100 th Years of the Spirit. Memperingati 100 tahun semangat Demmatande Cs dan Perjuangan Kemerdekaan di Benteng Salu Banga, Paladan, Kecamatan Sesena Padang, Kabupaten Mamasa pada 24 September 2014. (Foto: Sarman Sahuding)

Bagian TIGA

TRANSTIPO.com, Mambi – Demmatande tidak mau dijajah oleh Belanda. Demmatande melihat dan merasakan perlakuan tentara Belanda dengan menyiksa rakyat saat bekerja rodi dan dipaksa bayar pajak.

Tekad perlawanan sudah bulat.

Demmatande mengumpulkan pasukannya di Benteng Salu. Banga. Di dalam benteng itu didirikan sejumlah rumah, termasuk rumah Sura’ (ukir) sebagai tempat berkumpul para pasukan beserta keluarganya.

Di dalam Benteng Salu Banga sudah ada senjata meriam atau marattini, senjata api, parang, tombak dan sejumlah alat pertahanan tradisional lainnya.

Tak lama kemudian perang terbuka pun pecah. Serangan pertama tentara Belanda ke Benteng Salu Banga terjadi pada tanggal 11 Agustus 1914, yang penyerangan ini dipimpin oleh Komandan Detasemen Vraagan — seorang perwira tentara Belanda.

Serangan dengan tembakan beruntun dalam waktu lama itu berhasil dipatahkan oleh pasukan Demmatande.

Dalam laporan berbahasa Belanda dalam catatan Sejarah Perjuangan Demmatande (W.M. Manala, 1987), Y. Van Driil mengakui kalau memang tentara Belanda dipukul mundur oleh pasukan Demmatande di Paladan.

Serangan kedua ke Bentenh Salu Banga dipersiapkan. Sebelum serangan kedua itu tiba, tentara Belanda merasa perlu meminta bantuan sejumlah personil ke Majene dan Makassar.

Serangan kedua ini dengan kekuatan sebanyak 180 personil tentara Belanda. Tepat tanggal 9 Oktober 1914, serangan kedua dilancarkan yang dipimpin oleh Loys Coortes.

Serangan kali ini tentara Belanda lebih kuat lantaran adanya dukungan pasukan dengan jumlah yang lebih babyak dibanding pada serangan pertama.

Melihat ini, Demmatande dan pasukannya tak gentar. Saat baku tembak berlangsung, tiga orang tentara Belanda tewas. Paling naas, seorang tentara Pembantu Letnan Belanda terluka oleh tembakan pasukan di Paladan.

Perang ini berlangsung selama beberapa hari, dan akhirnya tentara Belanda berhasil dipukul mundur oleh pasukan Demmatande.

Kegagalan yang kedua kalinya.

Sebelum melakukan serangan ke Paladan yng ketiga kalinya, pihak Belanda mengumpulkan lebih banyak pasukan perang. Belanda mendatangkan tambahan pasukan dari Mamuju, Enrekang, Parepare, dan Makassar.

Total tambahan kekuatan Belanda sebanyak 300 (tiga ratus) tentara. Sebelum menyerang, Belanda menyusupkan mata-mata untuk mengintai, menelisik, dan memahami situasi termasuk taktik pasukan Demmatande di Benteng Salu Banga. (Bersambung)

IRVANDI DEMMATANDE – SARMAN SAHUDING

TINGGALKAN KOMENTAR