Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi menggelar jumpa pers di Main Press Center Asian Games 2018 di Jakarta Convention Center, Senin Sore, 27 Agustus. (Foto: Kemenpora)

TRANSTIPO.com, Jakarta – Indonesia total telah mengoleksi 20 emas di Asian Games 2018. Raihan tersebut melampaui target 16 emas, sekaligus menjadi rekor emas terbanyak sepanjang keikutsertaan Indonesia di Asian Games. Rekor sebelumnya adalah torehan 11 emas ketika Asian Games 1962.

“Terima kasih kepada para atlet, pelatih, ofisial, dan semua pihak yang terlibat. Terima kasih juga atas dukungan dan doa tanpa henti dari masyarakat,” ucap Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, saat menggelar jumpa pers di Main Press Center Asian Games 2018 di Jakarta Convention Center, Senin Sore, 27 Agustus.

“Bagi yang belum menjadi juara, tak perlu berkecil hati. Saya harapkan masyarakat juga tidak mem-bully mereka di media sosial karena tidak ada satu pun atlet yang ingin kalah. Mereka berjuang sekuat tenaga. Penghormatan setinggi-tingginya harus kita berikan bagi para pahlawan olahraga bangsa,” lanjutnya.

Raihan 20 emas Indonesia dipastikan masih akan bertambah. Hal tersebut karena masih ada All-Indonesian Final di nomor ganda putra bulutangkis yang akan bertanding di Istora Senayan, Jakarta pada 28 Agustus 2018.

Pasangan Fajar Alfian/M. Rian Ardianto dan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon patut berbangga, karena untuk pertama kalinya akan terjadi All-Indonesian Final di nomor ganda putra bulutangkis Asian Games sejak Asian Games 1974 (Christian Hadinata/Ade Chandra vs Tjun Tjun/Johan Wahjudi).

Dengan demikian, dipastikan juga bahwa raihan emas cabang olahraga Olimpiade Indonesia akan bertambah. Sejauh ini, kita telah mengoleksi lima emas dari cabang olahraga Olimpiade/Olympic Sports (Angkat besi, Panjat Tebing, Karate, Tenis dan Dayung).

Terdapat sejumlah catatan istimewa di antara prestasi-prestasi tersebut. Eko Yuli Irawan meraih emas angkat besi Asian Games pertama Indonesia sepanjang sejarah. Hal serupa juga dicatatkan tim dayung putra Indonesia yang turun di nomor LM8+.

Pasangan ganda campuran Christopher Rungkat dan Aldila Sutjiadi mengakhiri puasa emas tenis Indonesia di Asian Games. Sebelumnya, pasangan ganda campuran Indonesia yang mampu meraih emas di Asian Games adalah Hary Suharyadi dan Yayuk Basuki pada 1990.

Rifky Ardiansyah Arrosyiid menjadi karateka Indonesia pertama yang mampu meraih emas sejak Asian Games Bangkok 1998. Menariknya, emas 20 tahun lalu itu juga didapatkan dari nomor Kumite 60 kg Putra melalui Arif Taufan Syamsuddin.

Menpora Imam Nahrawi memastikan bahwa pemerintah telah menyiapkan bonus sebagai bentuk apresiasi. Peraih emas perseorangan mendapatkan 1,5 miliar Rupiah, pasangan ganda mendapatkan 1 miliar Rupiah per-orang, sedangkan yang tampil beregu mendapatkan 800-900 juta Rupiah per orang.

Belum ada nominal pasti untuk peraih perak dan perunggu. Namun, jumlahnya dipastikan meningkat dibandingkan ketika Asian Games Incheon 2014, demikian Siaran Pers Kemenpora yang diterima transtipo.

“Bonus bukan hanya diberikan kepada atlet, melainkan juga pelatih. Bonus akan cair setelah Asian Para Games, dikirim langsung ke rekening masing-masing dan tidak dipotong pajak. Kami turut menyiapkan penghargaan bagi cabor-cabor yang melampaui target,” tegas menteri asal Bangkalan, Madura ini.

Selain bonus uang, setiap peraih medali juga akan diangkat sebagai PNS dan mendapatkan rumah.

Menpora berharap capaian prestasi gemilang dan infrastruktur-infrastruktur kelas dunia yang telah dibangun dapat mendorong masyarakat untuk lebih rajin berolahraga.

“Asian Games telah menyatukan kita semua. Semangat sportivitas, kekeluargaan, persahabatan, budaya mengantri, hingga menjaga kebersihan lingkungan tersebar ke seluruh lapisan masyarakat,” ucap Menpora Imam Nahrawi.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR