Anak-anak pun tak ketinggalan sebagai penyaksi Buttu Liarra, ‘negeri di atas awan’, di Mamasa. Mereka berduyun-duyun ke sana pada Sabtu malam, 9 September 2017. (Foto: Frendi Christian)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Saat sinar mentari mulai menyinari bumi, di pagi hari tentunya, dan Anda membuka jendela—yang cahaya terang itu menembus masuk ke rumah—ketika itu pandanglah ke luar.

Di antara cahaya mentari itu, jika Anda perhatikan seksama, tampak beterbangan laron-laron—makhluk kecil sebesar bintik-bintik di sepanjang ukuran jendela Anda atau memenuhi sepanjang lorong cahaya yang menembus masuk rumah Anda.

Tapi pengunjung di Buntu Liarra, Mamasa, tentulah bukan laron-laron. Itu hanya pengandaian. Sebab, para pengunjung ke tempat wisata—yang baru ‘ditemukan’ di Mamasa itu—setiap akhir petang tiba dengan jumlah yang banyak.

Begitulah menterjemahkannya fenomena baru itu di obyek wisata alam Mamasa yang—belakangan ini—viral di mulut, terlebih di media sosial dan media online.

Media nasional pun—televisi di Jakarta misalnya—ikut memblow up (meledakkan dalam berita) obyek wisata Buttu Diarra. Lokasi ini berada di Desa Desa Talimbung, Kecamatan Tanduk Kalua, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.

Terpantau pada Sabtu malam lalu, 9 September 2017, tak kurang 50 tenda berjejer di atas pucuk Buntu (puncak) itu. Ia baru saja ditemukan, makanya ia menarik minat banyak orang dan rela datang ke sana.

Laman transtipo—tepatnya Frendi Christian—mengamatinya secara langsung, tapi tak terdata benar detailnya berapa jumlah pengujung di malam itu.

Tapi, bisa diyakini bahwa tak kurang seratusan orang—untuk tidak mengatakan ratusan orang banyaknya—yang sengaja memilih bermalam di Buntu itu.

Mereka memang harus bermalam agar esoknya, di pagi-pagi buta, ia bisa menyaksikan secara asli ‘negeri di atas awan’—awan pekat menebal menutupi perkampungan.

Pada jam 4 subuh, ketika orang di luar sana masih terlelap dalam tidur, di Buntu Liarra, pengujung sudah harus berdiri berselimut tebal atau jaket berlapiskan wool. Dari atas Buttu, mereka memandang lereng-lereng gunung—juga perkampugan—yang ditutupi awan putih tebal. Pemandangan ini bisa disaksikan hingga jam 9 pagi.

Duhai indahnya. Inilah ‘negeri di atas awan’ sungguhan. Di Mamasa tempatnya.

Tampak di kegelapan sejumlah tenda berjejer di atas puncak Diarra. Memuaskan dahaga suka dan senang memang butuh pengorbanan. Pemandangan ini dipotret pada Sabtu malam lalu, 9 September 2017. (Foto: Frendi Christian)

Hermawanto, salah seorang warga di dekat lokasi itu mengungkapkan, sejak dua minggu terakhir ini objek wisata Buntu Liarra tak pernah sepi pengunjung.

“Sudah dua minggu ini selalu ramai. Tapi paling ramai saat ini, di malam Minggu, karena jumlah pengunjung mencapai ratusan orang,” kata Hermawanto.

Selain jadi objek wisata, warga lainnya bercerita, konon lokasi yang kini jadi sumber datangnya ‘laron-laron’ itu, juga adalah tempat bersejarah.

“Berdasarkan cerita orang tua dulu, Buntu Liarra ini adalah tempat bersejarah, di mana gunung ini dijadikan benteng pertahanan tatkala masih melawan penjajah Belanda,” kisah Bonggabarana, salah seorang tokoh masyarakat di Desa Talimbung.

Untuk mencapai lokasi Buntu, dibutukan waktu sekitar 25 menit dari ibukota Kabupaten Mamasa dengan mengendarai roda dua. Itu baru sampai di Desa Balla Peu.

Selanjutnya, tracking menuju puncak Liarra di Desa Talimbung, butuh waktu sekitar 20 menit lagi. Sebetulnya, ada jalur lain dari arah Kecamatan Tanduk Kalua untuk hingga di Desa Talimbung. Tapi tetap juga harus tracking sekitar 20 menit.

Harus sedikit berjuang memang jika ingin memuaskan dahaga kecintaan pada panorama alam yang permai nan pesona takjub tiada tara.

FRENDI CHRISTIAN/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR