Aco Muktar, salah seorang kontraktor di Polman yang kini siap maju jadi calon Bupati Polman di Pilkada 2018. (Foto: Burhanuddin HR)

Dia pernah jadi caleg dari Partai Merdeka di Kabupaten Polman. Kini, Aco Muktar kembali siap bertarung di Polman.

TRANSTIPO.com, Polewali – Dulu, atau belasan tahun silam, sebuah kasus mencuat—dan ramai sekali diberitakan—di Kabupaten Polman, tepatnya di Kecamatan Mapilli.

Saking ramainya pemberitaan kala itu, sampai-sampai kru metrotv dari Makassar, Sulsel, ke lokasi itu untuk menyiarkannya.

Kasus tempo itu adalah saling klaim ‘kebenaran’ dan ‘tak layaknya’ bendungan itu dibuat. Bendungan dimaksud adalah Bendungan Sekka-sekka di Mapilli, Polman.

Bendungan yang mampu mengairi persawahan sekian ribu hektar sawah di beberapa kecamatan, seperti Kecamatan Mapilli, Kecamatan Wonomulyo, dan Kecamatan Campalagian itu, di kala itu diprotes keras ribuan warga.

Di saat itu, warga penolak proyek bendungan—yang difasilirasi Aco Masruddin Mogot, Ombeng, dan Aco Muktar—lantaran dianggap ‘menyerobot’ tanah milik warga. Dan, satu lagi—ini yang klasik—proyek besar itu dianggap tak ‘dilengkapi hasil kajian dan analisis dampak lingkungan (Amdal). Termasuk tuntutan ganti rugi atas lahan mereka.

Dan, dengan penurunan suhu desakan demo Bendungan Sekka-sekka itu, maka Bupati Polewali Mamasa (Polmas)—kini Polman—Hasyim Manggabarani (Pupati Polman periode 1998-2003) tentu mulai tenang.

Kala itu, dari 1999 hingga 2003, Polman betul-betul bajir demo, dari warga dan ‘pasukan’ Aco itu. Setelah itu, atau ketika soal demo dan Sekka-sekka sudah berlalu, Aco Masruddin kemudian masuk partai, dan tepatnya ia diamanahi pimpin Partai Merdeka Kabupaten Polman.

Lewat partai itulah Aco Muktar menjadi salah calegnya. Kini, mantan legislator ini jadi kontraktor—pengusaha konstruksi pelbagai jenis.

Ketika ditemui di Polewali, Selasa, 7 November 2017, Aco Muktar kembali hendak menantang arus. Katanya, pada perhelatan Pilbub Polman 2018, ia akan maju sebagai salah satu peserta Pilbub. Tepatnya, ia akan maju menantang petahana alias AIM.

“Masyarakat Luyo, tempat saya besar, mendorong saya agar ada wakil dari sana untuk maju bertarung. Soal kalah menang, kita serahkan kepada Tuhan,” kata Aco Muktar kepada Burhanuddin HR dari transtipo.com.

Aco tak jumawa. Terkait suara, hitung-hitungannya, “Insya Allah tidak akan mengecewakan karena ketika kita berjuang mendapatkan ganti rugi Sekka-Sekka, petani telah nikmati hasilnya hingga kini. Itu kenangan abadi yang tak terlupakan oleh petani-petani dari lokasi besar sekitar 4500 hektar lahan persawahan di Maloso kiri dan Maloso kanang.”

Sesekali ia menyeruput kopi hangatnya di Warkop A Atong, Pekkabata, Polewali sembari menjawab pertanyaan laman ini.

“Kita masuk menjadi pilihan alternatif rakyat Polman yang kini dalam kebimbangan dalam mengusung pemimpin di bumi Tipalayo Malabiq,” kata Aco dengan retorik yang ciamis.

Ia telah membaca peluang. Ia tak mau konyol, karena itu ia tegaskan, “Hari ini, Selasa, 7 November 2017, saya menyatakan diri ikut pesta demokrasi.”

Ketegasan Aco Muktar ini ia koreksi sendiri, “Tolong diganti melawan petahana yang masuk maju karena prinsip demokrasi.”

Di ujung perbincangan ini, Aco Muktar bilang, dari aktif sebagai kontraktor akan berubah menjadi aktifis lembaga aspirasi rakyat dalam Forum Pemuda Pemersatu Balanipa (FPPB).

BURHANUDDIN HR

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR