Seorang wanita di Desa Tebassi, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa, Sulbar, sedang menenun sambu’ khas Mamasa, Selasa, 26 September 2017. (Foto: Frendi Christian)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Warisan leluhur, itu juga adalah amanah, sudah semestinya dijaga sebagai legacy untuk generasi selanjutnya.

Warisan dimaksud adalah karya kreatif penenun di Desa Tebassi, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa.

Di Desa Tebassi itu, puluhan wanita menenun. Pekerjaan ini mereka lakukan sejak berumur belasan tahun. Bagi mereka, tenunan adalah warisan dari leluhurnya secara turun-temurun.

Tenun Mamasa memang sangat indah dan cantik. Namun di balik kecantikannya itu, hadir berkat tetesan keringat. Mereka—para penenun wanita itu—mesti sabar sebab membuatnya cukup rumit.

Proses membuat tenun itu memakan waktu yang lama. Tapi meski begitu, penenun itu sudah akrab dengan waktu.

Untuk menenun selembar kain sambu (sarung) atau selimut misalnya, diperlukan waktu sekitar dua minggu hingga tiga minggu lamanya.

Magdalena, seorang penenun di Desa Tebassi, kepada laman ini menuturkan, menenun adalah pekerjaan yang digelutinya sejak ia berusia belasan tahun. Ilmu menenun diperoleh dari orang tuanya.

Sejak belia, wanita di desa itu sudah pandai menenun. Memang, laman ini menyaksikan sejumlah wanita yang masih belia—masih kisaran belasan tahun—sudah cekatan memainkan alat-alat tenun tradisional itu.

Alasanan mereka suntuk menenun sambu’ dan selimut a la Mamasa, bukanlah hal kebaruan. Alasannya sangat sederhana.

Selain karena warisan leluhur yang harus dilestarikan, menenun juga sebagai salah satu cara menyiasati kerasnya kehidupan, ya, apalagi kalau bukan untuk memeroleh sumber kehidupan sehari-hari.

Magdalena mengisahkan, dalam menenun ada sebuah hal yang cukup rumit dan membutukan waktu lama, yakni saat membuat motif pada kain tenun yang dikerjakannya.

“Yang sulit saat kita membuat motif. Kita serba hati-hati dan tak boleh salah,” kata Magdalena kepada transtipo pada Selasa, 26 September 2017.

Dalam hitungan Magdalena, di desanya ada sekitar 50 wanita yang seprofesi dengannya: bekerja sebagai penenun.

Bagi warga Desa Tebassi—utamanya kalangan wanita—menenun adalah pekerjaan rutin mereka, pula demi menjaga warisan leluhur di desanya. (Foto: Frendi Christian)

Hasil tenunan mereka adalah pesanan dari kios penjual kain tenun Mamasa yang berada jalan poros Mamasa.

“Kami tak punya modal modal untuk beli bahan-bahan. Jadi, ya, terpaksa bekerja laiknya buruh. Kami baru kerja sesuai pesanan para penjual di kios-kios itu pak,” kata Magdalena lagi.

Tasik—masih kerabat Magdalena—juga bercerita. “Dalam selembar hasil tenun biasa dijual Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu. Tergantung corak atau motif dari kain tenun yang dibuat, apakah berupa baju atau selimut,”cerita Tasik.

Tenun Mamasa tak akan tergerus oleh zaman, tak dimakan usia. Meski di zaman modernisasi saat ini, tenunan tradisional Mamasa sudah menjadi corak budaya daerah yang berada di pegunungan Sulawesi Barat.

Warisan dari leluhur ini mesti dijaga agar tak hilang ditelan masa. Dan, yang paling penting: bisa hidup dari hasil tenunan.

“Makanya, kami akan pelihara baik-baik karunia Dehata ini,” kata Magdalena.

Tabe’

FRENDI CHRISTIAN

TINGGALKAN KOMENTAR