Haji Kosang (kiri) kini telah tiba di tanah Mandar. Selama 52 tahun merantau ke tanah Bangka, Sumatera. Keluarga Haji Kosang banyak di Desa Nepo, Tinambung, Polman, Sulbar. Gambar ini, Minggu, 29 Oktober 2017. (Foto: Ist.)

Ini bukan tentang Andrea Hirata, penulis novel Laskar Pelangi. Ini tentang kisah seorang lelaki Mandar yang ‘terdampar’ di Pulau Belitung, Bangka Belitung, Sumatera.

TRANSTIPO.com, Polewali – Kisah tentang situasi republik di masa silam. Indonesia belum reda betul dari pertikaian antarkelompok sipil bersenjata.

Tak sedikit pula perorangan atau sepasukan dalam kesatuan resmi tentara negara yang desersi, ikut menyeruakkan keributan di pelbagai daerah—dengan dalih aneka alasan. Dari hendak mendirikan ‘negara sendiri’ hingga menuntut keadilan dengan jalan memanggul senjata—lalu perang, sesama anak bangsa sendiri.

Tersebutlah salah satunya, tentang kelompok bersenjata DI/TII di Sulawesi. Di Kawasan barat Sulawesi, atau sebutlah daerah Mandar, DI/TII memanasi pergolakan dengan angkat senjata.

Dan, tengah tahun 1960 perang-perang di daerah baru saja usai. Kelompok “pemberontak” DI/TII baru saja kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi—Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tapi bagi Kosang, seorang lelaki di Dusun Balana Pucceda—kini Desa Nepo, Kecamatan Wonomulyo, Polewali Mandar (Polman)—tetap kukuh pada niatnya untuk meninggalkan tanah Mandar.

Kosang– 60-an tahun– hendak buang diri ke pulau seberang. Pulau yang dituju adalah Borneo—kini, Kalimantan. Kosang tak sendiri. Bersama 11 orang rekannya nekad mengarungi lautan dengan sebuah perahu.

Ketika itu Kosang masih berumur belasan tahun. Setelah berminggu-minggu di atas perairan, tibalah mereka di Pulau Kalimantan.

Peruntungan dalam bayangan Kosang rupanya tak lebih baik dari kondisi kampung halaman yang ditinggalkannya itu. Di masa itu, kawasan Borneo juga tak luput dari hingar-bingar kekacauan perang—bersenjata pula.

Melihat keadaan suram di pulau itu, Kosang memilih jalan untuk tidak kembali ke Mandar, namun berkat bantuan perahu nelayan, ia melanjutkan penyeberangan jauh ke Pulau Sumatera.

Hasrat mencari perlindungan dengan tujuan tak tentu arah yang pasti. Namun perahu nelayan tempat tumpangan Kosang mengakhiri pelayaran di Pulau Bangka Belitung—kampung pesohor milik cerita Andrea Hirata: Laskar Pelangi.

Ketika tiba di pulau tambang penghasil Timah itu, Kosang mengadukan nasibnya dengan mempertaruhkan hidupnya bekerja sebagai buruh kapal—ungkapan lebih kerennya anak buah kapal.

Kosang benar-benah hidup di tanah rantau nun jauh di sana tanpa seorang sanak famili pun. Segala upaya ia jalani untuk bertahan hidup.

Ia pergi begitu lama. Bahkan, akan logis tentunya jika separuh kerabat Kosang di Mandar telah “menguburnya dalam ingatan” jikalau ia masih hidup.

52 tahun kemudian—1965-2017.

Ameliani, paruh baya. Ia adalah salah seorang anak kandung Kosang. Berkat fasilitas internet, wifi, milik Kantor Camat Wonomulyo, Polman, sekali waktu Ameliani menulis status di akun facebooknya.

Chating itu ditambahi unggahan foto Kosang sendiri yang sebetulnya dimaksudkan sebagai pesan ke pulau seberang, tanah Mandar tercinta. Melalui facebook (FB) itulah, terjalinlah pertukaran nomor kontak.

Dari Bangka Belitung, sang Ayah Kosang kemudian menyambut telepon tanpa kabel dari Wonomulyo. Tak lupa berterima kasihlah kepada Muhammad Fahlevi, staf bidang IT di Kantor Camat Wonomulyo, Polman. Dari lelaki inilah yang mengontak Ameliani dan Kosang.

Dari inisiatif Fahlevi inilah sehingga mulai terjalin hubungan antara Mandar dan Bangka Belitung. Jangan lupa pula peran fasilitas IT milik kantor Camat Wonomulyo penuh hikmah.

Percakapan langsung pertelepon kepada Kosang juga pernah dilakukan oleh Rudi, Imam Masjid di Dusun Balana Pucceda, Desa Nepo. Dari Rudilah yang memberi kabar kepada kakak dan adik Kosang yang bernama Kamur dan Musa tentang update keadaan Kosang di Bangka.

Singkat cerita. Pada Minggu, 29 Oktober 2017, sebuah undangan datang dari Desa Nepo. Yang dituju adalah Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Wonomulyo Sulaeman Mekka, Muhammad Fahlevi, Wahyudi (anggota Satpol PP Kecamatan Wonomulyo).

Mereka diminta untuk silaturahmi ke Nepo sebab Kosang bersama dua orang anaknya telah tiba di kampung itu. Setelah transit di Bandara Cengkareng, Banten, Kosang lalu turun di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, Sulsel.

Ameliani—puteri Haji Gosang—saat berbincang dengan Muhammad Fahlevi yang disaksikan oleh Kades Nepo bersama adik Kosang, Kamur dan kakak Kosang, Musa serta Sekcam Wonomulyo Sulaeman Mekka. Turut hadir kru transtipo.com—Burhanuddin HR, Wonomulyo, Minggu, 29 Oktober 2017. (Foto: Ist.)

Kosang hanya bisa menggerakkan mulutnya dan tampak kaku seraya menitiskan air mata tatkala ia melihat penjemputnya dari Mandar—yang tak lain adalah kerabat dekatnya.

Yang berkelebat di benak Kosang adalah, ia kini telah kembali, setelah 52 tahun pergi jauh.

Sedikit fakta di Bangka Belitung

Kosang tinggal di Desa Kacang Getor, Kecamatan Benkor, Bangka Belitung. Rumah Kosang jaraknya tak jauh dari Stasion relay TVRI di Jalan Gunung Tajam. Selama di Bangka Belitung, Kosang telah punya delapan orang anak dan sudah bercucu.

Ameliani dan Fitri—anak Kosang—bercerita kepada laman ini, “Puluhan tahun saya berusaha mencari keluarga bapak di Mandar. Alhamdulillah, kini perjuangan saya tak sia-sia.”

Pada suatu waktu tempo dulu, Ameliani sempat bilang, “Saya yakin suatu saat keluarga bapak di Mandar saya temukan karena pernah ada hubungan dari Mandar dengan Bangka Belitung.”

Keyakinan Ameliani diperkuat dengan kiriman foto dari Mandar, “Dan, foto ini saya simpan baik-baik dan hari ini saya bawa.” Ia yakin, “Empat saudara bapak saya di Nepo yakni paman Musa, Kamur, dan seorang tante.”

Kini, cerita Ameliani, “Saya sudah ketemu di desa ini.” Ia sangat bersyukur. “Alhamdulillah,” katanya singkat.

Sekcam Wonomulyo Sulaeman Mekka mengaku pada laman ini, lewat wifi di Kantor Camat Wonomulyo ini sudah tiga keluarga kami pertemukan.

“Pertama seorang warga Campurjo. Kedua, warga Sidodadi yang terpisah dengan keluarganya selama puluhan tahun. Dia di Mandar dan keluarganya di Pulau Jawa,” kata Sulaeman Mekka kepada Burhanuddin HR.

Nah, yang ketiga, sebut Sulaeman lagi, “Inilah keluarga Haji Kosang.” Dengan bangga Sulaeman bilang, “Saya bersyukur kami bisa pertemukan satu keluarga besar yang terpisah selama puluhan tahun.”

Benar. Kosang dan keluarga kecilnya telah bermukim di pulau “Laskar Pelangi”—Bangka Belitung—sementara keluarga besarnya tinggal di Mandar.

“Untuk itulah pengadaan wifi di kantor camat perlu terus diadakan dan dianggarkan karena fungsi sosialnya sangat berarti. Komunikasi lewat media siber—seperti maunya zaman kini—adalah kebutuhan, bukan sekadar gaya,” kata Sulaeman Mekka, menyudahi perbincangan singkat ini.

BURHANUDDIN HR/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR