Ali Baal Masdar (kiri) dan Enny Anggraeni Anwar pada Deklarasi Akbar, Mamuju, Sulbar, 23 September 2016. (Foto: Zulkifli)

Sejawat kami di lingkaran gubernur dan wakil gubernur yang akan dilantik Jumat sore nanti, tahu persis bahwa kami bukanlah ‘wartawan magang’.

Tentang seluk-beluk Jakarta, bukanlah hal asing bagi kami. Atau tentang kesantunan dalam ‘kedinasan kami’ bukanlah urusan pelik yang mesti diperdebatkan.

Kami datang di tanah sejarah Sunda Kelapa ini adalah sebentuk bagian ingin bersama-sama “mengusung keranda” sang pemenang.    

JAKARTA terasa masih dalam suasana terbelah. Atau mungkin pula noktah dari keterbelahan warga ibukota akibat pertarungan dua kubu di babak akhir Pilkada barusan.

Beriringan berjalan oleh enam pewarta muda sejak turun dari tangga ‘burung besi raksasa’ pada jam 10 pagi, Kamis waktu Jakarta. Selesai sudah penerbangan Makassar – Jakarta yang ditempuh dua jam itu. Kami berlalu dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten.

Setelah itu, kami seolah dipertemukan pada sebuah romantika Jakarta yang tak begitu sejuk—sebuah pemandangan yang lain dari biasanya. Yakni, tentang keramah-tamahan, tentang kesungguhan candaan meski tak saling kenal-mengenal, dan tentang kepolosan berkomunikasi. Semuanya tampak hambar saja.

Terasa ada yang berubah di Jakarta saat ini. Entah kami salah menginterpretasikannya, atau memang begitulah adanya. Soal ‘prahara’ yang dihadapi warga Jakarta di Pilkada lalu, warga Sulbar telah paham adanya.

Tentang kami yang berenam ini: Samad (Banniq.com), Sudirman (Radar Sulbar), Aco Ahmad (LKBN Antara), Anhar (Katinting.com), Rahmat (TVRI Sulbar), dan Sarman (transtipo.com).

Gaya bertutur kami dengan dialek dan langgam khas Sulawesi—Mandar lebih tepatnya—adalah sebuah ‘bunyi’ yang tak lazim terdengar di jazirah Betawi ini.

Dengan kekhasan itulah sehingga kami seolah dikuntit sorotan-sorotan mata yang tak tajam namun tersirat jikalau kami berasal dari salah satu daerah yang tak tersangkut-paut dalam pertarungan di Pilkada Jakarta lalu.

Kami datang di Jakarta ini sekadar untuk menjadi penyaksi pelantikan sang pemenang di Pilkada Sulbar Malaqbiq.

Malam sudah kian terasa dingin ketika kami masih saja nekat ‘keluyuran’ di Jakarta ini. Bukan untuk urusan apa. Lewat inisiasi Zul—sapaan akrab salah seorang pejabat teras Kantor Perwakilan Pemprov Sulbar di Jakarta—kami bisa hingga ke kawasan ‘kota tua’ Jakarta.

Tak bisa pakai satu armada taksi karena kami berenam. Nah, dengan bapak Zul itulah, kami tak perlu merogoh kocek untuk sekadar naik kendaraan antar-jemput.

Tujuan kami ke kawasan wisata itu, sesungguhnya hal sepele: makan malam. Maklum, meninggalkan hotel tempat kami menginap yang tak jauh dari Masjid Istiqlal, Jakarta, pasca magrib lalu menuju ke Hotel Borobudur, tiba-tiba suasana menghangat dengan perjumpaan seorang senior di Mamuju.

Dia—senior yang dimaksud itu—adalah Saparuddin. Sehari-harinya aktif sebagai Kepala Biro Umum Pemprov Sulbar. Dari senior Sapar inilah urusan santap malam di kota tua itu terlampiaskan.

Setelah itu urusan Kamis malam di Jakarta pun kami lengkapkan di tempat peraduan di Hotel Sriwijaya, tempat kami menidurkan sekujur tubuh masing-masing.

Tapi sebelum itu, satu-persatu kawan-kawan kami yang bukan wartawan magang ini masih sempat menyibukkan diri tak-tik-tuk di depan laptop masing-masing untuk mengolah kabar-kabar indah tentang tujuan kami ke Jakarta.

Mengabarkan akan pelantikan Drs. H. Ali Baal Masdar, M.Si dan Hj. Enny Anggraeni Anwar sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulbar periode 2017–2022 di Istana Negara, Jakarta Pusat, oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Jadwal resminya tepat jatuh pada pukul 14.30 wib, Jumat sore, 12 Mei 2017. Saat inilah, atau setelah pelantikan ini, kita akan bersama-sama menyongsong hari baru, semangat baru, dan mungkin pula cita-cita baru untuk Sulbar yang kita angankan lebih baik lagi ke depan.

Selamat beristirahat para handai tolan di Sulbar sana.

Tabe’

ACO AHMAD/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR