Ilustrasi. (Foto: Net.)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Akhir akhir ini sejumlah kasus di Kabupaten Mamasa yang melibatkan anak di bawah umur menyita perhatian publik.

Pasalnya, belakangan ini beberapa kasus remaja rupa-rupa bermunculan, mulai dari kenakalan remaja hingga pelecehan seksual.

Kasus sodomi misalnya, yang terjadi terhadap anak di bawah umur, juga seringkali terjadi tawuran pelajar, hal ini juga menjadi perhatian publik karena jelas memberi dampak negatif psikologis bagi perkembangan anak.

Namun, kebanyakan anak yang menjadi korban, seolah-olah ada pembiaran utamanya dari pihak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) karena pihak keluarga korban pun tidak terbuka, terlebih jika kasus serupa telah ditangani oleh kepolisian.

“Ini yang menjadi kendala kami untuk melakukan pendampingan dalam rangka pemulihan trauma psikologis,” ujar Kepala Dinas DP3A Mamasa Festy Paotonan saat dijumpai di ruang kerjanya, Kamis, 20 Novemver 2019.

Dikatakannya, secara terbuka pihaknya telah berupaya melakukan sosialisasi untuk menyampaikan kepada masyarakat bahwa DP3A siap memberi pendampingan kepada anak jika ada tersangkut kasus.

“Tapi terkadang masyarakat tidak melaporkan kalau ada kejadian,” katanya.

Festy  menjelaskan, di Mamasa ini yang masih memegang teguh budaya merasa malu ketika tersangkut kasus semacam itu, apalagi pelecehan seksual, karena dianggap aib yang sebisa mungkin tak diketahui oleh banyak orang.

“Jadi terkadang kasus seperti itu diselesaikan secara kekeluargaan saja,” ungkapnya.

Lanjut Festy menjelaskan, beberapa waktu lalu salah satu kasus sodomi tengah ramai diperbincangkan banyak orang, namun pihaknya tak mendapat laporan akan kasus tersebut. Ia tahu kemudian melalui sosial media.

Setelah itu pihaknya merespon dengan melakukan koordinasi terhadap pihak Polres Mamasa yang menangani kasus tersebut, bahkan hingga saat ini masih melakukan koordinasi untuk mengawal kasus itu.

Meski demikian, pihaknya berharap agar ke depan masyarakat lebih terbuka jika terjadi kasus yang melibatkan anak di bawah umur, sehingga pihak DP3A dapat memberi upaya pemulihan trauma psikologis bagi korban.

“Saya harap pendampingan untuk pemulihan trauma psikologis tetap dilakukan bagi anak yang jadi korban, sehingga kejadian yang menimpanya tidak mengganggu dalam tumbuh kembangnya di kemudian hari,” tandasnya.

WAHYUANDI

TINGGALKAN KOMENTAR