Ditengah masyarakat diresahkan oleh adanya virus corona, Pemerintah menghimbau agar tempat - tempat umum yang berpotensi melibatkan orang banyak untuk ditutup sementara demi memotong rantai penyebaran virus corona, sementara Pasar di Mamasa masih tetap beroperasi, apa langkah pemerintah selanjutnya? (Foto: Wahyu)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Antisipasi penyebaran virus Covid – 19, Pemerintah Daerah Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, mengambil tindakan untuk meliburkan segala aktivitas yang melibatkan orang banyak.

Termasuk jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) diminta untuk libur, namun, tetap bekerja di rumah masing – masing. Tak terkecuali sejumlah sekolah juga diliburkan, sebagai upaya social distancing.

Hal itu dituangkan dalam Surat Edaran Bupati Mamasa yang ditandatangani Wakil Bupati Martinus Tiranda, Nomor 048/159/Set/III/2020, tanggal 16 Maret 2020, lalu.

Dalam surat edaran tersebut, Pemerintah menghimbau kepeda seluruh mayarakat, untuk menunda atau menghentikan kegiatan yang melibatkan orang banyak dan event – event lainnya, untuk memotong rantai penyebaran virus corona.

Disaat semuanya telah dilaksanakan, masih ada saja tempat kerumunan orang banyak yang tetap beroperasi hingga saat ini. Salah satunya pasar.

Beberapa pedagang sayuran di kota Mamasa masih menjalankan aktivitas seperti biasanya, bukan tak takut dengan virus corona. Namun, mereka beralasan jika tidak berjualan maka kebutuhan sehari – hari tidak terpenuhi.

Seperti yang diungkapkan salah satu pedagang sayur Lena, ia mengatakan, Pemerintah meminta kepada seluruh masyarakat untuk menghentikan segala aktivitas yang melibatkan orang banyak.

Kata dia, hal itu merupakan upaya pemerintah untuk mengantisipasi adanya penyebaran virus corona ditengah masyarakat, utamanya di Kabupaten Mamasa ini. Bahkan diakuinya, jika itu merupakan perhatian pemerintah kepada masyarakatnya.

“Tapi apa boleh buat, karena kalau kami tidak menjual kami mau makan apa,” kata Lena, Senin 23 Maret 2020.

Meski diakuinya, selama aktivitas kantoran dan sekolah diliburkan, sangat mempengaruhi pendapatan mereka setiap harinya. Namun, tetap berjualan hanya untuk memenuhi kebutuhan hari – hari walaupun tak sebanyak sebelumnya.

Kata Lena, sebelum ada isu virus corona, dari hasil dagangannya ia mendapatkan keuntungan sebesar 50.000 rupiah per harinya.

Setelah masyarakat diresahkan adanya virus yang mematikan itu, Lena mengaku beberapa hari belakangan, ia hanya mendapatkan keuntungan dari hasil dagangannya sebanyak Rp.20.000 hingga 30.000 rupiah per harinya.

Lena mengatakan, dirinya sangat gentar dengan adanya virus Covid – 19. Namun, ia mengaku dilema menghadapi situasi dan kondisi saat ini.

“Tokke’ tak diissanan aka ladipogau’ pak, aka ketekki’ ma’baluk tak dengan diallianni barrak, moi sititti’na mo,” kata Lena dalam bahasa Mamasa dengan cemas.

Kata Lena, dirinya benar – benar bingung dengan situasi saat ini, disisi lain takut dengan keadaan yang meresahkan masyarakat, tapi jika menghentikan aktivitasnya seperti berujalan, bagaimana dengan kebutuhan hari – hari.

“Utamanya pembeli beras, dan yang lainnya,” tandasnya.

WAHYUANDI

TINGGALKAN KOMENTAR