Jalan Arteri PEN Tapalang Terhenti, Warga Tuntut Ganti Rugi Lahan

1695
Tampak dua buah rumah milik warga Desa Orobatu, Tapalang, Mamuju pas di ujung jalan dan di sisi jalan arteri Tapalang yang terhenti saat ini. (Foto: Sarman Sahuding)

TRANSTIPO.com, Tapalang – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat mendapat pinjaman dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021 dari PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) sebesar Rp300 miliar.

Perusahaan swasta pemberi pinjaman tersebut untuk kepentingan pembangunan di daerah-daerah di Indonesia tetap di bawah kendali Kementerian Keuangan RI.

Pinjaman PEN untuk Sulawesi Barat sendiri digunakan membenahi kebutuhan infrastruktur jalan dan jembatan. Pinjaman ini, pemerintah Provinsi Sulawesi Barat akan membayar bunga sebesar Rp55,6 miliar dan sudah harus lunas paling lambat tahun 2027.

Artinya, mulai 2023 pihak Pemprov Sulbar akan mencicil utang dari pinjaman pokok sebesar 300 miliar itu.

Di Kabupaten Mamuju misalnya, pemerintah provinsi membangun akses jalan baru di Kecamatan Tapalang, Mamuju.

Rumah warga Desa Orobatu, Tapalang, Mamuju yang pemiliknya minta ganti rugi. (Foto: Sarman Sahuding)

Pembangunan jalan pada salah satu ruas jalan di bawah kewenangan Pemprov Sulawesi Barat itu dinamai pembangunan Jalan Arteri Tapalang – Tapalang Barat.

Jalan Arteri ini dibangun di atas sepanjang pinggir pantai Tapalang, tak jauh dari permukiman warga Deda Orobatu, Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju.

Jalan Arteri di Tapalang itu sudah berjalan sejak awal tahun 2022. Jalan ini dianggarkan sebesar Rp15 miliar.

“Panjang total 1 km, nilainya 15 M,” penjelasan singkat Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Sulawesi Barat, Saparan pada Minggu, 2 Oktober 2022.

Jalan arteri Tapalang, Mamuju, dibangun dari pinjaman dana PEN Sulawesi Barat sebesar Rp15 miliar tahun 2022. (Foto: Sarman Sahuding)

Pekerjaan jalan ini berhenti sejak beberapa waktu lalu lantaran sejumlah warga di Desa Orobatu menuntut ganti rugi kepada pemerintah dan perusahaan.

Terdapat empat rumah warga di desa itu yang akan dirobohkan jika pembangunan jalan arteri ini dilanjutkan. Serta lahan perkebunan dan pekarangan rumah warga lainnya terdampak langsung jika proyek tak dihentikan dulu.

Dikonfirmasi pada Minggu pagi, 2 Oktober, Kepala Desa Orobatu Maslin (32) membenarkan penghentian sementara proyek arteri tersebut.

“Sekitar 7 kk/warga yang minta ganti rugi,” katanya di Tapalang, Minggu pagi.

Maslin menyebut, “Bisa temui namanya pak Khaliq, pas ujung jalan arteri itu rumahnya.”

Penghentian sementara pembangunan jalan arteri di Tapalang itu, menurut Saparan, berhenti karena pembebasan lahan belum diselesaikan dinas perkim.

Jembatan senilai Rp17 miliar di jalan arteri Tapalang, Mamuju. (Foto: Sarman Sahuding)

“Pembebasan lahan oleh dinas perkim saya tidak tahu,” demikian Saparan dalam keterangan tertulisnya.

Randy, salah seorang pegawai di Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkim) Provinsi Sulawesi Barat — yang menurut warga di sekitar proyek itu sering melihat Randy datang ke lokasi proyek jalan arteri — menjelaskan, untuk lahan lokasi ± 8 pemilik..

“Dan semoga secepatnya mereka yang terdampak akan dibayarkan,” jelas Randy, Minggu, 2 Oktober.

Terkait tuntutan warga desa yang minta ganti rugi lahan yang akan dilalui proyek lanjutan arteri itu, menurut Randy, tim dari KJPP (Jakatta) yaitu Konsultan Jasa Penilai Publik, mereka yang menaksir atau menilai lokasi dan bangunannya.

