Daniel Suvyanto, pelukis muda dari Mamasa sedang berdiri di depan salah sebuah lukisannya. (Foto: Ist.)

Ralat: postingan awal pada foto utama adalah lukisan tarian Bulu Londong Mamasa, seharusnya pada foto utama adalah lukisan mayat berjalan, dan hal itu telah diperbaharui. Mohon maaf atas kekeliruan sebelumnya. Redaksi

TRANSTIPO.com, Mamasa – Cerita tentang mayat berjalan, mungkin hanya bisa ditemukan di salah satu daerah pegunungan di Sulawesi Barat, tepatnya di Kabupaten Mamasa.

Cara berkarya masyarakat di pegunungan Quarles itu, adalah sebentuk entitas budaya, yang karena itu mencirikan suatu sejarah Mamasa di masa lalu.

Mayat berjalan di Mamasa sudah didengar dan diketahui banyak orang—termasuk di luar Mamasa.

Rasionalitas kita memang tak menjangkau manakala mayat—seorang atau lebih yang sudah meninggal—masih dapat berjalan.

Dalam penuturan dan cerita-cerita di kampung, leluhur orang Mamasa mampu membuat mayat berjalan. Itu hal biasa bagi mereka.

Mengingatkan kembali apa yang pernah terjadi pada masa silam itu, kini hadir sebuah lukisan yang menggambarkan tentang mayat berjalan.

Lukisan mayat berjalan ini, lahir dari karya seorang anak muda Mamasa, yang masih peduli dengan budayanya.

Daniel Suvyanto, namanya. Ia akrab disapa Daniel. Ia seorang anak muda dari Desa Kallan, Kecamatan Tabulahan, Kabupaten Mamasa. Sekarang ia menempuh pendidikan di Universitas Negeri Makassar (UNM)—kini sudah semester III, Jurusan Seni Rupa. Dialah sang pelukis mayat berjalan itu.

Dalam lukisan mayat berjalan itu, tergambar bagaimana mayat itu diarahkan untuk berjalan. Lukisan itu ‘direflika’ berdasarkan cerita Ibunya di kampung ketika ia masih kecil. Ia ingat, dulu heboh setelah warga kampung tahu bahwa ada mayat bisa berjalan.

Menurut Daniel, tetua kampung mengisahkan, jika ada orang Mamasa—termasuk yang telah menetap di luar Mamasa—ketika telah meninggal maka mayatnya dibawa ke kampung halamannya.

Dulu, karena belum ada kendaraan roda empat—akses jalan pula belum seterbuka saat ini—maka mayat itu dibuat berjalan hingga tiba di kampung yang dituju. Kekuatan magic ini datang dari keluarga si mayat.

Satu cara sebetulnya bisa dilakukan, yaitu memikul secara beramai-ramai. Tapi membuat jalan si mayat dipandang lebih ringan dibanding memikulnya.

Daniel Suvyanto, mahasiswa UNM Makassar, bersama karya lukisannya yang lain tentang mayat berjalan di Mamasa.
(Foto: Ist.)

Melukis mayat berjalan bukanlah tanpa alasan yang kuat.

“Saya mulai prihatin dengan anak muda sekarang yang sudah tidak lagi mengenali budayanya. Makanya saya mengangkat lukisan itu dengan tema budaya Mamasa. Pesan yang ingin saya sampaikan adalah mengingat kembali budaya nenek moyang. Bahwa dulu, kami punya budaya yang keren dibanding budaya luar,” urai Daniel.

Sebetulnya, Daniel tak hanya melahirkan karya lukisan mayat berjalan, tapi sejumlah lukisan tentang kebudayaan Mamasa juga telah ia buat. Sebutlah misalnya, lukisan tari Bulu Londong, refleksi kisah perang tempo dulu. Ada pula lukisan rumah Adat dan para penenun kain Mamasa.

Sejumlah lukisan Daniel itu—rencananya—akan dipamerkan di Jakarta, dalam bulan Februari ini.

“Saya sudah daftar pelbagai lukisan untuk dipamerkan di Jakarta. Saya diminta bawa lukisan mayat berjalan sebagai indentitas orang Mamasa. Saat ini, saya tinggal menunggu informasi dari Jakarta kapan pameran itu dilaksanakan,” kata Daniel.

FRENDY CHRISTIAN

TINGGALKAN KOMENTAR