Hajjah Masrita Sunusi, Mambi, Kamis, 24 Januari 2019. (Foto: Sarman Sahuding)

TRANSTIPO.com, Mambi – Namanya Hajjah Masrita Sunusi, S,Pd. Tapi perempuan 44 tahun ini akrap dipanggil Hj. Totong. Bersama suaminya H. Hasril, keduanya membangun usaha perdagangan umum di kota Mambi, Kecamatan Mambi sekitar 20-an tahun silam.

Di wilayah eks Kecamatan Mambi—kini dalam wilayah Kabupaten Mamasa—usaha yang dibangun keduanya ini cukup sukses. Bahkan sejak beberapa tahun lalu, usahanya telah merambah ke Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju.

Bersama Hasril dan Totong, Tuhan telah menganugerahinya 3 orang anak: 1 orang laki-laki dan 2 orang perempuan.

Kedermawanan keduanya juga salah satu “kunci” sukses usahanya itu. Tak sedikit orang bergantung kepadanya, terutama dalam hal tempat mencari mata pencaharian dari beragam usaha yang dibangunnya itu.

Selain sejumlah orang yang ia beri kesempatan mengail rezeki bersamanya, tak jarang pula Hj. Masrita dan H. Hasril datang langsung ke dapur keluarga yang dekat dengannya.

Keduanya tak sudih manakala ada di antara orang dewasa yang bekerja padanya dalam keadaan susah. Bahkan urusan Haqiqah misalnya, ia sering menyediakan kambing untuk disembelih bagi orang tua si bocah yang baru terlahir ke dunia.

Urusan pernikahan juga begitu. Ia kerap membantu dalam segala hal. Bantuan kepada Rumah Ibadah, apalagi.

Soal berbagi sudah bukan rahasia lagi di Mambi. “Telapak” tangan Hj. Totong dan H. Hasril begitu hangat kepada banyak orang.

Para tetangga rumahnya di kota Mambi marasakan betul kehadiran pengusaha penderma ini.

Kesuksesan keduanya membangun keluarga dan usaha perdagangannya itu tak lain dari rezeki Allah semata. Tapi dalam menjalani hidup kesehariannya, keduanya tampil sederhana.

Soal kesederhanaan ini, penulis kerap saksikan. Ke tempat pesta pernikahan kerabat di Mambi atau kampung-kampung lainnya di sekitar Mambi misalnya, ia sering hadir cukup dengan berkendara roda dua atau motor. Padahal beberapa mobil terparkir di belakang rumahnya.

Drs. Mas’ud Sunusi, Ayahanda Siti Mutiah Wulansari, Mambi, Kamis, 24 Januari 2019. (Foto: Sarman Sahuding)

Jika suaminya tak sempat memboncengnya, terkadang ia diboceng oleh salah satu karyawannya. Kemewahan tak tampak menyolok, padahal nyaris semuanya ia punya—untuk ukuran di Kabupaten Mamasa.

Ketertarikan pada Seni dan Budaya di Rante Mambi

Hj. Masrita dan H. Hasril memiliki semangat yang sama dalam hal ketertarikan melestarikan seni tradisional dan budaya Mambi. Ha ini bisa dilihat ketika ia memproduksi sebuah rekaman lagu-lagu khas bahasa Mambi asli.

Sebuah album yang diperkenalkan kepada masyarakat luas ia luncurkan pada tahun 2013. Mulai dari proses penyusunan naskah lagu, pembuatan video klip, hingga produksi rekaman ia biayai sendiri.

Ada 10 buah lagu daerah Mambi dalam klip video itu. Muatan lokal Mambinya hampir kental 100 persen.

Kasidah Rebana juga tak luput dari perhatian Masrita alias Hj. Totong. Sudah banyak gendang kasida ia sumbangkan kepada sejumlah kelompok pakkasida di Kecamatan Mambi, sejak beberapa tahun lalu.

Dalam keseluruhan proses pernikahan Wulan dan Fadli, terutama di acara pihak perempuan, Hj. Masrita pasang badan total. Mulai dari biaya segala macam, bahkan hingga urusan cuci piring dan makan malam-siang semua keluarga yang datang ke rumah Hasniati-Mas’sud—kakak kandungnya sendiri—diperhatikan secara cermat dan teliti.

“Kalau ada yang kembali ke rumahnya dan belum sempat mencicipi makanan, ibu aji sarankan untuk diantarkan bungkusan makanan dan selengkapnya kepada keluarga itu ke rumahnya,” kata kakak Hasniati pada saya.

Prosesi acara Adat Rante Mambi dalam rangkaian pernikahan Siti Mutiah Wulansari, A.Md. Keb (Wulan) dengan Muhammad Sadli, S.A.N (Sadli) juga berada dalam kontrol Hj. Masrita dan keluarga besarnya.

Sungguh, sebuah perhatian dengan empati yang cukup tinggi dari seorang penderma luar biasa yang sederhana.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR