Sertu CPM Taufik Akbar. (Foto: Ist.)

TRANSTIPO.com, Tinambung – Muhammad Yunus yang akrab disapa Pua Matia ini tak akan pernah menyangka akan memiliki anak yang bisa dengan bebas mengikuti rangkaian peristiwa yang terjadi di negeri ini.

Pua Matia hanyalah seorang petani biasa yang setiap hari pasar berprofesi sebagai kusir bendi. Ia hanya punya mimpi bisa menafkahi anaknya dan menyekolahkannya dengan layak.

Impian dan kerja kerasnya tersebut tidak sia-sia, sebab dari 4 anaknya yakni: Rahmatia, S.Pdi, kini menjadi guru dan kepala sekolah, tinggal di Matakali; anak keduanya bernama Husni juga mandiri di Pasangkayu; terus Yusuf, S.Pd. Adalah anaknya yang ketiga dan sekarang jadi Kepala UPTD Kecamatan Bua Lemo Kabupaten Luwuk Banggai; dan anak bungsu yang bernama Taufik Akbar ini yang berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya.

Taufik Akbar memupuk impiannya itu dengan baik. Ia mengenal bangku sekolah dasar di SD 018 Galung Lombok. Lanjut ke SMP Negegri 1 Tinambung dan setelah selesai di SMA Majene pada tahun 1995, ia berangkat ke Makassar dan mendaftar masuk tentara tapi saat itu belum lulus.

Ketika ia mendaftar kembali pada tahun 1996, kali ini lulus. Setelah dinyatakan lulus, Taufik mengikuti pendidikan militer di Malino selama 4 bulan dan memeroleh peringkat rangking 2.

Waktu itu Mayjend TNI Agum Gumelar sebagai Pangdam VII Wirabuana. Selesai di Malino, tahun 1998 kembali ikuti pendidikan di PUSDIKPOM Cimahi Bandung selama 3 bulan. Usai dari Cimahi, ia ikut seleksi Paspamres pada tahun 1999 dan diterima. Ia kemudian kembali ikut pendidikan di Lawang Gintung selama 3 bulan.

Bagi Taufik, mimpinya menjadi tentara sesungguhnya tertanam sejak kecil. Dan pada suatu ketika di Majene, ia terlibat balapan liar yang langsung dibubarkan oleh petugas dari kesatuan POM.

Tentara PM yang datang berbaret, kostum loreng terlihat begitu gagah di matanya. Impiannya semakin kuat dan tak ingin melepas mimpi itu setelah tamat SMA di Majene.

Capaian ini tentu sangat membanggakan dan tak semua orang yang punya kesempatan. Menjadi pengawal pribadi presiden mulai Megawati dan makin terasa intim dengan SBY.

Ia bahkan punya kesempatan berkeliling dunia bersama orang nomor satu di Indonesia tersebut. Diantara negara yang sempat ia kunjungi, antara lain Brasil, Ekuador, Paris, Amsterdam, Inggris, Amerika, Belanda dan kota-kota lain yang pernah dikunjungi oleh Presiden SBY.

Ternyata memang prestasi akademik tidaklah menjadi satu-satunya jalan untuk sukses. Taufik nyaris tak punya prestasi gemilang di sekolah, selain menjadi ketua kelas sejak kelas satu sampai kelas enam. Ia bahkan pernah dihukum oleh kepala sekolahnya lantaran kenakalannya.

Kenakalannya juga cukup cerdik dan tergolong berani sebab dilakukan kepada gurunya sendiri. Saat itu ia menempel kaca cermin di sepatunya. Sepatu dengan cermin itu ia gunakan untuk mengintip sisi paling vital dari seorang gurunya di sekolah.

Ia juga kerap mengarahkan pantulan matahari dari cermin itu ke teman-temannya. Gurunya yang cewek tersebut tentu merasa malu dan menangis lantaran ia dijailin sama Taufik.

Gurunya itu menangis sejadi-jadinya sampai 10 hari lamanya. Hal ini kemudian diketahui pihak kepala sekolahnya yang ia ingat namanya, Hj. Sitti Ada.

MUHAMMAD MUNIR

TINGGALKAN KOMENTAR