Pemilik kebun lada/merica di DesaPulliwa, Wonomulyo, Polman. Biasa dua kali panen raya jika musimnya. (Foto: Burhanuddin HR)

TRANSTIPO.com, Polman – Ketua Kelompok Tani Salu Andau Desa Pulliwa Kecamatan Wonomulyo ketika ditemui di Wonomulyo, Jumat, 30 September 2016, mengatakan ada kendala yang perlu penanganan serius bagi petani lada (merica).

“Jika seandainya Lada di desa kami tidak ada penyakitnya, maka para petani lada (merica) akan sejahtera,” kata Muliadi.

Kendala lainnya, tanaman ini sulit ditanam jika di area tempat menanam tak ada pelindung. Pasalnya, lada atau merica ini, jika mati satu pohon maka semuanya terancam mati.

“Ini yang kami takutkan karena sudah pernah terjadi. Jadi kami butuh penyuluhan,” kata Muliadi lagi.

Menurut Muliadi, tanaman lada ini harganya tinggi di pasaran. Ini bisa ditumpangsarikan dengan tanaman lain.

“Kita tanam di sela-sela pohon kakao sebab masa pertumbuhannya lama dan masa panennya lama. Hanya memang tanaman kakao akan terganggu karena kalau kita pupuk tanaman kakao, maka tanaman merica terganggu,” aku Muliadi, pusing.

Hal senada disampaikan oleh tokoh adat Pulliwa, Ridwan (Puanna Tion). “Selama kami budidaya tanaman lada (merica), gampang kita dapatkan uang. Saat panen harga bisa mencapai di atas Rp 100 ribu perkilogram. Sekali petik kita biasa dapat 15 – 30 kg. Bisa panen raya dua kali sebulan,” kata Ridwan.

Menurut Ridwan, hanya saja tanaman ini manja. Kalau mati satu pohon, ketika pohon yang sudah mati kita pegang lalu kemudian kita pegang lagi yang lainnya (yang masih hidup) pasti ikut mati.

“Jadi kami biarkan merambah naik ke pohon pelindung (kayu gamal) atau pohon lainnya. Lada ini cukup menjanjikan. Makanya kami butuh penyuluh yang paham betul tentang tanaman ini,” tutup Punna Tion.

BURHANUDDIN HR

TINGGALKAN KOMENTAR