Muh. Zakir Akbar (kiri) bersama Andi Ibrahim Masdar, di Polewali Mandar (awal 2017). (Foto: Net.)

Polewali Mandar masuk daerah tertinggal hanyalah judul, mungkin, yang dimaksudkan Andi Ibrahim Masdar adalah salah satu cara sebuah daerah dengan status begitu agar bantuan dari “sana” bisa “menetes ke sini”. Atau, entahlah.

Apa pun namanya itu, “nasib” warga Polewali Mandar secara tak langsung “berada” di tangan pemimpinnya.

Jika jumlah angka warga miskin tak bergerak turun saban tahun—dalam bilangan statistik tentunya—maka seorang pemimpian daerah belumlah layak disebut berhasil.

Redaksi  

TRANSTIPO.com, Polewali – Musim kampanye di Pilbub Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, masih berlangsung hangat. Jika tak ada aral, pada 27 Juni 2018, hari H Pilbub atau Pilkada berlangsung—serentak di 171 daerah di Indonesia.

Masing-masing pasangan calon Bupati–Wakil Bupati Polewali Mandar, yakni pasangan calon (Paslon) Salim S. Mengga-Marwan (Paslon 1) dengan pasangan calon (Paslon) Andi Ibrahim Masdar-HM Natsir Rahmat (Paslon 2) rutin turun berkampaye sesuai jadwal yang telah ditetapkan penyelenggara Pemilu/Pilkada yaitu KPU Polewali Mandar.

Pada Kamis, 5 April 2018, kemarin, giliran paslon Andi Ibrahim Masdar-HM Nasir Rahmat yang melakukan kampanye dialogis di Desa Segerang, Kecamatan Mapilli, Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Di hadapan warga yang hadir dalam kampanye Pilkada itu, Andi Ibrahim Masdar—biasa disapa AIM—mengatakan bahwa Polewali Mandar masuk daerah tertinggal itu hanya judul.

AIM jelaskan maksud kalimatnya itu, dalam sebuah rapat kerja nasional di Jakarta, Presiden Jokowi menyampaikan kepada menteri-menterinya agar semua daerah yang masuk daftar daerah tertinggal, mesti digenjot bantuan pemberdayaan.

“Itulah sebabnya saya tidak mau keluar karena saya sayang rakyat saya,” kata AIM.

Dalam logika, sebut AIM lagi, bandingkanmi kabupaten lain di Sulawesi Barat ini yang merasa maju.

“Apakah ada kabupaten di Sulawesi Barat ini—selain Polewali Mandar—memberikan insentif kepada Imam Masjidnya, gaji bilalnya, gaji guru ngajinya, dan 20 orang tiap tahun diumrohkan! Adakah kabuapten lain begitu di Sulawesi Barat?” sebut AIM.

Bahkan, katanya lagi dalam tanda tanya, adakah provinsi di Indonesia ada seperti ini? Masih katanya, adakah kabupaten lain di Sulawesi Barat—bahkan di Sulawesi Selatan—uunya Sport Center lengkap sarana olahraganya? Ada arena pacuan kuda, ada sirkuit balapan motor, ada kolam renang, lapangan voli dan futsal.

Lelaki yang kini berstatus incumbent dalam Pilkada kali ini, juga singgung perihal terkait pendidikan.

“Dari SD, SMP, hingga SMA dan sederajat semuanya sudah mendapatkan Wiyata Mandiri Nasional. Qari dan Qariah yang sudah berlabel nasional terbanyak dari Polewali Mandar,” aku AIM.

Begitu juga sarana untuk layanan kesehatan. Ia sebut, rumah sakit misalnya. “Kita di Polewali telah punya rumah sakit rujukan di Sulawesi Barat. Hampir semua dokter spesialis—semua penyakit—sudah ada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Polewali.” Lalu AIM bertanya, “Jadi di mana sisi tertinggalnya?”

Mantan Ketua DPD Partai Golkar Polewali Mandar ini bandingkan, jika Kabupaten Mamasa maju, apa yang ada di sana?

“Bisakah menjadi penyelenggara Porprov di Mamasa, atau Mateng dan Matra? Majene saja nebeng ke Polewali untuk sejumnlah cabang olahraga yang akan dipertandingkan di Pekan Olahraga Daerah Provinsi (Porprov) ketiga nanti. Ini yang dibilang Polewali Mandar tertinggal? Jadi itu cuma judul saja,” jelas AIM, berapi-api.

BURHANUDDIN HR

TINGGALKAN KOMENTAR