Warga jemaat kalvari, Desa Taupe, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), bergotong royong memikul material pembangunan gereja. (Foto: Yohanes)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Tak jauh dari ibu kota Kabupaten Mamasa, warga berbondong-bondong memikul material pembangunan gereja sejauh tiga kilometer, lantaran tak dijangkau kendaraan roda empat (mobil).

Pembangunan gedung Gereja jemaat Kalvari, Dusun Kanan, Desa Taupe, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), telah berlangsung sejak awal tahun 2019, pasca diguncang gempa bumi November 2018 lalu, mengakibatkan gedung gereja jadi porak – poranda.

Daerah ini bukan jauh, cukup dekat dari ibu kota Kabupaten Mamasa, bahkan masih dalam lingkup Kecamatan Mamasa. Namun, juga masih cukup tertinggal. Terbukti saat warganya terpaksa harus mengangkut segala material pembangunan rumah ibadah dengan cara dipikul perorangan.

Bukan hanya kaum lelaki, bahkan kaum ibu – ibu pun yang ada di jemaat gereja itu, turut serta dalam mengangkut material berupa atap seng demi kelangsungan pembangunan rumah ibadah mereka. Sejak awal dimulainya pembangunan gedung gereja tersebut, semua materialnya hanya dapat diangkut dengan sepeda motor dan bantuan dari tenaga manusia dengan bergotong royong.

Namun, dengan kondisi cuaca ekstrem saat ini sepeda motor pun tak bisa melintas karena licin, hingga tenaga manusia harus terjun. Meski demikian, masyarakat di jemaat itu tak mengurungkan semangat demi kelancaran pembangunan rumah ibadah mereka.

“Ini hanya sebuah tantangan saja bagi kami untuk mempercepat pembangunan gereja yang sudah setahun lebih berlangsung,” ucap ketua panitia pembangunan Buntu Layuk, Minggu 2 Februari 2020, sore tadi.

Selain itu kata Buntu Layuk, dengan cara itupun budaya gotong royong warga di jemaat itu masih terpelihara dengan baik, meski budaya itu seakan dihapuskan oleh masa kekinian. Mereka memukul atap seng dengan panjang delapan meter secara berkelompok, setiap kelompok terdiri dari empat orang.

Dikatakan Buntu Layuk, setiap kelompok hanya bisa membawa atap hingga enam lembar sekali jalan. sementara bagi kaum ibu – ibu hanya bisa membawa satu lembar atap untuk dua orang, dengan cara kedua ujungnya diletakkan di kepala masing – masing.

“Material – material seperti kayu dan lainnya yang menjadi kebutuhan juga kami pikul,” katanya.

Sementara salah seorang warga Anis menyebutkan, dua dusun besar di Desa Taupe ini yakni Dusun Ne’ke’ dan Kanan memiliki jumlah penduduk yang cukup banyak, berdasarkan data jumlah Kepala Keluarga (KK) kurang lebih 300 KK. Dan tidak jauh dari ibu kota Kabupaten Mamasa, hanya sekitar tiga kilometer dari pusat kota. Meski begitu, daerah ini pun tak kunjung mendapat perhatian dari pemerintah utamanya akses jalan.

Kata Anis, sejak Kabupaten Mamasa terbentuk beberapa tahun silam, akses jalan menuju dua dusun itu tidak mengalami perubahan masih menjadi keresahan warga karena satu-satunya akses menuju kota Mamasa.

Menurut Anis, perkembangan perekonomian serta kesejahteraan masyarakat sangat ditunjang oleh akses jalan, walaupun hasil ekonomi masyarakat meningkat jika akses tidak mendukung, itu akan tetap membuat warga resah.

“Kami berharap kepada pemerintah untuk memperhatikan jalan kami, kasian kami belum menikmati jalan bagus,” Anis kepada Transtipo sore tadi.

WAHYUANDI

TINGGALKAN KOMENTAR