Tampak batu gunung yang bercampur pasir yang digunakan dalam pengerasan jalan menuju Desa Taupe, Mamasa. (Foto: Frendy)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Proyek peningkatan pembangunan jalan Buntu Buda-Taupe, Kecamatan Mamasa, dinilai dikerja asal-asalan lantaran material yang digunakan pihak rekanan dalam pengerasan jalan itu adalah batu gunung yang bercampur pasir.

“Melihat pekerjaan itu sangat miris. Seharusnya bahan material yang digunakan dalam pengerasan adalah kerikil, tapi yang digunakan malah batu gunung yang bercampur pasir. Hal ini terkesan dikerja asal–asalan. Selain itu pengerasan juga tidak mengunakan walas hanya manual,” ujar Marthen, salah satu pemuda yang berada di Desa Taupe kepada transtipo.com, Senin, 7 Mei 2018.

Hal senada juga diungkapakan Pampang, warga di desa itu, yang menurutnya pekerjaan jalan sangat memprihatinkan karena menggunakan anggaran besar yang seharusnya dikerjakan dengan baik, sehingga tidak merugikan masyarakat di Desa Taupe.

Proyek itu dikerjakan oleh CV. Cahaya Karen dengan anggaran sebesar Rp. 925.500.000, bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) Tahun Anggaran 2018.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Permukiman Rakyat (PUPR) Kabupaten Mamasa, Menthon, yang dikonfirmasi sejumlah awak media mengatakan, pihaknya telah menerima telepon dari masyarakat, bahkan ia mengaku persoalan itu sudah diberitahukan kepada bawahannya, yakni Kepala Bidang Bina Marga.

“Saya sudah sampaikan kepada kepala bidangnya menelusuri pengawasnya untuk meninjau langsung ke lokasi. Secara prosedur dari dinas, saya sudah perintahkan, dan sudah dicek langsung ke lokasi,” sebutnya.

Meski telah memerintahkan bawahannya untuk meninjau langsung ke lokasi, namun ia mengaku belum tahu apakah benar pekerjaan tersebut tidak sesuai bestek.

Namun dirinya menegaskan akan melakukan penindakan secara tegas jika pihak rekanan melakukan pekerjaan tidak sesuai yang semestinya.

FRENDY CHRISTIAN

TINGGALKAN KOMENTAR