Kepala Desa Orobatu Maslin (32 tahun). (Foto: Sarman Sahuding)

“KJPP itu independen,” singkat Randy.

Salah seorang pemilik rumah persis berada di ujung jalan arteri yang sementara terhenti itu, Firman Khaliq (30), di ujung telepon mengatakan, “Rumahku itu yang persis kena jalan arteri. Saya bangun sekitar 4 tahun lalu. Kami sempat tempatimi, tapi pas hancur lagi dindingnya kena gempa tahun lalu. Kami di Mamuju dulu.”

Firman tambahkan, “Ada itu sekitar 4 buah rumah kena jalan.”

Terpantau, Minggu pagi 2 Oktober, rumah Firman Khaliq tinggal bertopang tiang kayu. Dindingnya dari baru merah dan bekas lekatan semen telah teronggok di lantai, berserakan.

Di antara tiang kayu yang kokoh itu tampak tali jemuran pakaian. Sebuah sepeda motor tua terparkir pada sebuah kamar rumah yang sudah tak berdinding.

Di ujung telepon Minggu pagi tadi itu, Firman sedang berada di Mamuju kota bersama istri dan anak semata wayangnya.

Sebuah dekker yang rusak di Desa Orobatu, diklaim bahwa dekker ini rusak akibat sering dilalui truk proyek pekerjaan jalan arteri Tapalang. (Foto: Sarman Sahuding)

Di sampingnya, ayahnya, Khaliq sesekali bersuara, seolah hendak memperjelas penjelasan anaknya, Firman, saat sedang dikonfirmasi melalui telepon tanpa kabel.

Rumah Firman dan ayahnya, Khaliq, hanya berjarak belasan meter. Rumah itu persis seolah memunggungi badan jalan arteri. Jarak antara dinding rumah dan jalan arteri hanya beberapa depa saja.

“Takuk mi itu orang tinggali rumah pak kalau dipakai mi ini jalan,” kata seorang ibu paruh baya yang sedang beri makan anak kecilnya di Desa Orobatu, Minggu pagi. Ibu ini masih kerabat Firman Khaliq.

Di sebelah rumah Firman yang saparuhnya sudah tak berdinding setelah dihantam gempa 15 Januari 2021 lalu, tampak belasan pohon kelapa tumbuh dengan buah normal.

Di atas tanggul penahan ombak yang telah berumur, sejumlah bocah-bocah desa sedang main layang-layang. Mereka menghadap ke pantai. Di pagi Minggu, angin memang datang dari arah Tanete Pao, Tapalang. Di atasnya, daun kelapa dan ujung pohonnya bergoyang perlahan mengikuti terpaan angin.

Sebuah dekker rusak persis di depan Kantor Desa Orabatu. (Foto: Sarman Sahuding)

Saat dikonfirmasi terkait terhentinya pekerjaan proyek ini, Dandy, pimpinan perusahaan yang mengerjakan proyek jalan arteri di Tapalang menjelaskan, nanti setelah dinas perintahkan kerja.

Ia mafhum dengan penghentian sementara proyek yang ia kerjakan itu lantaran urusan pembebasan lahan warga belum tuntas.

“Bagusnya konfirmasi di Perkim sama PU kapan masyarakat mau dia bayar,” keterangan Randy, Minggu, 2 Oktober.

Belokan dari jalan Trans Nasional, di pintu jalan yang ditandai sebuah tugu tua di Tapalang itu, berdiri tower besar yang memancarkan sinyal kegunaan selancar internet.

“Tapi setelah gempa lalu, mulai sinyal internet tidak bagus di Tapalang,” cerita warga di desa itu.

Berpuluh meter kemudian, sebuah jembatan besar dan panjang telah tertanam kokoh. Di Minggu siang yang berselimutkan awan tebal, sejumlah perempuan tua dan muda memarkir sepedanya di atas badan jembatan sembari di antara mereka menyalakan blitz kamera ponsel.

Tak jauh di bawah jembatan, serombongan penduduk desa sedang mendorong perahu kayu bermesin ke tepian.

