Mas'ud Saleh (tengah) dan Wawan Darmawan. Kedua pemuda Mandar ini kini telah bermukim di Jakarta untuk 'sementara'. Kelak keduanya akan kembali ke kampung halamannya, di Polman, Sulbar, untuk 'mengabdikan' ilmu dan pengalamannya selama di rantau: tanah Betawi, Jakarta. (Foto: Burhanuddin HR)

TRANSTIPO.com, Polman – Apa jadinya jika dua sosok pemikir yang telah bermukim di Jakarta lalu bertemu di kampung halaman? Perbincangannya pastilah seru. Ada bangunan dialektika dan retorika yang aduhai. Informasi pun mengalir dari sumber yang terpercaya.

Begitulah kiranya jika anak muda Polewali Mandar ini sekali waktu pulang kampung. Ia seolah akan selalu ‘jadi narasumber’ di mana pun dia duduk. Dan apa pun yang dibincangkan, akan selalu menarik bagi pendengarnya. Terutama yang selama hidupnya tak pernah beranjak dari ‘kampung halaman’.

Siapa dua sosok pemikir muda Mandar yang dimaksud itu? Yang satu adalah Mas’ud Saleh. Lelaki kelahiran Mambu, Polman, ini hari-harinya aktif sebagai sekretaris khusus di Kantor DPD RI. Yang satunya lagi Wawan Darmawan. Dia kelahiran Renggeang, Limboro, Polman, ini bertugas sebagai perwakilan Polman di Jakarta.

Keduanya, pada Selasa, 15 November 2016 lalu, bertemu di Warkop A Tong, Jalan Todzilaling, Pekkabata, Polman.

Kiprah keduanya selama di Jakarta digali oleh Sekretaris Gapensi Sulbar Ma’mun Mustafa. Makmun mengorek ilmu pengetahuan kedua tokoh muda ini.

“Keduanya merupakan pemikir cerdas. Dia aset Polman dan Sulbar,” kata Ma’mun Mustafa. Ma’mun—yang sesungguhnya juga pemikir Mandar yang ‘tersembunyi’—mengatakan kepada transtipo.com, kedua tokoh muda ini perlu kita pelihara baik.

“Kalau saja beliau-beliau ini masih di Jakarta, itu adalah tahapan study dan pembelajaran serta study banding sebagai jam terbang dalam menggali potensi dari luar untuk wilayahnya ke depan. Kami berharap banyak pada kedua tokoh pemikir kelahiran tanah Mala’biq Mandar ini, masa depannya sudah tak perlu diragukan. Sebagai pemuda potensial Indonesia yang nantinya akan memajukan kawasan barat Indonesia,” puji Ma’mun Mustafa.

BURHANUDDIN HR

TINGGALKAN KOMENTAR