruk tanah.

“Itu sawah warga di Desa ini. Saya mau beli tapi kan ada 4 rumpun keluarga yang punya, sisa satu rumpun keluarga yang belum setuju.”

Ia menyilakan saya datang kembali bersama keluarga — dan, saya yakin istri dan anak saya beratus-ratus persen mau… he he hee.

“Nginap di sini pak Sarman,” sapa pak Andi, ramah.

Ikan-ikan meliuk di bawah kolam yang luas datang menghampiri Andi Firdaus. Ia bilang, biasanya ikan itu kalau lihat manusia menjauh, ikan di sini malah mendekat.

D’Breeze Villa Tondok Bakaru, Mamasa. (Foto: Sarman Sahuding)

Villa Andi Firdaus ini memang membuat siapa saja akan datang mendekat, bahkan menginap beberapa malam.

Alam Tondok Bakaru — persawahan dan deretan bukit-bukitnya — sungguh memesona. Semua hadir secara kasat mata saat berada di villa yang baru ini.

Selamat berkunjung, selamat menikmati kebahagiaan bersama alam: Karunia Tuhan yang tiada habis-habisnya. (Sumber FB)

SARMAN SAHUDING

TINGGALKAN KOMENTAR