Jembatan di jalan arteri Tapalang ini dibangun oleh PT Latebbe Putra Group (Makassar) dengan menghabiskan biaya Rp17 miliar — satu jembatan memakan uang lebih banyak dari seribu meter jalan arteri, di Tapalang itu.

Dari keterangan Saparan, jembatan ini juga ada pembebasan lahan. “Jembatan lain pembebasan juga.”

Kades Orobatu ‘Marah’

Maslin mengeluarkan nada tinggi pada saat bunyi konfirmasi terkait jalan arteri.

Ia bilang, selama dikerja itu jalan arteri, mobil truk perusahaan lewat di jalan lama, jalan di desanya.

“Itu tigami dekker narusak-rusak i kontraktor. Kalau tidak naperbaiki kami demo, tuntut itu kontraktor,” tegas Kepala Desa Orobatu Maslin.

Memang, sebut Maslin, pernah dijanji kontraktornya untuk diperbaiki tapi tidak ada sampai sekarang.

Ia bilang, warga di desa sudah sering mengeluh pada dirinya terkait kondisi jalan di desanya yang tambah rusak setelah sering dilalui mobil perusahaan.

Jalan di depan rumah Kades Orobatu bak kubangan kerbau. Warga desa mengeluhkan jalan ini. (Foto: Sarman Sahuding)

Jalan di desanya, sebut Maslin, ini dulu jalan provinsi sebelum ada arteri. Ini akses tembus ke Tapalang Barat. Panjang kurang lebih 4 kilometer.

“Liat miki (menunjuk jalan di depan rumahnya, tambah dalam itu lubangnya. Sering sekalimi jatuh anak-anak sekolah dan ibu hamil karena licin dan tambah berlumpur ini jalan kami,” jelas Maslin.

Maslin bilang bahwa dalam waktu dekat ini mau tuntut itu perusahaan yang kerja jalan arteri di Tapalang.

Terkait pembebasan lahan, kades Maslin katakan, kalau pembebasan lahan tinggal tunggu pencairan dari Perkim Provinsi Sulawesi Barat.

“Tidak panjangmi, sisa 200 meter. Pemilik lahan kayaknya 7 orang. Semua setuju. Sudah TTD, tanda tangan kwitansi. Tinggal masuk ke rekening mereka itu, karena lewat rekening itu,” jelas Maslin.

Firman Khaliq juga akui bahwa dana pembebasan rumah/lahannya sudah didata. “Pihak Perkim janji minggu depan. Ya, minggu inimi, kami tunggu sampai 5 Oktober,” katanya.

Salah satu dekker yang rusak di Desa Orobatu, Tapalang, Mamuju. (Foto: Sarman Sahuding)

Meski sudah dijanji akan dibayarkan ganti rugi lahan mereka yang akan dilalui lanjutan proyek jalan arteri Tapalang, Firman tak tahu berapa nilai rupiah yang akan ia terima.

“Itu mi, kami tidak tau berapa mau dikasi. Surat yang kami tanda tangan tidak ada angkanya,” ujarnya.

Perihal sumber ‘kemarahan’ kades Maslin itu, yakni tiga dekker yang rusak pada jalan di desanya itu, Dandy — kontraktor arteri yang dimaksud Maslin — menjawab enteng.

“Saya kira sudah,” Dandy singkat.

Ia tambahkan, coba koordinasi sama pengawasku. Pengawasnya yang ia maksud adalah Adi.

“Koordinasi Adi dalam,” tambah Dandy. Adi yang dimaksud Dandy, sesuai keterangan Maslin, yakni Adi Supriadi. — Ketua BPD Desa Orobatu saat ini.

“Kalau belum nanti suruh kerja kalau sudah kerja orang di dalam,” jelas Dandy.

Dandy jamin, setelah pekerjaan jalan arteri dimulai kembali, sekalian akan ia kerjakan dekker yang rusak dan jalan bak kubangan kerbau yang menjadi penyulut ‘kemarahan’ kades Maslin.

Pekerjaan proyek arteri di Tapalang induk (Kecamatan Tapalang) itu lebih dulu dikerjakan fisik jalannya, barulah kemudian bicarakan pembebasan lahan yang akan dilalui jalan tersebut di sisa 200 meter lagi.

SARMAN SAHUDING

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini