Jelajah TMMD, Ikhtiar Mata Air Kehidupan

407
Ki-Ka: Dandim 1428/Mamasa Letkol Inf. Stevi Palapa, seorang Warga Desa Banea, Luther Cornelius (82 tahun) di perbukitan Desa Banea, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, Jumat sore, 17 September 2021, sekitar pukul 17.00 WITA. (Foto: Sarman Sahuding)

“TMMD Wujud Sinergi Membangun Negeri”

TRANSTIPO.com, Mamasa – Ujung tongkat kayu itu tak pernah lepas dari genggaman kedua telapak Luther Cornelius (82).

Persis di tepian kelokan jalan yang lapang dan rata namun tak begitu luas, tapi cukup untuk memarkir beberapa kendaran motor.

Di persimpangan jalan itu seolah dipermak jadi tempat beristirahat dan singgah mengatur nafas: yang dari arah bawah kecapaian mendaki dengan nafas tersengal-sengal, dari ketinggian perlu menenangkan rongga dada akibat guncangan yang miris, walau itu berkendara.

Begitulah yang terjadi pada Jumat petang, 17 September 2021, sekitar pukul 17.00 WITA.

Perjalanan pulang dari Desa Banea, Kecamatanan Sumarorong, Mamasa, rombongan telusuri jalan yang sungguh-sungguh menantang: licin, dalam berair, dan terjal. Memang, separuh jalan setapak itu sudah dibeton.

Paling depan Dandim 1428/Mamasa Letkol Inf. Stevi Palapa, disusul beriring sejumlah personil TNI dan kami kru media. Semuanya berkendara motor, ada yang sendiri yang lainnya berboncengan.

Stevi Palapa dan Pasamboan Pangloli lebih dulu sampai di tempat bekas gundukan tanah gusuran gunung di sebelah jalan, yang lama-lama menjadi datar.

Beberapa menit kemudian delapan motor berlumpur parkir di tempat peristirahatan itu. Saat itu cuaca cerah. Meski mentari masih tampak di ketinggian nun jauh di sana, panas teriknya sudah mulai bersahabat.

Sore itu sungguh menyenangkan. Sejauh mata memandang, lekukan gunung seolah dekat secara kasat. Empat arah mata angin melepas pandang penuh pesona.

Hutan yang belum terjamah oleh manusia padat menghijau kehitam-hitaman, ladang pekebun yang diantarai tebaran pohon pinus begitu indah.

Alam lepas Banea dan Batang Uru amat menakjubkan — TUHAN begitu pemurah ciptakan relief alam seindah begitu.

Dompet Stevi dan Doa Luther

Tarikan nafas Luther Cornelius belum reda benar dalam keadaan normal. Ia masih ngos-ngosan. Jadilah tongkatnya penopang tumpuan badannya sembari sesekali menarik dan menghela nafas panjang.

Dandim 1428/Mamasa Letkol Stevi Palapa bersama rombongan bercengkrama sejenak dengan dua warga Desa Banea di persinggahan di bukit Banea, Sumarorong, Mamasa, Sulawesi Barat, Jumat, 17 September 2021. (Foto: Sarman Sahuding)

Dandim Mamasa Stevi Palapa mengambil jarak terjangkau dengan Luther Cornelius. Searah jarum jam, Tomatua Ada’ Bumi Sumarorong Pasamboan Pangloli (50an tahun) coba membantu mengenalkan Komandan Kodim (Dandim) Mamasa itu kepada kakek Luther.

Ia tertawa lepas. Kawan seiringnya yang berjalan kaki dari kebun miliknya pun ikut tertawa mendengar lelucon Tomakaka Pangloli. Dandim Stevi kemudian mengenalkan diri. Jadilah obrolan segala rupa topik.

Dandim Stevi sengaja tak mengurai panjang terkait kemujuran Desa Banea dan Desa Batang Uru beroleh nikmat TMMD ke-112 di wilayah kerja Kodim 1428/Mamasa tahun 2021, sebab ia sadar kakek Luther butuh yang lebih nyata: jalan baik di kampungnya agar mudah dilalui kendaraan — minimal untuk roda dua.

Luther menyimpan riwayat sejarah yang panjang dan menarik. Sepotong kisahnya diterjemahkan oleh Pamong senior Pemkab Mamasa, Pasamboan Pangloli.

“Orang tua ini sudah lama saya kenal. Lama baru ketemu lagi. Bapaknya, Cornelius, mandor jalan di PU waktu zaman Belanda. Beliau itu yang mandori jalan dari Messawa ke Mamasa,” terang Pasamboan Pangloli, menerjemahkan cerita kakek Luther di tikungan jalan pada Jumat petang itu.

Sebelum berpisah, Stevi Palapa merogoh kantong belakang. Ia ambil dompet, dibukanya uang lembaran lalu terlebih dulu ia jabat tangan tetua yang satu, kemudian giliran Luther.

Luther mengatupkan uang selembaran merah itu ke keningnya sambil bicara seraya berbisik. “Masempo jallekki le Ponggawa.” Doanya pada Stevi Palapa pengantar jumpa harus berpisah dulu.

Kami tarik gas ke penurunan yang dalam hitungan saya kemudian sudah tak terlampau jauh ke kota Sumarorong.

Kakek Luther dan rekannya kembali merapikan bakulnya dan secara perlahan ia ayun tongkatnya seraya tungkainya bergerak pelan menapak jalan pendakian: entah jam berapa kakek Luther dan rekan tiba di Banea, kembali merenda hari-hari berikut di peraduan bersama anak cucu.

SARMAN SAHUDING

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini