Tim Gugus Tugas Penanganan Covid - 19, melakukan pemeriksaan bagi warga yang melintas di daerah perbatasan Polewali - Mamasa, menuju Kabupaten Mamasa. (Foto: Istimewa)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Pemerintah telah melakukan tindakan untuk meliburkan segala aktivitas yang melibatkan orang banyak, baik mahasiswa, anak sekolah maupun Aparatur Sipil Negara (ASN).

Bukan tanpa alasan, langkah ini sebagai upaya pemerintah mengantisipasi adanya penyebaran Covid – 19, yang tengah meresahkan masyarakat Indonesia secara umum.

Sehingga pemerintah menghimbau kepada ASN dan pelajar, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga perguruan tinggi untuk bekerja dan belajar dari rumah, demi memutus mata rantai penularan Covid – 19 tersebut.

Namun nyatanya, tidak sedikit warga yang memanfaatkan hal tersebut untuk mudik. Seperti yang terjadi di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar).

Sejak Sabtu 21 Maret hingga 26 Maret 2020, Pemerintah Daerah (Pemda), melalui tim Gugus Tugas Penanganan Penyebaran (GTPP) Covid – 19 Kabupaten Mamasa mencatat sebanyak 5.400 waraga Mamasa yang berada diluar telah kembali ke Mamasa.

Tim Gugus Tugas Penanganan Covid – 19 ini, telah mendirikan posko disetiap pintu masuk wilayah Kabupaten Mamasa sejak Sabtu 21 Maret lalu, untuk melakuakan pantauan dan pemeriksaan bagi warga yang melintas di perbatasan.

Tim Gugus Tugas mendirikan posko ditiga pintu masuk wilayah Kabupaten Mamasa diantaranya, perbatasan Kabupaten Polewali Mandar – Mamasa, Mamuju – Mamasa, dan Toraja – Mamasa.

Berdasarkan data yang diperoleh, dari tiga pintu utama Kabupaten Mamasa ini, tercatat ribuan warga yang telah kembali ke Mamasa berasal dari berbagai daerah.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mamasa dr Hajai S Tanga, sejak didirikan posko ditiga pintu utama telah banyak warga Mamasa yang pulang akibat wabah Covid – 19.

Dikatakan Hajai, dari 5.400 warga Mamasa yang datang dari berbagai daerah berdasarkan data tim Gugus Tugas yakni, 5000 orang melalui pintu masuk di Messawa, atau perbatasan Polewali – Mamasa dan 400 warga datang melalui Tabang atau perbatasan Toraja – Mamasa.

“Untuk yang datang melaui pintu masuk Tabulahan kami belum dapat laporannya,” kata Hajai, Kamis 26 Maret 2020, tadi malam.

Kata Hajai, dari semua warga yang kembali ke Mamasa telah dilakukan pemeriksaan kesehatan, dan hingga saat ini belum ada Orang Dalam Pantauan (ODP).

Meski demikian kata Hajai, sejumah warga yang telah kembali ke Mamasa diminta untuk tetap mengisolasi diri di rumah masing – masing, sebagai upaya pencegahan.

Hajai bilang, terhadap warga yang telah kembali ke Mamasa, pihaknya tidak dapat menetapkan sebagai ODP, karena saat dilakukan pemeriksaan di pintu masuk Mamasa saat tiba, tidak mengalami gejala apapun.

“Tapi kami tetap lakukan registrasi kepada meraka, dan kami minta untuk isolasi diri masing – masing,” katanya.

Pihaknya hanya berkoordinasi dengan Pemerintah setempat agar tetap malakukan pemantauan terhadap warganya yang telah tiba, jika dikemudian hari mengalami keluhan maka segera dilaporkan kepada pihak medis.

“Baru pihak medis malakukan pantauan, karena tidak bisa dinyatakan ODP kalau tidak ada gejala apa – apa yang dirasakan,” tandasnya.

WAHYUANDI

TINGGALKAN KOMENTAR