Empat orang wanita sebagai PSK sedang ditahan sementara untuk diperiksa di Mapolsek Wonomulyo, Jumat, 6 Oktober 2017. (Foto: Burhanuddin HR)

TRANSTIPO.com, Polewali – Para penjaja seks komersial disingkat PSK. Di pinggiran kota Wonomulyo, Polman, Sulbar, terdapat sebuah rumah bordil, tempat yang digunakan untuk pelacuran atau prostitusi.

Di rumah bordil ini, pelacur dapat bertemu dan berhubungan seks dengan pelanggan mereka, para lelaki hidung belang tentunya.

Tempat melakukan kegiatan maksiat ini sudah berdiri sejak tahun 80-an. Sebetulnya rumah bordil ini sudah berkali-kali digerebek—bahkan dibongkar paksa—oleh petugas keamanan setempat, polisi dan satuan polisi pamong praja. Namun pengelolanya tak pernah jera.

Pada Jumat, 6 Oktober 2017, kemarin, sepasukan Satpol PP yang dikoordinir oleh Sekcam Wonomulyo Sulaeman Mekka dan polisi yang dipimpin oleh Kapolsek Wonomulyo Kompol Jufri Hamid gerebek para PSK lalu bongkar paksa rumah bordil itu.

Dalam penggerebekan ini, lima orang PSK dan tiga orang germo atau mucikari—penghubung, pengasuh, dan pemilik rumah bordil—diamankan dan digelandang ke Mapolsek Wonomulyo, di Kuningan, Desa Sumberjo.

Lima PSK itu antara lain, Dewi Parida (40) adalah warga Polewali, Irma Riana (27) asal Kalimantan, Ika (27) dari Bantaeng (Sulsel), Tiara (35) dan Ani (27), keduanya datang dari Jeneponto, Sulsel.

Sementara dari tiga orang germo itu, dua di antaranya sudah penyedia lama PSK, yakni Hj. Saenal (60) dan Aris (51). Keduanya tinggal bertetangga rumah. Germo yang satu lagi masih pendatang baru.

Mereka menyewa rumah bordil itu dari Niar (41). Wanita ini berasal dari Ujung Baru, Kelurahan Sidodadi, Wonomulyo.

Dari keterangan Kompol Jufri Hamid saat ditemui di kantornya, mengatakan, “Saya Polsek baru di sini. Saya tidak mau lihat ada kompleks rumah bordil atau gubuk derita beroperasi lagi.”

Sebelum Jufri, sebetulnya sudah pernah warga bersama Polsek Wonomulyo segel lokasi tempat pelacuran itu. Namun menurut informasi warga, mereka pintar main kucing-kucingan.

Awalnya memang—setelah ditutup—sepi, namun penyedia jasa dan pencari wanita penghibur ini pakai cara canggih. Mereka mula-mula bertransaksi melalui handphone (HP).

Dan, lama-kelamaan tampak benderang lagi. Kemudian, atas informasi warga setempat, Kapolsek Wonomulyo segera turunkan pasukan yang dibantu Satpol PP. Rumah bordil ini agak gampang diseruduk sebab tak jauh dari terminal angkutan darat Wonomulyo.

Salah seorang anggota Satpol PP Wonomulyo, Wahyudi Towe, mengatakan penyakit masyarakat ini susah kita atasi karena tidak ada tempat pembinaan.

“Kita tangkap lepas lagi, eehhhh berbuat lagi. Yang begini hampir 100 persen karena desakan ekonomi. Jadi kami mohon kepada pemerintah, khususnya dinas sosial, agar bisa ada tempat pembinaan buat PSK ini agar bisa bertobat,” kata Wahyudi alias Yudi atau akrab disapa Ambo.

BURHANUDDIN HR

TINGGALKAN KOMENTAR