Pj. Gubernur Sulbar Irjen Pol Carlo B Tewu (tengah) bersama rombongan dari Kemenhub RI dan OPD Dishub Sulbar sedang meninjau Pelabuhan Belang-belang, Mamuju, Sabtu, 4 Maret 2017. (Foto: Farid)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Republik Indonesia, Agus Santoso, melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) dengan meninjau Bandar Udara Tampa Padang, Mamuju, Sabtu, 4 Maret 2017.

Pj. Gubernur Sulawesi Barat Irjen Pol Carlo B Tewu saat menerima rombongan dari Kemenhub RI ini mengharapkan, kiranya keterbatasan pelabuhan dan Bandar udara di Sulawesi Barat (Sulbar) dapat diberdayakan secara maksimal. Agus Santoso kemudian menjawab Gubernur Sulbar itu dengan mengatakan, akan menyampaikan harapan itu kepada Menteri Perhubungan RI demi terwujudnya pertumbuhan perekonomian Sulbar ke depan.

“Apabila pelabuhan ini bisa diberdayakan, peningkatan pertumbuhan ekonomi seluruh komoditi Sulbar akan lewat di sini,” kata Gubernur Sulbar yang juga Deputi V Bidang Kamtibmas Kementerian Koordinator Polhukam RI Irjen Pol Carlo B Tewu. Lanjut Carlo, Sulbar merupakan provinsi yang masih muda, dan masih banyak potensi yang belum digali, salah satunya adalah Pelabuhan Belang-belang.

Apabila pelabuhan ini terkelola dengan baik maka akan dapat menunjang peningkatan pendapatan daerah dan masyarakat. Sekadar diketahui, kata Carlo Tewu, seluruh komoditi yang ada di Sulbar akan melalui pelabuhan ini.

“Selama ini komoditi yang ada di Sulbar keluar dari pelabuhan-pelabuhan tetangga provinsi kita, dan kita tidak mendapatkan retribusi dari situ. Oleh karena itu, agar peningkatan pendapatan daerah kita bisa meningkat, pelabuhan ini akan kita berdayakan agar komoditas Sulbar keluar-masuk lewat pelabuhan ini,” urai Carlo B Tewu.

Tak hanya itu, Gubernur Carlo juga bilang, kondisi Terminal Bandara Tampa Padang saat ini—sesuai  penilaian Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub—masih sangat memprihatin sehingga perlu ditingkatkan. Untuk itu, dirinya selaku kepala daerah telah programkan peningkatan terminal bandara agar Bandara Tampa Padang dan Bandara Sumarorong, Mamasa, bisa lebih representatif.

“Tadi ada pembicaraan khusus dan beliau sudah menjanjikan akan memberikan dukungan yang signifikan terhadap provinsi ini untuk melakukan pembenahan-pembenahan itu,” beber Carlo. Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Agus Santoso, pada kesempatan itu menyampaikan, kunjungannya ke daerah-daerah—termasuk ke Sulbar—merupakan penugasan langsung dari Menteri Perhubungan RI.

Agus Santoso bilang, “Selain melakukan operasi lapangan, kita juga ingin mendapatkaan inspirasi langsung dari berbagai daerah, ya, terkait kendala-kendala apa saja yang dibutuhkan di berbagai daerah. Hal itu tak bisa diselesaikan di tempat saja, tapi harus lakukan peninjauan ke daerah-daerah agar melihat kondisi rill suatu daerah itu, seperti apa dan bentuk tanggapannya, itu bisa dibicarakan secara bersama-sama.”

Agus tambahkan, dibutuhkan suatu konektifitas yang nyata antara suatu daerah dengan daerah lain. Tidak boleh ada sekat, dan harus kontinyu dalam memberikan pelayanan transportasi. Apalagi, sesuai dengan penyampaian Pj. Gubernur Sulbar, potensi Provinsi Sulbar sangat bagus. “Tadi pak Gubernur Sulbar bilang 2k, yaitu konektifiti dan kakao. Hal ini merupakan komoditas yang potensial dikembangkan,” kata Agus.

Pj. Gubernur Sulbar Irjen Pol Carlo B Tewu (dua dari kanan) didampingi Kepala OPD Dinas Perhubungan Sulbar Drs. H. Khaeruddin Anas, M.Si (dua dari kiri) sedang beri penjelasan kepada Dirjen Perhubungan Laut Kemenhub Agus Santoso (kiri) di Pelabuhan Belang-belang, Mamuju, Sabtu, 4 Maret 2017. (Foto: Farid)

Terkait komoditi kakao Sulbar yang selalu melewati pelabuhan di Sulsel, Agus menganggap jarak Sulbar dan Makassar, Sulsel, terlalu jauh. Untuk itu, demi pengembangan hal itu, akan segera mengambil langkah agar jalur transportasi komoditi nantinya melalui Pelabuhan Belang-belang, Mamuju, Sulbar.

“Hanya saja, Pelabuhan Belag-belang masih banyak keterbatasan, salah satu kendala belum ada restefer atau pengangkut barang. Jika pelabuhan ini sudah punya restefer maka produksi kakao sudah dapat dikatakan produk hasil Sulbar sendiri,” jelas Agus Santoso. Advertorial

FARID/HUMAS PEMPROV SULBAR

TINGGALKAN KOMENTAR