Paspampres Sertu CPM Taufik Akbar (kanan) bersama Muhammad Munir, pejuang Literasi Mandar, Sulawesi Barat. (Foto: Ist.)

TRANSTIPO.com, Tinambung – Mungkin jika mencari siapa sosok Taufik Akbar di situs Paspamres, boleh-boleh saja namanya tak terlacak. Sebab google hanya akan mengenalkan kita pada narasi Paspamres atau Pasukan Pengamanan Presiden sebagai satuan pelaksana di lingkungan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang personilnya berasal dari prajurit pilihan seperti, Kopassus, Raider, Kostrad, Marinir, Yontaifib, Denjaka, Kopaska dan Kopaskhas, DAN Den Bravo 90.

Manusia-manusia ini adalah prajurit yang terbaik dari segi fisik, mental, inteligensi dan postur yang bertugas menjaga keamanan Presiden Republik Indonesia beserta keluarga.

Sejarah mencatat, pasukan ini lahir bersamaan dengan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, seperti halnya dengan kelahiran TNI dan Polri.

Saat Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan, terlihat adanya para pemuda pejuang yang berperan mengamankan Presiden. Para pemuda yang berasal dari kesatuan tokomu kosaku tai berperan sebagai pengawal pribadi, dan para pemuda eks PETA (Pembela Tanah Air) berperan sebagai pengawal Istana.

Paspamres ini bertugas dengan sistim grup dan bergiliran. Mulai dari pengamanan instalasi, tamu negara sampai pengaman mantan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.

Disanalah Taufik Akbar dipertemukan dengan takdirnya, yang ternyata merelokasi nasibnya dari anak kampung Galung Lombok, Tinambung, Polman, ke sudut-sudut dan ruang Istana Presiden, di Jakarta.

Lelaki kelahiran Galung Lombok 1975 ini sungguh tak pernah menyangka kalau ternyata ia akan berada dekat dengan lingkungan Istana kini.

Menjadi Mandar dimanapun berada adalah karakter yang selalu ia jaga. Beberapa momentum bersejarah tentang Sulawesi Barat ada dalam memori anak muda ini, sebab ia salah satu dari orang yang ikut mempermudah KAPP Sulbar menghadap ke Presiden Gusdur, terutama di era Megawati Soekaroputri.

Peran yang membuatnya cukup bahagia menjalankannya adalah saat Megawati Soekarno Putri berkunjung ke Polewali Mandar pada 26 Juni 2004. Kunjungan Presiden kali pertama ini dalam rangka mengikat emosi orang-orang Mandar untuk bangga menjadi Mandar, sebab Megawati sudah bulat untuk menandatangani Ampres Pembentukan Propinsi Sulawesi Barat.

Presiden Megawati saat diberi gelar kehormatan Puang Megawati Indo Banua melalui kesepakatan sesepuh Mandar dan ritual sakral menginjak telur menjadi berkah bagi perjuangan Sulbar.

Taufik ada saat itu—di sisi presiden. Bahkan terlalu dekat dengan sosok penentu lahirnya Sulbar. Dalam benaknya tentu sangat bahagia sebab kampung halamannya tak lama lagi akan terbentuk sebagai provinsi ke-33 di negeri ini.

Berbagga pun bukan suatu yang salah, sebab sebagai pengawal presiden ia telah ikut menancapkan mutiara bagi lahirnya perubahan di lita’ Mandar. Selepas dari Mandar itulah, tepatnya 3 bulan kemudian, RUU Nomor 26 Tahun 2004 disahkan di Gedung DPR RI menjadi Undang-Undang.

Itu berarti Megawati Soekarnoputri telah menunaikan Mandarnya dengan Ma’asse’I Pau Tonganna. Akbar Taufik tak peduli perannya ditulis atau tidak, sebab Sulbar berdiri tak membuatnya bisa meninggalkan Istana. Terlebih saat SBY jadi presiden, ia bahkan menjadi satu-satunya putra Mandar yang sangat dekat dengan Presiden RI dua periode itu.

Segelas teh hangat dengan penganan kasippi’ menjadi saksi di sebuah rumah panggung di Desa Galung Lombok. Rumah mendiang Muhammad Yunus—seorang petani dan kusir bendi—dan Halima yang telah melahirkan seorang putra bernama Sertu CPM Taufik Akbar pada tahun 1975 ini.

Banyak hal yang kami bincang tentang proses kelahiran sampai aqiqah, namun dengan halus ia menampik untuk membincang hal lain. Hal sama ia lakukan saat mengorek keterangan tentang sosok paling dalam SBY yang tentu sangat ia pahami.

Berbincang dengan Akbar punya keasikan tersendiri. Ia familiar, santun dan tak menjaga jarak dengan siapapun. Putra bungsu dari 5 orang bersaudara ini meladeni kami saat bertandan ke rumah keluarganya dengan ramah.

Sekitar 2 jam kami habiskan diskusi model interview. Tentu banyak kisah inspiratif yang layak diketahui oleh khalayak, sebab menjadi Paspampres tentu bukan perkara mudah. Butuh proses panjang dan melelahkan untuk sampai di gerbang Istana Negara, yang penghuninya adalah manusia yang setiap saat nyawa Paspampres ini dipertaruhkan demi keselamatan Presiden.

MUHAMMAD MUNIR

TINGGALKAN KOMENTAR