100 th Years of the Spirit. Memperingati 100 tahun semangat Demmatande Cs dan Perjuangan Kemerdekaan di Benteng Salu Banga, Paladan, Kecamatan Sesena Padang, Kabupaten Mamasa pada 24 September 2014. (Foto: Sarman Sahuding)

Bagian DUA

TRANSTIPO.com, Mambi – Tahun 1906, di Tana Toraja mulai diduduki oleh kolonial Belanda. Tahun 1907, tentara Belanda mulai masuk ke daerah Pitu Ulunna Salu — Mamasa.

Ekspansi Belanda tidak mulus sebab warga Mamasa melakukan perlawanan sebagai bentuk penolakan terhadap penjajahan. Perlawanan warga Mamasa dalam bentuk perang fisik dengan menggunakan persenjataan tradisional, sementara tentara kolonial Belanda memakai persenjataan modern.

Perang ini tidak seimbang, sehingga Mamasa dengan mudah diduduki oleh tentara kolonial Belanda. Sejak tahun 1909, perlawanan fisik meredup, dan sejak saat itu kolonial Belanda praktis menguasai daerah pegunungan — Sulawesi bagian barat.

Mamasa beruntung sebab memiliki seorang patriot muda yang terlahir di Paladan. Namanya Demmatande atau Daeng Matande. Dari Demmatande-lah semangat perlawanan itu kembali membuncah dan menginspirasi di bumi Pitu Ulunna Salu — Kondosapata.

Perlawanan Demmatande terhadap tentara kolonial Belanda sangat beralasan dan masuk akal. Ketika itu tahun 1910. Rakyat Mamasa dipaksa bayar pajak, dan yang dianggap berat ketika diberlakukan kerja rodi atau kerja paksa.

Rakyat dipaksa membuat jalanan di sepanjang jalan dari Mamasa hingga daerah Kunyi, bahkan sampai ke Takatidung, Polewali.

Banyak rakyat yang tidak mampu bayar pajak kepada kolonial Belanda. Kerja paksa juga sangat menyiksa rakyat pegunungan. Termasuk Demmatande dipaksa bekerja di Sumarorong hingga Polewali.

Rakyat Paladan dan rakyat pegunungan umumnya disuruh kerja paksa yang diawasi oleh mandor-mandor Belanda. Terkadang rakyat dipukul, dicambuk, atau tindakan tidak terpuji lainnya.

Tindakan para mandor Belanda yang dianggap tidak senonoh dan kejam itulah yang membuat Demmatande menolak melanjutkan kerja paksa. Ia memberontak. Ia mengajak semua rakyat yang sedang kerja paksa di jalan-jalan untuk kembali ke kampung — di pegunungan.

Di Mamasa, tentara Belanda atau Marsose marah dan menargetkan akan menghukum Demmatande. Tentara Belanda sudah tidak sabar sehingga bergerak menuju kampung Paladan dan langsung mengobrak-abrik rumah kediaman Demmatande.

Ketika itu Demmatande sementara dalam perjalanan atau sedang berada di perbatasan antara Messawa dan Polewali.

Di Messawa, Demmatande dan rombongannya membuat benteng sebagai tempat pertahanan sementara.

Setibanya di Paladan, Demmatande kaget melihat rumahnya hancur. Lesung di depan rumahnya dibuang ke lembah dekat Salu Pangka oleh tentara Belanda. Tempayan tempat penampungan air dijadikan tempat pembuangan air besar (kotoran) oleh tentara Belanda. Isi rumah lainnya berserakan di mana-mana.

Melihat perlakukan tentara Belanda itu, Demmatande marah besar. Sejak saat itu, Demmatande kemudian menyerukan kepada semua pengikutnya untuk perang melawan tentara Belanda di Mamasa.

Ketika itu tahun 1912.

Sebelum meletus perang sengit, Demmatande membangun benteng di Paladan yang kemudian dikenal Benteng Salu Banga.

Rakyat Pitu Ulunna Salu — Mamasa — mendukung keputusan Demmatande untuk melawan tentara Belanda yang sudah tidak berperikemanusiaan itu.

Perang di Benteng Salu Banga benar-benar terjadi. (Bersambung)

IRVANDI DEMMATANDE – SARMAN SAHUDING

TINGGALKAN KOMENTAR