Eva Musdalifah (tengah), kontraktor belia di Bumi Tipalayo. (Foto: Burhanuddin HR)

Jangan dikira seorang gadis—perempuan muda—yang menawan pula tak mampu bekerja di bidang konstruksi, yang lazimnya pilihan para lelaki.

TRANSTIPO.com, Polewali – Masih terbilang muda, jika dilihat dari umurnya yang baru beranjak usia dewasa, 23 tahun. Dia terlahir di Polewali, Polman, tepat 1 Mei 1994.

Namanya Eva Musdalifah. Putri pertama pasangan Haji Suaib dengan Hajjah Muly. Haji Suaib adalah seorang kontraktor di Polman. Entah mengapa—atau hanya Suaib dan Eva sendiri yang tahu—profesi bidang konstruksi bangunan, jalan, dan jembatan menurun pada si jelita berzodiak Taurus ini.

Kru laman ini—di Polewali—sengaja menghampiri Eva beberapa hari lalu ketika sedang mengawasi sebuah proyek yang dikerjakannya, bersama Ayahnya tentunya, di Jalan Pacuan Kuda atau di Area Sport Centre, Madatte, Polewali.

Ketika itu, Eva bersedia dipotret. Dia tak sendiri. Kedua sobat karibnya ini yang mengapitnya—seperti yang tampak pada gambar di atas—sehari-harinya adalah staf di Dinas PUPR Pemkab Polman. Tampak jelas bila Eva berada di tengah, dengan seragam a la ‘kontraktor’ tentunya.

Di kala waktu luang, Eva kerap kali mangkal di sebuah warung kopi, masih di bilangan Pekkabata, Polewali, atau tak jauh dari Hotel Bumi Raya. Beberapa waktu lalu, di warkop itulah Eva melayani sepintas pertanyaan kru laman ini.

“Saya alumni STIM Nitro Makassar Om,” katanya membuka obrolan ringan saat itu. Selepas dari bangku kuliah di perguruan tinggi itu, dia memilih pulang kampung. “Saya memilih membantu orang tua menjalankan pekerjaannya. Selain menangani administrasi juga sesekali turun memantau pekerjaan di lapangan, seperti yang Om saksikan tempo hari,” kisah Eva, polos.

Jiwa besar Eva patut diacungkan jempol. Meski tingkat kedesiplinannya dalam mengendali persuratan usaha konstruksi keluarganya, tapi bukan berarti dia tak punya waktu untuk bersantai.

Dia mengaku, “Saya hobi jalan-jalan dan ngumpul sama teman-teman.” Itu pertanda kesahajaannya adalah pengobat ketat dan kerasnya berdikari di bidang yang identik dengan sederetan obyek yang “keras”: besi, semen, pasir, mesin ‘penggiling’ tanah dan bebatuan, juga linggis.

Soal jalan-jalan, dia tak bakal kerepotan. Dengan sebuah Honda Jazz abu-abu pekat akan selalu setia mengantarnya ‘berpelesir’ di jalan-jalan di Bumi Tipalayo ini—sebutan lain dari kota Polewali.

Gadis penyabar ini sungguh tak abai perihal kesetiakawanan dan toleransi. Nilai baik itu ia pupuk sedemikian rupa, sebab bagi Eva, “Berteman itu adalah pengobat jiwa-jiwa yang hampa. Juga penyemangat untuk maju.”

Pilihan berdikari menjadi bagian penting dari dunia konstruksi atau umum disebut sebagai kontraktor, adalah ‘kebetulan’ yang alamiah dan itu pula panggilan nuraninya.

“Saya ingin fokus di dunia konstruksi Om. Ini profesi Ayah selama ini. Jadi sebagai anak pertama dari empat bersaudara, tentulah wajar jika saya meneruskan aktivitas orang tua saya, meski masih perlu belajar banyak seputar bidang ini,” katanya, mengurai.

Jikalau pun terpaksa harus memakai sepatu boots karet—atau sepatu laras hingga menutupi betis—ketika turun mengecek proyek di tempat berlumpur, Eva tak canggung atawa gengsi, apalagi malu.

Anda bisa bayangkan Eva memakai seragam begitu, ditambah topi ‘koboi’ di kepala ketika sedang di lapangan. Canda dan tawa sudah biasa baginya. Senda gurau di tengah para pekerja—atau kolega misalnya—adalah tempat teramat indah di dunia kontraktor.

Keterbukaan Eva Musdalifah seolah tak terukur. Bahkan, nomor ponsel pribadinya pun direlakan ditulis di sini.

BURHANUDDIN HR

TINGGALKAN KOMENTAR