Murid-murid SD di Desa Pirian Tapiko, Kecamatan Tutar, Polman, Sulbar. Mereka tengah berjalan di tengah gelapnya malam menuju ke sekolah. (Foto: Ist.)

TRANSTIPO.com, Polewali – Andi Sura Muhlis, seorang Guru SD—warga transmigran—di Desa Pirian Tapiko, Kecamatan Tutar, Polman, Sulbar, pantaslah ia gembira saat ini.

Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-89, 28 Oktober 2017 lalu, ia dapat penghargaan. Penghargaan ia dapat lantaran ia keluar sebagai Juara III tingkat nasional.

Kementerian Pemuda dan Olahraga RI memang pernah mengadakan lomba guru marjinal khusus bagi guru sekolah di pedalamanan seluruh Indonesia.

Setelah penjaringan di tingkat Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), Andi Sura Muhlis keluar sebagai juara dan berhak mewakili provinsi ini berlomba di tingkat nasional.

Hasilnya, ia mentok di posisi ketiga hasil verifikasi dari kementerian kepemudaan itu. Tepat di Hari Sumpah Pemuda lalu, guru Andi Sura dapat reward, penghargaan.

Murid-murid SD di Desa Pirian Tapiko, Kecamatan Tutar, Polman, Sulbar. sedang baris-berbaris di ruang belajar sebelum pelajaran di mulai, di malam hari. (Foto: Ist.)

Prestasi guru sekolah dasar ini dinilai telah berhasil mengajarkan pendidikan karakter kepada murid-muridnya di sekolah.

Keberhasilan guru Andi Sura ini diterangkan oleh Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Polewali Mandar (Polman) Muhammad Sabir di Polewali, Senin, 30 Oktober 2017.

“Saat ini Andi Sura Muhlis masih di Jakarta. Ia diundang mengikuti upacara Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober di Istana Negara,” kata Muhammad Sabir kepada Burhanuddin HR, kru transtipo.com di Polewali.

Menurut lelaki yang pernah aktif di KNPI Polman ini, program pemilihan Guru sekolah marginal ini, tiap tahun dilaksanakan oleh pusat, dan di 2017 ini Guru kami di sebuah desa terpencil—salah satu SD di kawasan transmigrasi—meraih juara.

Hal itu, kata Muh. Sabir, setelah melewati seleksi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulbar, Andi Sura Muhlis kemudian dinyatakan sebagai pemenang lomba.

Muh. Sabir bercerita, Guru Andi Sura mendidik anak-anak sekolah yang 100 persen dari kalangan petani. Ia mengajar dengan berbagai metode, salah satunya mendongeng.

Ia juga kerap mengajak atau mengajar anak didiknya di alam terbuka. Metode ajaran tambahan yakni belajar game anti korupsi. Baca puisi juga tak disepelekan. Bahkan, dari mereka sudah ada yang juara baca puisi dalam pelbagai lomba di Polman. Juga di cabang olahraga, bola voli mini misalnya.

Jadi, jangan pernah minder sekolah, meski harus belajar dalam ruang bangunan dengan hanya pakai atap daun rumbia.

Dengan itulah—mungkin—oleh pihak kementerian di Jakarta itu mengganjarnya juara—dan dengan hadiah lumayan prestisius tentunya.

Kisah Andi Sura, cerita Muh. Sabir, di sekolah Andi Surah itu, terdapat 45 orang siswanya yang saban hari harus merintangi hutan rimba, menaklukkan seluk belukar dengan segala onak dan duri ketika berangkat ke sekolah.

Ini setiap hari ya. Pulangnya begitu pula. Tak terbayang sulitnya, sekaligus pula inilah semangat gigih dari anak-anak Indonesia yang hendak merengkuh cita-cita mereka.

Andi Surah Muhlis, Guru SD di Desa Pirian Tapiko, Kecamatan Tutar, Polman, Sulbar. Juara III Guru Marjinal Tingkat Nasinoal 2017. (Foto: Ist.)

Tunggu dulu. Jangan dikira proses belajar mengajar ini di siang hari, bukan: di malam hari. Anak-anak didik Guru Andi Sura ini belajar dengan lampu pelita—alat penerang tradisioal menggunakan minyak tanah dengan sebuah wadah, biasanya dari kaleng susu bekas, lalu dipasangi sumbu.

Niat dan tekad para murid-murid ini tinggi nian. Sebab dari mottonya hal itu bisa ditahu: Hidup berkualitas adalah ketika cahayamu mampu menyelamatkan satu kehidupan, mesti hanya seterang pelita di sudut kehidupan.

Mereka—si bocah ini, anak murid Andi Sura—ingin berhasil. Motto berikutnya: Biarlah sunyi mengantarku tapi yakin harapan akan menjemputku.

Dua penggalan motto di atas tentulah lahir atau terlitas dari benak sang guru, Andi Sura Muhlis. Kini, ia masih berstatus tenaga kontrak di kantor Disdikpora Polman, Sulbar.

BURHANUDDIN HR/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR